Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Perairan Bangka Belitung sebagai Pembentuk Integritas Bangsa

Oleh Yusuf Yordan*

Pengantar
Pada hakikatnya, Republik Indonesia adalah suatu negara yang terbentang luas dengan banyak berjajar pulau. Selain itu,Indonesia juga kaya akan bahasa, budaya dan suku bangsa. Kepulauan Indonesia juga memiliki posisi yang sangat strategis, disamping diapit oleh dua benua, yaitu Asia dan Australia. Kepulauan Ini juga terletak diantara dua samudra, yaitu pasifik dan Indonesia. Oleh karena itu, posisi kepulauan Indonesia menjadi tempat persilangan budaya dalam pergaulan antarbangsa. Aspek kelautannyamerupakan integrator dari ribuan pulau yang terpisah-pisah itu.

Berbicara tentang kepulauan Indonesia, salah satu yang paling mengesankan adalah bentangan peradaban bahari yang telah menjadi karakteristik bangsa ini selama berabad-abad. Dengan berjajarnya pulau-pulau serta alam lautnya merupakan penopang dari beragam bentuk tradisi serta budaya yang bermuara pada integrasi negara. Dengan adanya laut, orang dapat saling berjumpa dan berinteraksi.

            Satu wilayah bahari yang tak boleh lekang dari masalah perbincangan perairan di Indonesia, adalah mengenai perairan Bangka-Belitung. Pada setiap masanya, daerah ini memiliki karakteristik panorama alam serta bentangan sejarahyang majemuk.Tak ayal, dengan latar belakang demikian, maka pembahasan yang memadai terkait hal itu tentu menjadi suatu pemikiran yang perlu diperhatikan.

            Guna memudahkan pembahasan, penulis akanmemaparkan hal-hal apa saja tentang Bangka Belitung dari berbagai aspek, yaitu mulai dari letak geografisnyahingga kemajemukan masyarakatnya.Mengenai Bangka Belitung yang menjadi memori kolektif pembentuk integritas bangsa.
           



A.Bangka Belitung dalam Sejarah
 



foto pertama Sumber: //http//pangkalpinang.bpk.go.id.

Bangka Belitung merupakan suatu provinsi yang terletak di pulau Sumatra. Sebelumnya, provinsi ini merupakan bagian dari salah satu provinsi di Sumatra,yaitu Sumatra Selatan yang kemudian telah diresmikan menjadi provinsi tersendiri pada tahun 2000. Kepulauan Bangka Belitung sendiri terdiri atas pulau-pulau kecil, seperti pulau Pongok, pulau Lepar dan pulau Mendanau.Tercatat hanya 50 pulau yang dihuni oleh masyarakat dari total berjumlah 470 pulau.Hanya saja, sebagai penopang dari banyaknya pulau-pulau tersebut ialah Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Provinsi Bangka Belitung terletak pada104 derajat 50o sampai 108 derajat 18o bujur timur dan 1 derajat 20o sampai 3 derajat 15o. Oleh karena letak geografis seperti itulah yang membuat sebagian besar kepulauan Bangka Belitung berupa daerah dataran rendah. Dengan daerah pantainya yang hampir sebagian besar langitnya berawan. Beberapa bukit kecil tersembul berada disana-sini, terutama dibagian tengah pulau itu.
 Luas wilayah Kabupaten Bangka kurang lebih sebesar 3.028.794 Km2. Secara tidak langsung,wilayah kabupaten Bangka berbatasan langsung dengan wilayah kota lainnya di provinsi kepulauan Bangka Belitung, yaitu wilayah kota Pangkal Pinang, kabupaten Bangka Tengah dan kabupaten Bangka Barat.Pulau Bangka sendiri juga memiliki luas sekitar 11.475 Kilometer Persegi.

Seperti di Indonesia pada umumnya, keadaan alam kepulauan Bangka Belitung bisa dibilang memiliki iklim tropis kalau dilihat dari aspek cuaca dan keiklimannya, dengan variasi hujan antara 43,6 mm hingga 360,2 mm setiap bulannya, dengan suhu rata-tara 26 derajat celcius hingga 30 derajat celcius setiap tahunnya. Tanah yang dimiliki di daerah Bangka Belitung juga sebagian kurang bagus untuk jenis tanaman tertentu. Hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam.[2]

Bangka Belitung juga terkenal sebagai pulau penghasil timah dan lada. Daerah ini juga merupakan bagian dari “sabuk timah” Yang membentang dari Thailand, Malaysia, sampai ke Bangka Belitung, Singkep dan daerah Nusantara lainnya.Penduduk setempat juga menanam pelbagai jenis lada, antara lainada yang bernama lada kawur, lada manna dan lada putih.

Tetapi dari setiap lada yang dihasilkan, mempunyai keunggulannya masing-masing. Lada putih memiliki kwalitas yang lebih superior dibandingkan dengan lada lainnya. Oleh karena itu, lada putih berharga lebih mahal dibandingkan dengan lada lainnya.[3] Dari segi kekayaan alam selanjutnya yang dihasilkan oleh kepulauan Bangka Belitung ialah timah.Komoditas ini merupakan suatu sumber kekayaan alam yang penting,karena selain sebagai salah satu komoditas utama,timah juga banyak yang dieskpor ke luar-luar negeri, terutama Cina dan negara Asia lainnya.[4]

Aspek dari sejarah Bangka Belitung merupakan suatu kepulauan yang banyak mengalami kepemerintahan kerajaan-kerajaan. Tercatat pada Abad ke-7, Kerajaaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit pernah mendiami wilayah-wilayah Bangka Belitung. Sehingga sekitar tahun 1365 dimana masa kejayaan Kerajaan Majapahit sedang berada pada puncak kejayaannya, kepulauan Bangka menjadi salah satu benteng pertahanan laut kerajaan tersebut. Tetapi tidak lama pulau ini berhasil ditaklukan oleh Palembang sekitar abad ke-15 dibawah kepemimpinan Cakradiningrat II.

