Usai Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya 1998, maka
berakhir pula kewajiban stasiun TV memutar film Pengkhianatan G 30 S/PKI,
pada malam 30 September dan pagi 1
Oktober 1965 di Jakarta.
Atas dalil menghormati tujuh jenderal besar yang tewas saat
peristiwa tersebut, film ini dapat dikatakan kesuksesan Soeharto untuk
memberikan kesan bahaya partai bernama komunis.

Selama itu pula
kebenaran sejarah menjadi tunggal, yakni versi Orde Baru (Orba).
Berakhirnya Orba, apakah diikuti pula terkuaknya kebenaran
tentang PKI? Sejumlah kalangan mencoba menguak
kembali sejarah kelam bangsa Indonesia. Namun, guna mengukapnya bukan perkara
mudah.
Nyatanya, seorang akademisi John Roosa sempat merasakan
bukunya berjudul "Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta
Suharto" dilarang terbit. Namun, akhrinya terbit juga.
Mungkinkah film
'Jagal' atau 'The Act of Killing' mengalami hal serupa. Soalnya, film
dokumenter bercerita tentang peristiwa pembantaian anggota dan simpatisan PKI
bersama etnis Tionghoa dari sudut pelaku, yang telah dibuat sejak tahun lalu
hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.

"Kami ingin Anda memutarnya, membicarakannya,
menyebarkannya kepada teman-teman di seluruh pelosok Nusantara. Kami
bekerjasama selama tujuh tahun untuk membuka sebuah ruang agar masalah ini bisa
dibicarakan tanpa rasa takut, dengan harapan bahwa hal ini dapat membantu Anda
semua memperjuangkan kebenaran, rekonsiliasi, dan keadilan," tambahnya.
Film berdurasi 115 menit ini mengisahkan tentang seorang Algojo atau lebih tepatnya preman bioskop
bernama Anwar Congo. Dalam adegan itu ditampilkan betapa gembiranya para pelaku berseragam sebuah organisasi pemuda yang masih
ada sampai kini karena berhasil membasmi musuh negara itu. Wajah mereka juga
tidak menampakkan penyesalan. “Saya menghabisi orang-orang PKI dengan gembira,”
kata Anwar dalam sebuah adegan.
Ia terlihat naik mobil terbuka menyusuri
jalan-jalan di Medan bersama rekan sesama algojo ’65. Ia bernostalgia ke
tempat-tempat di mana ia pernah menyembelih banyak warga keturunan Tionghoa.
“Setiap ketemu orang keturunan China, langsung saya tikam,” katanya.
Penasaran dengan adegan selanjutnya atau ingin menambah
wawasan apa yang terjadi sebenarnya pada tahun 66, silakan unduh di sini:
http://actofkilling.com/