Seiring berjalannya waktu, kepulauan ini mengalami perpindahan kekuasaan dari tangan penguasa baru. Kurang lebih abad ke-15, disamping Bangka Belitung sendiri sudah berhasil ditaklukkan oleh Palembang, disana sudah terbentuk pula suatu kerajaan baru yang bernama kerajaan Badau, yang kala itu dipimpin oleh raja pertamanya yang bernama Datuk Mayang Geresik. Sebagai ibukota kerajaannya, dipilihlah daerah Pelulusan lah sebagai pusat pemerintahanya saat itu. Kota-kota yang dikuasai oleh kerajaan Badau cukup banyak. Mulai dari daerah Badau, Simpang Tiga, Bange, Manggar dan Gantung.[5]

Baru pada abad ke-17, pulau Bangka Belitung banyak disinggahi oleh para pedagang-pedagang Gujarat yang notabene berasal dari bangsa Arab dan Cina. Memang,sejarah pulau Bangka tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan Tiongkok, terutama ketika banyak berdatangan para migran dari Tiongkok ke pulau ini. Melihat dari sejarah kedatangan para migran Tionghoa di Pulau Bangka, ternyata budaya bedol desa juga sudah dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa. Setidaknya, masyarakat Tionghoa di pulau Bangka yanghidup di masa-masa selanjutnya, adalah terbentuk dari praktik bedoldesa yang menurut catatan Belanda berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi.

Seiring berjalannya waktu, keturunan Tionghoa atau bangsa Cina yang lahir dan pernah tinggal di Bangka Belitung  namun kemudian kembali lagi ke Tiongkok dan melakukan kunjungan ke Bangka Belitung dalam rangka bertemu dengan keluarga sekaligus mengenang tanah kelahirannya. Kunjungan para keturunan Tiongkok tersebut merupakan peluang untuk mempromosikan obyek wisata yang banyak terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Oleh karena itu, kepulauan Bangka Belitung mempunyai objek wisata yang sangat menarik dan menawan. Seperti perkebunan lada, sawit maupun karet, wisata alam, maupun wisata sejarah dan budaya yang berkaitan dengan budaya Tiongkok/Cina seperti ritual “sembahyang rebut” (Chit Ngiat Pan) dan Imlek. Pengembangan kampung Gedong sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi warga keturunan Cina yang masih mempunyaiketerikatan dengan Bangka untuk mengunjungi tanah kelahiran maupun sanaksaudara sekaligus bernostalgia.

Selain Bangsa-bangsa itu, pada tahun 1668 Bangsa Belanda mencoba menjajaki perdagangan di Belitung dengan caraberdagang, walaupun tidak mendapat keuntungan yang besar disana.Tetapi dengan carasepertiitulah bangsa Belanda juga mengetahui dan mengenal kepulauan Belitung. Konsepnya dengan cara berlayar dan berlabuh di suatu pesisir pantai barat daya yang disebut Sungai Balok, yang pada saat itu merupakan pelabuhan yang sering disinggahi oleh para pedagang-pedagang asing.[6]

            Selanjutnya, dalam sejarah kemaritiman pulau Bangka Belitung satu hal yang patut digarisbawahi adalah pelayaran dan perdagangan. Keperkasaan pelaut Nusantara telah terbukti hingga ke mancanegara. Pelayaran mereka mencapai Madagaskar dan Australia. Dalam jaringan pelayaran interregional, letak strategis kepulauan Indonesia menjadi jalur transpotasi laut yang penting dalam pelayaran dunia.

Terkait dengan jaringan pelayaran, kepentingan ekonomi memainkan peranan yang tidak kecil. Perdagangan internasional menjadi makin marak menyusul kemajuan dalam bidang teknologi pelayaran dan perkapalan. Pembuatan kapal lintas samudra, penemuan alat navigasi dan pengetahuan perbintangan merupakan faktor penting dalam kemajuaanjaringan perdagangan internasional Bangka Belitung.

Melalui pelayaran dan perdagangan, pelbagai tempat saling bersentuhan dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan lainnya. Apalagi kepulauan Bangka Belitung sendiri terletak diantara silang pelayaran dan perdagangan antar wilayah yang berpusat di Kanton, Cina. Sejak awal masehi, kepulauan Indonesia telah terlibat di dalam dinamika itu.

Memang secara geografis, pelayaran dan perdagangan itu melintasi beberapa jalur di kepulauan Indonesia dalam upaya mencapai Kanton guna meraup keuntungan. Termasuk pulau Bangka Belitung, yang masih tergolong pulau terdepan perairan Nusantara, sejumputkeprihatinan muncul yang berkenaan dengan perhatian terhadap penulisan sejarahnya. Historiografi Bangka Belitung, memang tergolong masih jarang ditulis oleh sejarawan. 

Pulau ini, dalam kaitan sumber daya tambang berupa timah, kerap dikaitkan dengan pulau tetangganya, Bangka Keduanya dahulu merupakan bagian administratif dari Palembang. Oleh karena itu, gambaran tentang masa lalu pulau itu tidak lebih daripada bagian perkembangan Palembang. Sehubungan itu, inisiatif dan upaya menyibak masa lampau pulau dan masyarakat Belitung perlu disambut baik dan diberi dukungan penuh demi penulisan Sejarah Indonesia yang utuh dan terintegrasi.[7]

B.Laut sebagai Persatuan Nasional
Membahas tentang penjelajahan kelautan di Nusantara, dalam perjalanan waktu, mengalami era gelombang evolusi pelayaran dunia. Nusantara yang dikenal sebagai negara kepulauan secara geografis sangat terbuka untuk siapa saja dari segala penjurudunia untuk mengirim dan menerima kebudayaan melalui jalur laut. Laut sendiri merupakan akses teansportasi penting bagi masyarakat lintas pulau di Nusantara.

         Melalui tradisi pelayaran,terjalinlah suatu informasi dan komunikasi antarsuku bangsa yang membentuk suatu integrasi bangsa Indonesia. Bentuk-bentuk bukti tersebut dapat diketahui sendiri dengan adanya bangunan-bangunan penduduk pelayaran seperti;pelabuhan, perbengkelan perahu dan kapal serta bangunan lainnya.[8]

Rasa dan tali persaudaraan sosial sangatlah kental dan terpelihara di Bangka Belitung. Baik di kota maupun di desa. Keadaan di desa mempunyai kondisi kekerabatan yang lebih terjaga diantara masyarakatnya, dibanding di perkotaannya. Kolektivisme itu sendiri terlihat dari sikap gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat pribumiyang telah menjadi adat istiadat daerah setempat.

            Contoh kecil dari sikap gotong royong dari masyarakat setempat ialah, jika masyarakat setempat ingin membangun sebuah aula atau rumah, orang-orang di sekitar lingkungannya bahkan dari desa lain datang dan serentak langsung mambantu guna menyelesaikan bangunan tersebut. Bantuan mereka bersifat sukarela, tanpa mengharapkan imbalan, karena mereka tahu apabila mereka ingin membangun hal yang sama atau sebagainya semua organisasi masa pasti membantunya.

           Memang, rasa kesosialan yang demikian tidak dapat diukur dengan pandangan sebelah mata. Pola dasar hidup gotong royong telah menjadi unsur penting pembangun visi persatuan di tengah masyarakat Indonesia. Perbedaan status sosial, agama, pangkat, maupun ras, seakan telah luntur dan menjelma menjadi suatu semangat kerukunan dalam membangun mental dan etos kerakyatan. 

            Gotong royong yang dimaksud disini yaitu dilihat sebagai suatu alat in-group. Istilah ini berhubungandengan komunikasi mendalam yang mengikat golongan-golongan itu. Bukan mengikat anggota-anggota luar yang terkadang harus memberi imbalan untuk suatu pengorbanan atau pertolongan terhadap orang-orang desa terhadap suatu desa.[9]

                                                                             
                                   Sumber://http//http://bangka.tribunnews.com

Tradisi atau kebudayaan ialah keseluruhan dari hasil pengembaraan batin, intelektual, maupun rasa estetika (keindahan).Manusia yang hidup bermasyarakat, sudah barang tentu memiliki suatu kearifan lokal yang khas dan berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Masyarakat yang memiliki pengetahuan budaya serta penghayatan tradisi yang memadai, berarati telah turut pula menjaga ketahanan negara dan bangsanya, khususnya terkait kekayaan khazanah intelektualnya.

Kebudayaan dipelajari dari golongan atau masyarakat dalam kehidupan bersama dan tidak dilahirkan hanya berkutat pada sifat biologis atau karena naluri.Umpamanya terdapat pada masyarakat semut atau burung manyar dan gelatik untuk membuat sanggarnya tanpa belajar.

Memasuki era kehidupan beraksara, manusia pun telah mencerap suatu pembaruan yang radikal diruang publiknya. Masing-masing bangsa dari pelbagai belahan negeri memiliki ciri khas tradisi dan kebudayaan masing-masing. Salah satu dari sekian banyak kekhasan ini, ialah tradisi dari Bangka Belitung yang masih hidup dan masih banyak dijumpai yaitu Tradisi Perang Ketupat.

Tradisi tersebut merupakan tradisi asli masyarakat Bangka Belitung yang pada saat itu belum adanya agama atau kepercayaan. Dengan tujuan memanggil roh halus dan memerangi roh-roh halus yang jahat yang kerap kali mengganggu masyarakat setempat.

Tradisi tersebut juga menggunakan metode upacara yang dipimpin oleh tiga orang dukun,yaitu dukun darat, dukun laut dan dukun yang paling sesepuh. Tujuan dari upacara sendiri ialah untuk memanggil para roh halus dan memberi makan kepada mereka dengan cara meletakkan di atas atap rumah yang terbuat dari kayu dan dilakukan dengan bergiliran. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, masuknyaIslam di Bangka membuat tradisi tersebut berubah cara dan subtansinya. Walaupun tujuanya sama namun berbeda caranya.[10]

Membicarakan Islam berarti membicarakan kepercayaan, di Bangka Belitung sendiri banyak yang menganut agama Islam dalam kata lain Islam merupakan agama yang mendominasi masyarakat setempat,disamping penganut agama Kristen, Hindu, Budha maupun aliran kepercayaan Kong Hu Cu.Agama merupakan salah satu hal yang sangat penting. Agama merupakan suatu bentuk pemujaan terhadap Tuhan, baik secara pribadi maupun umum. Misalnya dengan melakukan persembahan korban, pertemuan, prosesi dan lain-lain itu merupakan suatu sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.[11]

Bertitik tolak dari kenyataan sejarah, masuknya Islam sendiri ke Sumatera tepatnya Sumatra Selatan yaitu pada masa kerajaan Sriwijaya, adalah melalui pulau Bangka yang waktu itu masih merupakan bagian dari Palembang. Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya kemiripan kebudayaan yang telah berkembang di Malaka dan Bangka. Kemiripan tersebut dapat diidentifikasi pada beberapa simbol budaya dan jenis permainan, seperti tampes yaitu sejenis kopiah dan baju teluk belanga dan munculnya jenis permainan sepak raga yang dibuat dari rotan sagak.

Dalam struktur perekonomiannya kepulauan Bangka Belitung sendiri memiliki sektor kelautan dan pertanian yang paling dominan dibandingkan sektor yang lainnya seperti penambangan atau industri. Oleh karena itu, dengan keadannya yang seperti itu, sudah seharusnya pembangunan ekonomi di provinsi ini berpihak kepada pembangunan perekonomian rakyat. Terutama di daerah pedesaan, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lingkungan hidup yang begitu dekat dengan laut telah mendorong penduduk pantai di wilayah Bangka Belitung untuk mengembangkan suatu cara hidup yang sedikit banyak besifat maritim. Nelayan merupakanprofesi sebagian besar masyarakat yang hidup di dekat laut. Baik mengarungi laut dengan menggunakan perahu besar demi mencari ikan, atau menggunakan perahu kecil untuk laut yang dangkal,tergantung kebutuhan dan alat-alat yang mereka punya.[12]

Kehidupan para nelayan sendiri di Bangka atau pada umumnya di Indonesia, tidaklah dikategorisasikan sebagai mata pencarian suku bangsa-suku bangsa tertentu saja, akan tetapi bisa dikatakan sebagai mata pencaharian bagi seluruh suku bangsa Indonesia yang pada umumnya tinggal di tepi pantai dan laut. Dengan laut sebagai media atau mata pencariannya dan nelayan sebagai pekerjaanya.

Secara keseluruhan, nelayan di Indonesia tampaknya ada beberapa suku bangsa yang memang menjadikan mata pencarian dan mengandalkan laut sebagai jatidiri suatu suku bangsa yang bersangkutan. Memang secara tidak langsung semua berkaitan dengan suku bangsa tersebut sehingga secara mitologis bercerita tentang laut beserta isinya.

Disamping itu, selain keindahan pulau Bangka sendiri, perairan pulau Bangka pun banyak menarik perhatiaan kelompok nelayan di luar daerah tersebut, oleh karena ikannya yang beragam dan juga keindahan biotiknya yang menawan. Misalnya kaum nelayan suku Bugis. Pada mulanya mereka hanya sekedar datang pada waktu panen ikan, tetapi lama-kelamaan mereka kemudian menetap dan membaur dengan masyarakat setempat sampai-sampai membuat perkampungan sendiri.

Pada intinya laut merupakan ajang untuk mencari kehidupan. Dari laut orang dapat mengeksploitasikan sumber daya biota lautnya dan kegiatan-kegiatan kemaritiman yang menjanjikan secara ekonomis. Pada mulanya hanya bertujuan untuk mencari hidup dan mempertahankan hidup, pada akhirnya bertujuan untuk mengembangkan kesejahteraan sendiri atau kata lainnya untuk membangun kekayaan dan kejayaan dalam bidang kemaritiman.

Seperti yang kita ketahui, dalam sektor perekonomian, selain usaha dagang yang dilakukan oleh masyarakat Bangka beraneka ragam. Selain nelayan, masyarakat lain juga ada yang memiliki profesi yang berbeda, seperti buruh penambangan dan lain-lain. Seperti yang kita ketahui, pulau Bangka sendiri adalah pulau penghasil timah, dengan banyaknya penggalian dimana-mana baik didaratan maupun di lepas pantai.Oleh karena itu buruh penambangan menjadi pekerjaan yang banyak dilakoni oleh masyarakat setempat baik dikota maupun masyarakat desa yang berada di perkampungan dan lepas pantai.[13]

Dengan keterbukaan masyarakat Bangka atas pendatang baru itulah yang membuat pulau ini bercorak heterogen. Di pulau ini juga banyak terdapat berbagai jenis suku bangsa. Mereka membaur, berkembang dan tetap menjaga budaya mereka masing-masing. Disamping orang-orang dari suku Bugis, suku Madura, suku Butun, terdapat suku Jawa, Bali dari daratan Sumatera (Medan, Aceh, Palembang, Padang dan lain-lain), Ambon dan sebagainya.

Dalam masyarakat majemuk yang seperti itulah, yang membuat segala gerak langkah kehidupan berkisar pada usaha pencaharian nafkah. Setiap individu tampaknya selalu sibuk dan giat bekerja. Komplek perumahan karyawan yang dibangun disekitar pertambangan yang kadang jauh terpisah dari kampung-kampung, membawa corak atau bentuk kehidupan yang lain. Tetapi hal yang nampaknya seperti pemencilan ini ternyata tidak pernah membawa pengaruh atau menimbulkan hal-hal yang negatif oleh karena komunikasi selalu terpelihara dengan baik.

C. Peran Laut Bangka Belitung sebagai salah satu Perekat Nusantara


                     “Penggalian timah dibabel”Sumber://http://m.beritahukum.com

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗإِنَّاللَّهَبِالنَّاسِلَرَءُوفٌرَحِيمٌ
Artinya ; Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[14] 

Keberadaan lautkhusunya laut bebas di antara pulau-pulau di wilayah Negara Republik Indonesia jelas merupakan sesuatu yang sangatlah janggal. Bagaimana pun penduduk antara satu pulau dengan pulau lainnya masih satu bangsa, sehingga tidak mungkin sebuah negara yang berdaulat dipisah-pisahkan oleh laut bebas sebagai pembatasnya. Oleh sebab itu, mulai muncul suatu integrasi yang awalnya dimulai dari intensitas mereka dalam pergaulan antarpulau, yang terjalin lewat perdagangan.

Integrasi pada dasarnya merupakan suatu penyatuan wilayah dalam sebuah negara yang berdaulat. Secara umum integrasi menggambarkan suatuproses persatuan dan kesatuan orang- orang dari berbagai wilayah yang berbeda, walaupun memiliki berbagai perbedaan baik etnisitas,sosial budaya, atau latar belakang ekonomi.[15]

Menjadi salah satu negara kepulauan. Indonesia sendiri merupakan kawasan kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas sekitar 18.000 pulau besar dan kecil.Secara fisik memang antara satupulau dengan pulau lainnya dipisahkan oleh laut, tetapi dilihat dari sisi kemaritiman perpisahan itu tidak pernah ada karena seluruh perairan yang ada di Nusantara adalah pemersatu yang mengintegrasikan ribuan pulau yang terpisah-pisah. Dalam proses perkembangannya tingkat integrasi dapat berbeda-beda baik secara geografis maupun secara sosialis, ekonomis dan kultural.

            Secara geografis, memang kepulauan Nusantara sangatlah strategis sebagai jalur perdagangan internasional, yakni diantara dunia barat dan dunia timur. Misalanya dari sisi barat, banyak kapal-kapal berdatangan dari Persia, India, Mesir dan negara-negara Eropa. Sedangkan dari sisi timur meliputi negeri Jepang, Cina dan Filipina. Dengan latar belakang itu, maka tidaklah salah jika menyebut daerah itu sebagai kunci perdagangan laut antara barat dan timur.[16]

Laut Bangka Belitung merupakan salah satu kawasan lintas perairan yang terletak di rute perdagangan internasional Nusantara. Bukan hanya itu, dilihat dari segi aspek potensi alam dan hasil buminya yang bernilai jual tinggi, dipandang mampu memberikan kesejahteran bagi masyarakat dan minciptakan ketahanan ekonomi yang menjadi penyokong terbentuknya suatu integrasi bangsa.

            Posisi strategis Bangka Belitung, sebagai satu kawasan bahari yang dilewati oleh kapal-kapal mancanegara, sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai suatu wacana terkait upaya menumbuhkembangkan dan mempererat persatuan bangsa. Berangkat dari sejarah panjang kedua pulau ini, yang memang amat lekat dengan kultur multikulturalismenya, menjadi landasan kuat mengapa pulau-pulau ini tepat untuk dijadikan visi merajut persatuan berbasiskan tradisi serta budaya masyarakatnya.

Terhamparnya ladang timah, dan keberhasilan membudidayakan varietas lada yang laris, baik di pasaran lokal maupun internasional, menjadi realitas lain penyokong suburnya iklim keberagaman budaya disana. Kesejahteraan masyarakat yang terpenuhi, menjadi kebutuhan vital dalam membangun iklim bermasyarakat yang penuh dengan ketentraman dan keamanan. Kondisi ini, patut untuk dijadikan alternatif contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia dalam upaya mengintegrasikan potensi alam dengan wawasan kesatuan bangsa. 


Tidak bisa dipungkiri, masing-masing wilayah di Indonesia memiliki keadaan alam, potensi strategis perekonomiaan dan letak geografis yang berbeda. Namun bagitu, hendaklah perbedaan-perbedaan fisik tersebut janganlah dianggap sebagai hambatan utama dalam merajut keterpaduan dalam berbangsa dan bernegara.
            Seperti Soekarno, kawasan Nusantara merupakan ruh terbentuknya suatu kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebutlah yang menjadi titik tolak bagi bangsa Indonesia dalam rangka membahas batas-batas wilayah yang berdekatan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan lain-lain.[17] Hal itulah yang dimaksud dengan integrasi bangsa.

Penutup
Bangka Belitung, merupakan daerah kawasan bahari yang merupakan jalur lintas perdagangan internasional. Dengan berbagai macam keindahan biota lautnya dan kekayaan alamnya seperti timah dan lada, ditambah dengan keanekaragaman masyarakatnya yang majemuk, menambah eksotisme tersendiri dari pulau ini.
Keanekaragaman suku bangsa yang hidup disana selama berabad-abad, menjadikan Bangka Belitung sebagai salah satu provinsi yang berhasil memadukan budaya yang saling berbeda ke dalam kesatuan bangsa, dalam hal ini NKRI. Selain itu, integrasi bangsa yang berhasil dirawatnya, disokong pula oleh kondisi ekonomi yang stabil. Lada dan timah, sejak berabad-abad yang lampau hingga hari ini menjadi komoditas khas yang meningkatkan perekonomian warga.

Realitas historis yang ada di Bangka Belitung berpotensi menjadikannya sebagai salah satu percontohan daerah yang berhasil merawat potensi alam serta sosialnya. Tidak bisa dipungkiri, negeri ini membutuhkan figur daerah yang tepat, sebagai motivator keseriusan merawat budaya keragaman ditunjang dengan perekonomian strategis. Dua unsur tersebut terdapat dalam jati diri Bangka Belitung.



*Penulis adalah mahasiswa jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
.
Daftar Pustaka
Al-Quran dan Terjemahanya, Surat Al-Hajj Ayat 65, (Bandung; Departemen Agama, 1992).
Dhaenuderadjat, Endjat, Sejarah Wilayah Perbatasan Batam-Singapura 1824-2009 (Depok: Gramata Publishing, 2009).
Marsden, William, Sejarah Sumatra (Jakarta;Komunitas Bambu,2008).
Shadily, Hassan,Sosiologi Untuk Masyarakat (Jakarta;Rineka Cipta, 1993).
Supangan, Agus, Sejarah Maritim Indonesia (Semarang: Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003).
Suroyo, Agustina Magdalena Djuliati, “Integrasi sejarah dalam perspektif sejarah” (laporan), tertanggal 9 Februari 2002.
Tangkilisan, Yuda B.,”Belitung dalam Lintas Sejarah Maritim Indonesia”, makalah disampaikan pada Seminar Persiapan Pendirian Museum Maritim di Kabupaten Bangka Belitung, pada tanggal 23 Juli 2009, di Bangka Belitung.
Tim Penulis, Ensiklopedia Nasional Indonesia (Jakarta;PT.Delta Pamungkas, 2004).
Utomo, Bambang Budi, Pandangan Laut Sebagai Pemersatu Nusantara (Jakarta; Kemendikbud, 2007).
Vlekle, Bernard H. M., Nusantara Sejarah Indonesia (Jakarta; Perpustakaan Populer Gramedia, 2008).
On Line
www.kompas.co.id
www.eprints.undip.ac.id.




[1] Penulis adalah mahasiswa jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
[2] Tim Penulis, Ensiklopedia Nasional Indonesia (Jakarta;PT.Delta Pamungkas,2004) hlm 130.
[3] William Marsden, Sejarah Sumatra (Jakarta;Komunitas Bambu,2008) hlm 138-139.
[4] Marsden, Sejarah Sumatra…, hlm 159.
www.bangka.go.id/artikel.php?id_artikel=23&kategori=info%20Budaya dan www.bangkapos.com.
[6] Bernard H. M. Vlekle, Nusantara Sejarah Indonesia (Jakarta;Perpustakaan Populer Gramedia,2008) hlm. 137.
[7] Yuda B. Tangkilisan,”Belitung dalam Lintas Sejarah Maritim Indonesia”, makalah disampaikan pada Seminar Persiapan Pendirian Museum Maritim di Kabupaten Bangka Belitung, pada tanggal 23 Juli 2009, di Bangka Belitung.
[8] Bambang Budi Utomo, Pandangan Laut Sebagai Pemersatu Nusantara (Jakarta;Kemendikbud,2007) hlm. 94-97.
[9] Hassan Shadily,Sosiologi Untuk Masyarakat (Jakarta;Rineka Cipta,1993) hlm. 205-206.
[10] Marsden,Sejarah Sumatra…, hlm 262.
[11] Marsden,Sejarah Sumatra…, hlm. 263.
[12] Bambang Budi, Pandangan Laut Sebagai …,  hlm. 125-126
[13] Tim Penulis,Ensiklopedia Nasional Indonesia (Jakarta;PT.Delta Pamungkas,2004).
[14] Al-Quran dan Terjemahanya, Surat Al-Hajj Ayat 65 (Bandung ; DEPAG, 1992), hlm 341.
[15] Agustina Magdalena Djuliati Suroyo, “Integrasi sejarah dalam perspektif sejarah” (laporan),tertanggal 9 Februari 2002. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id,Pukul20.00tanggal 3 Oktober 2013.
[16] Agus Supangan,Sejarah Maritim Indonesia (Semarang: Departemen Kelautan dan Perikanan,2003) hlm. 56.
[17] Endjat Dhaenuderadjat,Sejarah Wilayah Perbatasan Batam-Singapura 1824-2009 (Depok,Gramata Publishing,2009) hlm 83.

Haji dalam Masyarakat Betawi

Oleh Azami

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hal unik dalam budaya masyarakat Betawi salah satunya adalah ibadah haji. Melakukan ibadah haji merupakan sebuah hal yang sakral bagi masyarakat Betawi. Perihal tersebut amatlah menarik untuk dikaji terutama dalam segi social-budaya masyarakat Betawi.

Sunda Kelapa merupakan sebuah tempat yang bercikal bakal menjadi sebuah kota metropolitan nan megah, tempat dimana masyarakat Betawi mendapatkan nama Betawinya.[1] Etnis Betawi yang merupakan percampuran dari berbagai macam etnis menjadikan keistimewaan tersendiri bagi etnis Betawi, namun beberapa ahli berpendapat bahwa orang-orang Betawi bukanlah campuran berbagai macam etnis melainkan telah ada sejak zaman batu baru sebagaimana etnis Jawa dan lainnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Sagiman MD dan Uka Tjandrasasmita.

Asal muasal orang-orang Betawi yang menuai banyak perdebatan berbagai ahli inilah yang membuat keistimewaan masyarakat Betawi lebih menarik. Berbagai budaya dan antropologi masyarakatnya pun amatlah menarik, dimulai dari bahasa yang berjenis melayu nyentrik hingga seni dan budaya masyarakatnya yang tak kalah dengan masyarakat-masyarakat pada etnis lainnya.

Berhaji dalam masyarakat Betawi bukanlah sesuatu hal yang dianggap biasa, esensi berhaji dalam masyarakat Betawi amatlah mendalam dan bermakna. Dipengaruhi oleh latar belakang keagamaan Islam yang kental dan kuat merupakan salah satu factor nilai-nilai dari berhaji. Tradisi-tradisi yang amat khas dalam masyarakat Betawi ketika hendak melaksanakan dan kepulangan mereka pasca berhaji, mempunyai nilai serta kearifan local tersendiri.

Namun seiring perkembangan zaman dan realitas keadaan, masyarakat Betawi sedikit demi sedikit mulai kehilangan polesan-polesan kearifan lokalnya. Arus ibu kota yang deras serta dinamis membuat laju para transmigran mengalahkan populasi penduduk asli. Transisi kebudayaan pun mulai terlihat, makna berhaji dalam masyarakat Betawi dewasa ini, hanya sebagai formalitas tanpa ada ruh dan nilai-nilai lagi didalamnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Masyarakat Betawi
Berbicara budaya serta kebudayaan masyarakat Betawi, terlebih dahulu mengenal sejarah serta asal-usul masyarakat Betawi pada umumnya. Sebelum abad ke-16, kerajaan Tarumanegara merupakan cikal-bakal terbentuknya masyarakat Betawi. Diperkirakan bahwasanya masyarakat Betawi berawal juga dari masyarakat Sunda kala itu. Namun pendapat-pendapat dari Sagiman MD dan Uka Tjandrasasmita menentang pendapat tersebut. Dalam pendapat mereka menyatakan bahwa orang-orang Betawi memang sudah ada sejak zaman batu baru layaknya masyarakat Jawa dan Sunda terdahulu.

Pendapat Sagiman MD tersebut senada dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran (1977)" mengungkapkan bahwa Penduduk Asli Jakarta telah ada pada sekitar tahun 3500-3000 sebelum masehi.[2] Banyak perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal-muasal orang-orang Betawi. Terdapat pula pendapat dan teori yang dikemukakan oleh Antropolog Universitas Indonesia yaitu Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA yang memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Pada zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya.[3] Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815 didalam hasilnya terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Keberadaan rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab, Jawa, Sunda, Sulawesi Selatan, Sumbawa, Ambon dan Melayu. Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang  Betawi  sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia pada waktu itu.

Teori lainnya dikemukakan juga oleh Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan. Ia menyatakan, bahwasanya kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam konteks social masyarakkat pada waktu itu tidak menyatakan bahwa mereka merupakan berasal dari etnis Betawi. Namun mereka lebih menekankan primordial lokalitas tempat tinggal mereka yang pada akhirnya timbullah rasa kesatuan dan pada akhirnya masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umumnya digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa Nasional.

Hal ini terjadi karena pada abad ke-6, dimana kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanegara yang terletak di bagian utara Jakarta sehingga pengaruh bahasa Melayu sangat kuat disini. Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa yang mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis.

Dari komunitas ini lahir perpaduan budaya yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal. Lahirlah musik keroncong. [4] Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan pada tahun 1945, Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi dalam artian apapun juga tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, Suku Betawi mencakup kurang lebih 22,9  persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, keberadaan suku Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah eksistensi suku Betawi hadir di bumi Nusantara.[5]


B. Keutamaan Haji dan Tradisi Masyarakat Betawi

Biaya ongkos haji yang mahal bukanlah halangan atau permasalahan yang serius dalam melaksanakan ibadah haji bagi masyarakat Betawi pada umumnya. Demi terlaksananya harapan serta dorongan kesempurnaan dalam Islam, harta benda yang dimiliki tidaklah menjadi kesayangan yang berarti jika hendak melaksanakan rukun Islam yang ke-5 ini bagi orang-orang Betawi.
Pelaksanaan ibadah haji bagi orang Betawi memiliki arti penting dan sakral. Orang Betawi yang agamis menyadari betul makna melakukan ibadah haji, yaitu menyempurnakan rukun Islam. Untuk sampai pada tahap mampu melaksanakan ibadah haji, tentu saja proses panjang telah dilaluinya. Seseorang yang ingin berhaji  merupakan keluarga yang mapan, artinya jika ada niat melakukan ibadah haji, ia tak bermasalah.

Seseorang yang ingin berhaji tak akan menyengsarakan diri dan keluarganya. Persiapan materil dan spiritual tak diragukan lagi. Seseorang yang ingin berhaji pastilah orang kaya, meski profesinya sebagai petani, pedagang, atau lainnya. Atau ia pasti seorang yang tekadnya sangat besar untuk melaksanakan ibadah haji, meski status social ekonominya tidak terlalu tinggi.[6] Ongkos untuk melaksanakan ibadah haji dapat dikatakan tidak murah bahkan terbilang amatlah mahal.

Pada tahun 1960 dan 1970-an, arus transmigrasi penduduk ke ibu kota tidak terelakkan. Pembangunan Jakarta menjadi kota metropolitan pun mulai pada tahap puncaknya. Harga-harga tanah pada waktu itu merangsek naik, maka orang-orang Betawi yang mempunyai tekad untuk berhaji menjual tanah-tanah mereka demi melaksanakan rukun Islam yang terakhir ini. Salah satu hasil penjualan tanah itu dibelikan qutum. Qutum adalah istilah yang artinya sama dengan tiket pergi haji pada waktu itu. Tersebab pergi haji menjual tanah, maka mulai beredar di masyarakat istilah haji gusuran.

Apapun istilah yang beredar di masyarakat, orang-orang Betawi tidakk perduli. Bagi orang Betawi, telah tertanam melekat dalam jiwanya semangat melaksanakan perintah agama dengan sempurna. Harta benda, apapun jenisnya tidak akan dibawa mati. Amal shalehlah yang senantiasa setia mengikuti kita sampai kemanapun. Pepatah Betawi yang terkenal yang saya kutip adalah, “Segale harta bende nggak bakalan dibawa mati”, begitu pepatahnya.
  
Berbicara mengenai tradisi berhaji dalam masyarakat betawi, banyak tradisi yang dapat dikaji serta digali akan pemaknaannya. Tradisi-tradisi yang berkembang pada masyarakat Betawi ketika berhaji membawa kekhasan tersendiri terhadap tradisi-tradisi etnis lainnya. Dimulai dari tradisi pelepasan orang yang hendak melaksanakan ibadah haji hingga tradisi menyambut kepulangan pak Haji baru dalam lingkungan mereka. Kearifan lokal masyarakat Betawi yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya hingga kini walaupun tidak sepenuhnya yang disebabkan oleh arus kota Jakarta yang metropolitan. Namun kearifan local inilah yang membawa kemajuan serta eksistensi masyarakat Betawi yang berkembang sampai saat ini.

Tradisi Sebelum keberangkatan orang yang akan menunaikan ibadah haji yakni melaksanakan acara yang disebut pertemuan haji. Sanak-saudara dan tetangga diundang untuk menggelar acara maulid, tahlilan,  mendengarkan ceramah ibadah haji dan makan bersama. Pada acara itu para tamu biasanya memberikan bekal berupa uang yang nantinya uang itu akan  dibawa atau ditinggalkan untuk kebutuhan keluarga di rumah.

Ada juga kekhasan lain yang barangkali tidak dilakukan di tempat lain yaitu berupa menitipkan pas foto kepada orang yang akan berangkat haji. Paradigma yang ada dalam masyarakat Betawi ini amatlah unik, dikarenakan menitipkan pas foto kepada orang yang akan berangkat haji memberi pesan tersendiri, yang berarti foto orang yang menititipkan dibawa berhaji oleh orang yang dititipkan maka setelah foto yang tertitipkan disana pada tahun berikutnya jika dikabulkan orang tersebutlah yang akan menyusul fotonya yang terlebih dahulu telah sampai disana. orang yang akan melaksanakan ibadah haji, orang Betawi menyebutnya pegi belayar karena berangkat dan pulang menggunakan kapal layar dianggap sebagai orang yang sudah dimiliki oleh Allah.

Keluarga atau orang-orang di kampung sudah memaafkan, mengikhlaskan, dan meridlakan kepergiannya layaknya kepergian jenazah. Itu sebabnya orang Betawi melepas keberangkatan beribadah haji dengan ekspresi kepasrahan dan suasana yang sakral. Karena dianggap perjalanan hidup-mati lagi pula memakan waktu yang cukup lama (6 bulan pergi-pulang menggunakan kapal laut), maka dilepas dengan pembacaan shalawat dustur  kemudian diazankan dan diiqomatkan. Dikarenakan mengunakan kapal laut merupakan perjalanan yang panjang,  maka perlengkapan yang dibawapun tidak tanggung-tanggung.
Ada yang bawa cobek lengkap dengan isinya. Ada yang bawa ikan gabus kering atau dendeng. Tidak dilupakan pula duit gobangan untuk kerokan. Pokoknya apapun dapat dibawa. Semua itu dimasukkan ke dalam kotak besar yang disebut sahara.[7]

Selama proses pelaksanaan ibadah haji, keluarga yang ditinggalkan di rumah hanya berharap-harap cemas, apakah ayah-ibunya atau sanak saudaranya selamat dalam melaksanakan ibadah haji. Ini karena alat komunikasi ketika itu tidak secanggih saat ini. Sekarang ini setiap rumah memiliki pesawat telepon, bahkan hampir semua orang sudah mempunyai hand phone sehingga dapat berkomunikasi setiap saat. Dan selama itu pula, keluarga di rumah yang ditinggalkan melaksanakan ratiban atau tahlilan tiap malam Jum’at untuk mendoakan keselamatan anggota keluarganya yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Tradisi unik lainnya adalah ketika menyambut kedatangan orang yang pulang berhaji. Seminggu setelah lebaran haji suasana kampung akan kembali semarak. Pada moment ini warga kampung terutama keluarga yang sanak saudaranya menunaikan ibadah haji akan sibuk mempersiapkan kepulangan. Hiruk pikuk itu ditambah dengan penyiapan pada ruang tengah rumah yang sudah digelar tikar atau karpet serta disiapkan kasur di atasnya.

Disiapkan juga masakan khas Betawi terutama sayur asem, pecak ikan gurame dan makanan segar lainnya yang tidak dijumpai di tanah suci. Sementara rumah ditata, sebagian keluarga pergi menjemput ke pelabuhan Tanjung Priok. Memang kepulangan jamaah haji sangat ditunggu-tunggu. Ketika jamaah haji tiba  di rumah, maka akan dipasang petasan.

Makna pembakaran petasan ini sebagai tanda kepada warga kampung bahwa bapak dan ibu haji sudah tiba dirumahnya dengan selamat dan sehat wal’afiat. Maka tetangga datang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat. Selain itu para tetangga ini mengarapkan oleh-oleh yang dibawa dari tanah suci.

Oleh-oleh yang dibawa serta dibagi-bagikan biasanya tidak pernah luput adalah air zamzam, siwak, pacar, sipat mata, korma, tasbih, sajadah, kacang Arab, kismis, rumput fatimah, dan lain-lain. Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah dua minggu. Dan tradisi tersendiri bagi orang Betawi, bahwasanya jamaah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya santai atau nongkrong-nongkrong sebelum empat puluh hari bergulir.[8]

C. Haji dan Status Masyarakat Betawi
Dalam perspektif masyarakat Betawi, orang-orang Betawi yang telah melaksankan ibadah haji tingkatan status sosialnya dalam masyarakat menanjak naik daripada status sebelum berangkat menunaikan haji. Pandangan orang-orang Betawi terhadap orang yang telah berhaji dapat diuraikan kepada penanaman keislaman yang kuat dalam diri masyarakat Betawi. Status soisal yang disematkan dengan panggilan “Haji” inilah yang menurut pandangan masyarakat Betawi merupakan orang-orang yang telah menamatkan rukun serta kesempurnaan dalam Islamnya. Status social yang yang dianggap terhormat inilah yang menjadikan salah satu factor-faktor pendorong mengenai keutamaan orang-orang berhaji dalam masyarakat Betawi.

Kecenderungan perubahan sikap serta memang ketulusan hati bagi orang-orang berhaji yang dianggap “Mabrur” oleh orang-orang, menjadikan memang orang-orang yang telah mendapat gelar “Haji” ini merupakan orang yang baik, dermawan serta pemahaman akan keagamaannya mumpuni. Banyak kisah-kisah mengenai tokoh-tokoh “Haji” Betawi yang terkenal akan kedermawanannya serta perjuangannya yang pantang dengan harta serta berdiri dengan keikhlasan didalamnya.
Namun, yang menjadi gejala serta menimbulkan kemarahan oleh sebagian masyarakat Betawi ialah munculnya serial-serial dalam film bahwa tokoh “Haji” pada masyarakat Betawi cenderung tidak mencerminkan terhadap realitanya. Disana digambarkan bahwa seorang “Haji” adalah tokoh yang pelit dan kurang berakhlakul karimah. Padahal esensi yang amat mendalam pada segi berhaji masyarakat Betawi amatlah baik dan menunjukkan kearifan lokal yang tidaklah sembarangan.

Haji dan status masyarakat Betawi amatlah berkolerasi serta berkesinambungan. Naiknya status stratifikasi social seseorang bukanlah hal yang utama dari esensi berhaji masyarakat Betawi. Status ini hanyalah sebuah apresiasi oleh orang-orang agar semangat orang-orang yang lainnya bisa terlecut dan terjaga. Didalam status ini pula terdapat jati diri serta kearifan local yang dapat kita temui dalam masyarakat Betawi. Nilai-nilai keislaman yang telah melekat serta keteguhan dalam beragama dapat dilihat dari tradisi serta nilai-nilai sakral dalam berhaji.


BAB III
KESIMPULAN

Dapatlah kita tarik benang merah pada pembahasan ini. Haji dalam masyarakat Betawi merupakan nilai-nilai yang sakral bagi masyarakatnya. Tradisi serta budaya yang terpampang jelas dalam point-point ibadah haji bagi masyarakat Betawi merupakan sebuah kearifan local yang harus dijaga pentradisian serta pembudayaannya. 

Dewasa ini, arus globalisasi serta transmigrasi kota Jakarta yang merupakan tanah kelahiran masyarakat Betawi telah tergerus ideologi serta nilai-nilai kearifan lokalnya terhadap nilai-nilai Betawi pada umumnya. Nilai-nilai kearifan local yang telah tertanam hendaklah dijaga serta dilestarikan bersama-sama sepanjang waktu bergulir agar peninggalan leluhur tidak pudar oleh perkembangan zaman.

Nilai-nilai keislaman dalam ibadah haji pada masyarakat Betawi yang seharusnya terus dijaga dan diadopsi hingga saat ini. Keanekaragaman tradisi dan budaya dalam berhaji masyarakat Betawi merupakan sebuah potret bahwasanya masyarakat Betawi mempunyai kebudayaan yang tak kalah besar dan menarik bagi etnis-etnis lainnya. Pelestarian budaya serta warisan-warisan nenek moyang kita harus terus dijaga kestabilannya dan janganlah dilupakan, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal akan sejarah dan kearifan local bangsanya sendiri.
           
  
DAFTAR PUSTAKA

Shahab, Alwi, Saudagar Baghdad Dari Betawi, (Jakarta: Penerbit Republika, 2004)

Republika, “Haji Kok Medit?”, 2012


Redaksi kampungbetawi







Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta