Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Dialektika Fiqh Madzhab Negara


Oleh Abdul Rosyidi

Judul : Fiqh Indonesia: KHI dan CLD-KHI dalam Bingkai Politik Hukum Indonesia
Penulis : Marzuki Wahid
ISBN : 979245794-1
Tebal: xlix + 484
Terbit: 2014
Penerbit: ISIF dan Marja 

LAMA kita mendengar adanya gagasan mengenai fiqh atau hukum Islam khas Indonesia yang berbeda dengan fiqh dari negara asalnya. Seperti diketahui, fiqh merupakan pemahaman atas teks Al-Quran ataupun Hadis. Oleh karenanya, fiqh selalu menampilkan karakter umat di suatu zaman dan tempat tertentu. Karakter, masa dan ruang umat Islam Indonesia akan menghasilkan fiqh yang berbeda.

Dalam sejarahnya, fiqh seperti itu muncul diantaranya saat KH Abdurrahman Wahid pada 1975 menawarkan ide hukum islam sebagai penunjang pembangunan. Berikutnya, pada 1980-an, Munawir Sjadzali mengusulkan ide reaktualisasi ajaran Islam. Disusul dengan ide Agama Keadilan oleh Masdar F. Mas’udi pada 1990an. Kemudian pada 1991 muncul Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang diinstruksikan Presiden Soeharto. Ide fiqh sosial pada 1994 pun kemudian dimunculkan KH Sahal Mahfudh dan KH ‘Ali Yafie.

Dari sekian banyak ide tersebut, sejatinya merupakan riak kecil saja dari segenap fiqh Indonesia yang dipraktikkan oleh masyarakat. Iya, masyarakat Indonesia telah lama mengamalkan fiqh yang berbeda dengan fiqh dari daerah asalnya.

Menariknya, dalam kasus KHI, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan ternyata merasa tertarik juga turut serta dalam menghasilkan fiqh. Boleh dibiang, KHI merupakan fiqh Indonesia yang karena faktor kekuasaan yang menyertainya mempunyai dampak yang paling luas dibanding yang lainnya.

Dalam buku ini, penulis menjelaskan secara gamblang dan terperinci dengan muatan dan alur sejarahnya mengenai KHI. Buku yang dirancang dengan kacamata politik hukum ini menyorot tajam lika-liku (KHI) yang menjadi pedoman hakim dalam menyelesaikan perkara kewarisan, perkawinan, dan pewakafan.

Lahirnya KHI sendiri tidak bisa lepas dari andil Presiden Soeharto. Bahkan, Soeharto pun mengeluarkan Keppres tentang pelaksanaan proyek tersebut dengan biaya Rp230 juta yang semuanya dari kantong pribadi Sang Presiden.

Dengan demikian, jelaslah KHI merupakan sebuah produk hukum yang lahir dari proses politik Orde Baru. Maka, dengan begitu, KHI merupakan cerminan kehendak sosial dari rezim tersebut. Kehadirannya pun sejalan dengan motif-motif sosial, budaya dan politik tertentu dari Orde Baru.

KH Marzuki dari berbagai literatur pun mencermati bahwa KHI yang dihasilkan dari rezim Orde Baru itu cenderung menjadi sarana pembenaran atas institusi-institusi sosial bentukan penguasa seperti KUA dan Pengadilan Agama. KHI yang dirumuskan dengan baku dan kaku, yang dijadikan norma tunggal yang memaksa membuatnya menjadi konservatif.

Dari situ, tidak salah kiranya, saat penulis menyebut KHI sebagai fiqh madzhab negara.
Karakternya yang konservatif membuat KHI mendapat tentangan keras dari berbagai pihak. Dan yang paling gencar adalah lahirnya Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sebagai antitesa dari KHI. CLD-KHI, dimana penulis buku merupakan salah seorang anggota tim inti perumusnya, disebutkan sebagai alternatif untuk menciptakan fiqh yang lebih demokratis, pluralis dan adil gender.

Tim CLD-KHI mengatakan, sebagian pasal KHI tidak sesuai lagi dengan undang-undang yang berlaku dan sejumlah konvensi internasional yang telah diratifikasi. Selain itu, KHI juga terkesan hanya duplikasi hukum fikih ulama zaman dulu di Timur Tengah. Konstruksi KHI belum disesuaikan dengan sudut pandang umat Islam Indonesia.

Dari situ, penulis buku ini menegaskan bahwa CLD-KHI menawarkan rumusan syari’at Islam yang sesuai dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter asli kebudayaan Indonesia.
Secara umum, buku yang merupakan hasil penelitian ini menghadirkan bahwa hukum yang diciptakan manusia selalu berbeda dengan hukum Tuhan. Hukum manusia selalu niscaya untuk lapuk. 

Akhinya, buku ini patut dibaca oleh semua praktisi hukum di Indonesia, mahasiswa, akademisi, terutama dalam kajian hukum karena selain memberikan pemahaman tentang perjalanan pelembagaan hukum Islam di Indonesia, buku ini juga menghadirkan sedikit dari sekian banyak wajah fiqh Indonesia.

Konstruksi Pemikiran Sukarno Ketika Muda

Oleh Reza Fajri*

Judul Buku : Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933
Penulis : Peter Kasenda
Tebal : x + 158 hlm
Penerbit : Komunitas Bambu
Edisi : I, 2010

Pada suatu hari di tahun 1921, seorang pemuda sedang bersepeda tanpa tujuan di sebuah daerah pertanian di bagian selatan kota Bandung. Entah karena lelah atau bosan, pemuda itu berhenti sejenak dari “jalan-jalannya” dan memutuskan untuk berbincang dengan salah satu petani. Melalui perbincangan dengan sang petani tersebut, diketahui bahwa ia dan petani-petani lainnya mengerjakan sawah milik sendiri atau warisan dari orang tua. Hasilnya sangat pas-pasan, hanya untuk memberi makan keluarga sendiri, tak ada hasil lebih yang bisa dijual. Ketika pemuda tersebut menanyakan namanya, petani tersebut menjawab: Marhaen.

Sukarno bukanlah seperti Hatta yang di usia 16 tahun sudah menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, atau Sutan Sjahrir yang menjadi tokoh Perhimpunan Indonesia sebelum menginjak umur 20 tahun. Sewaktu mulai bersekolah di Technische Hoge School (sekarang Institut Teknologi Bandung), ia sebenarnya mungkin masih ragu mengenai pilihan karirnya. Namun setelah berbincang dengan seorang petani bernama Marhaen, Sukarno kemudian menemukan satu konsep yang bisa mengubah kehidupan rakyat kecil, yaitu dengan melawan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Konsep “Marhaenisme” memberikan sumbangan yang besar bagi konstruksi pemikiran politik Sukarno. Melalui Marhaen, ia terinspirasi untuk mengkaji dan menganalisis sifat-sifat masyarakat kecil dan pemerintah kolonial. Nama petani kecil asal Bandung Selatan tersebut ia jadikan sebagai simbol rakyat kecil (petani, buruh, nelayan) yang paling menderita karena kekejaman kaum penjajah. Istilah “Marhaen” menjadi terkenal saat digunakan oleh Sukarno dalam pledoinya Indonesia Menggugat di Pengadilan Negeri Bandung pada 1930. Lebih lanjut konsep marhaenisme kemudian disahkan dalam kongres Partindo pada 1933, sebagai dasar-dasar politik. Melalui 9 tesis konsep Marhaenisme yang Sukarno paparkan dalam kongres tersebut, ia mengharapkan adanya persatuan dari seluruh kaum tertindas di Indonesia, agar kemerdekaan dari kekuasaan Belanda bisa segera diperoleh.

Konstruksi pemikiran Sukarno di era 1926-1933 itulah yang menjadi tema dalam buku Sukarno Muda:Biografi Pemikiran 1926-1933. Buku karya Peter Kasenda tersebut sejatinya adalah skripsi sang penulis saat menempuh studi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia pada 1987. Dalam penerbitan buku ini, Peter Kasenda sengaja tidak melakukan perubahan dalam skripsinya. Sehingga pembaca akan dibuat seperti sedang membaca sebuah skripsi.

Dalam skripsi yang judul aslinya adalah “Machtsvorming dan Machtsaanwending: Studi awal terhadap tulisan-tulisan Sukarno tahun 1926-1933” tersebut, sang penulis berusaha menceritakan proses lahirnya pemikiran-pemikiran politik Sukarno di era 1926-1933, di mana saat itu masyarakat sedang diliputi semangat anti kapitalisme dan imperialisme. Pada saat itu juga Sukarno sedang giat mengirim tulisan-tulisannya kepada beberapa surat kabar seperti Indonesia Moeda, Soeloeh Indonesia Moeda, dan Fikiran Ra’jat.

Kemudian, dalam buku ini pembaca juga bisa mengetahui perbedaan-perbedaan pendapat yang sering terjadi antara Sukarno dengan Hatta. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang mungkin mempengaruhi hubungan keduanya di masa mendatang. Di samping itu Peter Kasenda juga memaparkan bagaimana ajaran Karl Marx bisa menginspirasi pandangan Sukarno terhadap kepentingan pergerakan Indonesia.

Selain skripsinya, penulis juga menambahkan sebuah post-script, yang berisi tentang bagaimana konsistensi pemikiran Sukarno saat ia menjadi pemimpin pergerakan, presiden, sampai ke detik-detik terakhir hidupnya. Ada beberapa istilah dalam buku ini yang mungkin baru pembaca lihat. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena terdapat anotasi di bagian akhir buku.

Sukarno ketika muda, mungkin sama dengan pemimpin-pemimpin besar dunia lainnya, menunjukan bahwa kegiatan membaca dan menulis bisa menjadi langkah paling awal dan sederhana dalam menuju kedewasaan berpolitik. Politisi atau presiden yang baik tentunya harus melalui proses yang panjang dan melelahkan agar bisa melahirkan pemikiran-pemikiran yang cemerlang. Tidak percaya? Silahkan tanya Rhoma Irama...

Penulis adalah pemilik akun Twitter @rezafajri

Di Senja Ini, Aku Menemukan Kisah Kita

 ~ Review Forever Sunset  

Oleh Dave Siahaan*
 
Kita tidak bisa memilih angin atau ombak seperti apa yang datang ke perahu kita. Tapi kita bisa memilih, ke pelabuhan mana kita akan berlabuh ~ Forever Sunset hal. 210
 angkringanwarta
Senja memang sementara, tapi tidak untuk cinta. Keabadian cinta itulah yang coba digambarkan Stanley Meulen dalam novelnya yang manis; Forever Sunset (Moka Media, 2014) dengan coba mengulik kisah antara Dinda, seorang gadis kota, dan Zora, seorang petualang alam, yang penuh dengan liku dan kesederhanaan. Tapi, tetap saja, sebagaimana pertemuan lainnya, pasti akan ada perpisahan setelahnya.

Novel ini dimulai  dengan prologDinda yang bercerita akan sosok Zora yang dikenalnya sebagai orang yang cuek, tapi entah kenapa hal itu justru membuatnya yakin, ia menyayanginya melebihi apapun, bahkan dirinya. Tapi, kisah cinta ini harus terpisahkan jarak sebab Dinda harus bersekolah di Sidney, Australia, dan Zora tetap berpetualang dan saat ini ia sedang berada di Bali. Zora pun setia menunggu hingga akhirnya Dinda pun pulang ke Indonesia.

Keduanya bertemu di Bali dan mereka menumpahkan segala rindu yang membuncah sebab terpisahkan jarak, dan waktu. Laiknya dua burung terbang yang enggan pulang, keduanya pun menjelajahi keindahan Bali dan saling bercengkerama sepanjang hari.

Dalam detik ini, satu hal yang membuat novel ini tidak kehilangan esensi timur adalah tidak adanyamaking love seperti halnya dalam novel/film kebanyakan. Untuk hal ini, satu jempol untuk Stanley yang berhasil menjaga ini. Sebab cinta, kalau sudah dibumbui hal itu, saya rasa adalah nafsu dan Forever Sunset salah satu yang menjaga kemurnian itu. 

Tapi di tempat ini,  sebetulnya kisah ini bermula, pada sebuah senja, mereka mengikat janji. Zora melamar Dinda untuk dijadikan istrinya dan tepat pada senja hampir tenggelam. Romantis. Tentu saja, Dinda tak bisa berkata-kata lagi selain mengangukkan kepala, dan berciuman—entah kenapa adegan ini yang paling aku suka. Lalu Dinda izin pulang untuk memberi tahu keluarganya di Jakarta perihal kebar baik ini.

Tapi kepulangan Dinda ini hanyalah awal dari bencana. Ia ternyata sudah dijodohkan dan harus menikah dengan rekanan bisnis ayahnya. Apalagi setelah ia bercerita tentang Zora, seorang yang tidak jelas muasalnya itu. Keluarga murka, dan Zora yang saat itu tidak terima. Ia pun menghubungi Dinda dan mendapatkan kekecewaan yang serupa; Dinda telah berubah dan memilih lelaki lain. Akhirnya, mereka pun berpisah dan Dinda menikah.

Setelahnya, kehidupan Zora tak lebih dari sekadar tulang yang berjalan. Ia seperti kehilangan sosok riang yang membuatnya memiliki banyak teman, dan yang lebih penting; ia kehilangan tujuan hidupnya. Hingga ia akhirnya menyadari dan memilih untuk tinggal di Bali, bersama senja yang bisa ia tatap selamanya.
Dan ia yakin, senja itu adalah Dinda, cintanya yang hilang itu. Ia bisa terus memotret senja dan di suatu hari ia bertemu dengan sosok gadis lain, dengan pakaian Bali yang eksotis, dan ia pun memotretnya dengan lanskap senja temaram yang membuatnya takjub. Gadis itu bernama Galuh.

Pada titik ini, ia teringat akan cintanya yang hilang—yang sebenarnya tak ingin kembali dikenangnya.
Waktu pun bergulir dan hampir bertahun-tahun setelahnya, ternyata Dinda menjalani rumah tangga yang amburadul. Suaminya ternyata orang yang pemarah, suka memukul dan akhirnya Dinda jatuh sakit dan membuatnya hanya mempunyai waktu yang sedikit. Dinda pun bercerai dan akhirnya orang tuanya sadar bahwa kebahagiaan, apapun bentuknya, tidak bisa dipaksakan. Ia akan datang dengan sendirinya jika ada cinta di dalamnya.

Dan kebahagiaan itu Zora. Tapi semuanya sirna, sebab ia tidak tahu lagi dimana sosok itu.
Hingga pada suatu ketika, untuk meringankan sakitnya, keluarga Dinda disarankan untuk mengajaknya bepergian. Dinda memilih Bali sebab ia ingin melihat senja, yang mengingatkannya pada Zora, lelaki yang pernah ia sakiti.

Saat Dinda jalan-jalan itu, ia bertemu dengan Zora yang sedang bersama Galuh. Sontak, hal ini membuatnya kaget dan tidak percaya.

Entah kenapa, pada saat ini, aku teringat sebuah idiom klasik bahwa cinta tidak harus memaafkan. Cinta sejati itu yang membuat Zora melupakan segala sakit hati, apalagi selepas ia tahu bahwa ia Dinda juga menderita seperti halnya dirinya. Mereka pun bersatu dan Galuh juga merelekan mereka berdua.
Tapi, lagi-lagi, senja memang sementara seperti halnya kebersamaan mereka. Keajaiban memang terjadi, Dinda secara perlahan sembuh. Tapi, Zora akhirnya meninggal beberapa tahun kemudian.

Begitulah kisah cinta Zora dan Dinda dengan senja sebagai penguat mereka, dan entah kenapa, aku jadi teringat diriku dan seorang yang entah kapan lagi akan bisa kutemui. Mungkin di sebuah senja, seperti halnya mereka berdua.

Forever Sunset telah mengingatkanku kembali bahwa, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Seperti halnya senja yang sementara dan cinta sejati akan tetap abadi. Maka, aku begitu yakin lewat novel ini, di senja ini, aku menemukan kembali kisah kita.





In Utero: Kegelisahan Yang Tak Bisa Dikekang


Oleh  Reza Fajri*

In Utero
Rilis       : 13 September 1993
Genre     : Grunge, alternative rock
Label      : DGC
Produser            : Steve Albini
Sepanjang karirnya, Nirvana hanya mengeluarkan tiga album studio, yaitu: Bleach (1989), Nevermind (1991) dan In Utero (1993). Album pertamanya yaitu Bleach, tidak setenar dua album berikutnya. Hal ini diakui sendiri oleh Kurt Cobain ketika ingin memainkan lagu About a Girl di acara MTV Unplugged in New York. “This is off our first record, most people don’t own it”, ujarnya. Album kedua Nevermind, yang berhasil mendobrak dominasi musik hair metal, menjadi album Nirvana yang paling banyak terjual.
Namun album In Utero lah yang paling spesial bagi saya. Album inilah yang paling “Kurt Cobain banget” ketimbang dua album selanjutnya. Seolah-olah segala hal yang ada di album ini, mulai dari musik, lirik dan artwork adalah isi hati dan pikiran dari Kurt. Pendeknya album ini adalah perwakilan dari jiwa seorang Kurt Cobain.
Kepopuleran Nevermind yang mendunia justru malah membuat Kurt, Krist Novoselic dan Dave Grohl menjadi gelisah. Pasalnya mereka selalu ditekan oleh label untuk bisa membuat album yang bisa menyamai kesuksesan dari Nevermind. Tekanan seperti ini justru malah membuat jiwa pemberontak Kurt menjadi-jadi. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone di tahun 1992, ia malah mengatakan bahwa album selanjutnya akan lebih ekstrim dan akan berbeda jauh dengan Nevermind. Pernyataan yang tentu saja membuat label menjadi berang.
Untuk membuat album yang “berbeda” ini, para personil Nirvana kemudian menggaet Steve Albini sebagai produsernya. Mereka percaya kepada Albini karena kapasitasnya sebagai produser dari band-band indie. Tidak hanya Albini, Jack Endino yang sebelumnya pernah memproduseri album pertama Bleach, juga diikutsertakan dalam proyek ini.
Proses penggarapan album dimulai sejak 12 Februari sampai 26 Februari 1993, di daerah terpencil di Minnesota. Setelah proses rekaman selesai, DGC sempat ragu dengan album tersebut, karena dinilai tidak akan laku di pasaran. Padahal setelah dirilis, album ini justru meraih pencapaian yang positif, yaitu dengan menduduki posisi pertama Top 200 Albums di majalah Billboard, serta terjual sebanyak 15 juta kopi di seluruh dunia.
Seperti yang telah disinggung di atas, Nirvana menjadikan album ini sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kegelisahan, kemarahan dan tentunya pemberontakan terhadap industri musik yang hanya ingin meraup keuntungan semata. Lirik-lirik pedas mereka teriakan dalam album ini, seakan ingin menyampaikan kemuakan mereka terhadap pihak label yang ingin mengekang mereka supaya mereka bisa membuat lagu-lagu yang gampang terjual. Kualitas sound dalam album ini pun dibuat lebih berisik, seolah ingin mengatakan bahwa Nirvana tidak perlu bermanis-manis agar musiknya bisa laku terjual.
Jika kita melihat daftar track di album ini, judul-judul lagunya memang banyak yang terdengar kurang lazim di telinga, seperti: Rape Me, Frances Farmer Will Have Her Revenge on Seattle, atau Milk It. Lagu Rape Me yang judulnya dianggap terlalu vulgar, sempat ditentang oleh label dan ditolak oleh K-Mart dan Wal-Mart.
Kegelisahan-kegelisahan Nirvana yang dituangkan secara agresif dalam album ini, sedikit banyak menggambarkan industri musik saat itu yang sering memperlakukan sebuah band sebagai sapi perahan untuk mengeruk keuntungan. Kemuakan Nirvana ini bisa kita lihat dalam lagu-lagu seperti Heart Shaped Box dan Pennyroyal Tea. Lagu Heart-Shaped Box bercerita tentang betapa menakutkannya, jika kita dikurung dan dipaksa untuk melakukan berbagai kepalsuan demi keuntungan orang lain.
Pennyroyal Tea sebagai lagu ke-9 dalam album ini, memiliki makna yang ambigu. Penny memiliki arti uang receh, sedangkan Royal Tea adalah plesetan dari Royalty. Lirik dalam lagu ini seakan sedang menggambarkan keterasingan yang dialami Kurt dan kawan-kawannya. Terasing dan hanya menerima imbalan sebagai seorang penghibur yang diasuh oleh label.
Sebagai penutup di album yang penuh dengan kemarahan, kemuakan dan kegelisahan, All Apologies nampaknya menjadi pilihan yang tepat. Lagu ini berisi tentang permintaan maaf, namun maaf karena apa dan untuk siapa tidak begitu jelas. Mungkin saja permintaan maaf karena telah menyuarakan kejujuran dan isi hati dalam album ini.

Track Listing:
1.      Serve the Servants – 3:36
2.      Scentless Apprentice  – 3:48
3.      Heart-Shaped Box – 4:41
4.      Rape Me – 2:50
5.      Frances Farmer Will Have Her Revenge on Seattle – 4:09
6.      Dumb – 2:32
7.      Very Ape – 1:56
8.      Milk It – 3:55
9.      Pennyroyal Tea – 3:37
10.  Radio Friendly Unit Shifter – 4:51
11.  Tourette's" – 1:35
12.  All Apologies – 3:51


*Penulis adalah pemilik akun Twitter: @rezafajri

Perlawanan Petani Tembakau

 Oleh Ahmad Suhendra*

Tembakau merupakan tanaman yang mampu bertahan tetap hijau, bahkan semakin membaik mutunya saat kemarau tiba. Salah satu produk yang dihasilkan dari tanaman yang memiliki nama latin nicotiana tabacum ini adalah kretek.

Rokok kretek murni terlahir dalam rahim masyarakat pribumi. Tidak heran jika dikatakan bahwa kretek adalah bagian dari budaya Nusantara. Sehingga sudah mendarah daging dalam masyarakat pribumi.

Beberapa bulan yang lalu tembakau menjadi sorotan serius. Media nasional banyak membicarakan tembakau dari masalah kesehatan sampai pada permasalahan perekonomian petani tembakau. Pembicaraan itu terkait dengan beberapa undang-undang yang berkaitan dengan tembakau.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang mendukung pemberlakuan itu beralasan bahwa rokok itu merusak kesehatan. Masalah perekonomian para petani juga tembakau juga menjadi sorotan para pengkritik rokok.

Namun, bagi para petani tembakau UU itu jelas-jelas sangat merugikan mereka. Mereka merasa dimiskinkan dengan pemberlakukan UU tersebut. Karena membatasi penjualan tembakau (lokal), dan hanya menguntungkan pihak asing (tembakau impor). Penerapan ratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) juga menjadi bumerang bagi para petani tembakau. Alasannya, ratifikasi tersebut dapat mengancam industri rokok rumahan. Pasalnya, ratifikasi memaksa petani tembakau dan pelaku industri kelas menengah untuk melakukan standarisasi produk tembakau.

Kehadiran buku ini hendak menawarkan pembacaan tembakau dari penghayatan petani tembakau sendiri. Sebagai salah satu petani tembakau, Wisnu Brata, merasa perlu mengklarifikasi isu yang berkembang terkait tembakau dan petani tembakau. Hal ini dilakukan bukan demi tembakau, tetapi, demi hidup kami sendiri, para petani tembakau.

Sarjana Ekonomi ini melakukan kajian dengan menyibakkan fakta terkait isu miring tembakau. Di antara data itu, dia peroleh dari para petani tembakau di sekitar tiga gunung Jawa Tengah, yakni Sumbing-Sindoro-Prau, khususnya wilayah Temanggung. Upaya itu dia lakukan agar memperoleh data yang akurat dan tepat. Selain itu, Brata juga mengalami sendiri kehidupan sebagai petani tembakau.

Dengan adanya perundang-undangan antitembakau yang akan terpapar lebih parah oleh produk itu adalah pabrik-pabrik rokok lokal dan petani tembakau setempat (halaman 52). Karena tembakau lokal memiliki kandungan nikotin dan tar yang cukup tinggi, sehingga tidak memenuhi persyaratan yang termuat dalam undang-undang tersebut. Akhirnya, para produsen rokok akan menggunakan tembakau impor yang memiliki kadar nikotin sesuai dengan batas yang telah ditentukan.

Tembakau: Tanaman Wali

Bagian pertama buku ini menguraikan tentang asal-usul tembakau. Para petani tembakau di sekitar Tiga Gunung di Jawa Tengah itu meyakini bahwa tembakau berasal dari salah satu Wali Sembilan (Wali Songo) di Nusantara, yakni Sunan Kudus. Oleh karenanya, para petani tembakau selalu mengadakan prosesi selametan (halaman 4).

Hal itu tidak sertamerta mereka meyakini sebagai mitologi semata. Tembakau merupakan tanaman yang sangat penting bagi masyarakat sekitar tiga gunung itu. Tanaman ini akan semakin hijau ketika kemarau terjadi. Selain nilai jual yang cukup stabil disbanding dengan tata niaga yang lainnya. Wajar, jika para petani tembakau menolak untuk beralih ke komoditas lain.

Padahal, pilihan petani menanam tembakau mendapatkan perlindungan dalam UU No. 12 Tahun 1972. Pada Pasal 6 dikatakan bahwa petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaannya. Artinya, pemerintah tidak bisa memaksakan kehendak kepada petani untuk mengganti tanaman tembakau ke jenis tanaman lain.

Jika memang mau dikatakan, ditemukan keburukan dalam dunia pertembakauan Indonesia. Hal itu bukanlah menunjukkan buruknya pertembakauan Indonesia, melainkan buruknya sektor pertanian secara keseluruhan (halaman 123). Sepatutnya ini menjadi pembenahan pertanian di Indonesia sebagai salah satu negeri agraria terbesar, bukan lantas memberangus tembakau dengan komoditas lain.

 Laskar Kretek

Berbagai macam serangan terhadap tembakau, dari kalangan ilmuwan sampai pemegang regulasi sangat menyudutkan petani tembakau. Untuk itu diperlukan sebuah wadah yang dapat mempertahankan dan membela para petani tembakau dengan membentuk “Laskar Kretek”. Laskar ini sebagai sebuah bentuk perlawanan para pemuda petani tembakau dalam menghadapi segala serangan yang ada.

Laskar Kretek adalah barisan simpatik yang mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia, khususnya kretek. Mereka bergerak di lapangan untuk menghadapi berbagai bentuk deskriminasi terhadap petani dan produk tembakau (halaman. 102). Sebagai wujud nyata dari kedaulatan petani tembakau Indonesia, tembakau harus terus ditanam dan kretek harus diselamatkan. Karena menurut Brata, dengan menyelamatkan kretek sama artinya dengan menyelamatkan Indonesia.

Jika hendak turut memperjuangkan agar nasib dan keuntungan petani lebih baik, Brata mengajak masyarakat Indonesia bersama-sama petani tembakau untuk memperbaiki yang sudah ada. Namun, jangan coba-coba membongkar, apalagi memberangusnya dan mengkondisikannya, baik dengan halus maupun dengan kasar, agar petani berpaling kepada tanam lain, itu tak bisa diterima (halama 46).

Buku ini layak menjadi salah satu referensi bagi anda yang ingin mengetahui permasalahan tembakau. Karena fakta-fakta yang tersaji di dalamnya adalah berangkat dari realitas petani, termasuk penulisnya. Sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih objektif dan komprehensif terkait permasalahan tembakau. Walaupun, tidak dapat dipungkiri, Brata cenderung mengesampingkan masalah kesehatan yang diakibatkan oleh rokok.

 Judul        :  Tembakau atau Mati: Kesaksian, Kegelisahan, dan Harapan Seorang Petani Tembakau
Penulis    :  Wisnu Brata
Penerbit   :  Indonesia Berdikari
Tahun      :  2012
Tebal        :  VIII + 138
ISBN         :  978-602-99292-5-6




 *) Peresensi adalah Ahmad Suhendra, Anggota Perhimpunan Mahasiswa Bogor-D.I. Yogyakarta (Pamor-Raya).

Mengantar Sapardi ke Gerbang

Oleh A. Zakky Zulhazmi *

Buku kumpulan puisi Lima Rukun terbit bersamaan dengan pameran seni lukis dan puisi bertajuk sama di Studio Jeihan, Bandung, 28 September hingga 5 Oktober, 2013. Pameran tersebut menghadirkan lima penyair-pelukis: Acep Zamzam Noor, A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Jeihan Sukmantoro dan Sapardi Djoko Damono.

Buku puisi Lima Rukun berisi 52 puisi yang bukan puisi baru. Dapat dijumpai misalnya puisi ‘Ibu’ D. Zawawi Imron atau puisi ‘Ayat-Ayat Api’ Sapardi Djoko Damono. Juga puisi mbeling Jeihan Sukmantoro yang tak berkurang kembelingannya hingga sekarang. Pemilihan puisi di buku Lima Rukun erat kaitannya dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan.

Adapun pameran dan penerbitan buku Lima Rukun sejak awal diniatkan Jeihan sebagai ‘pentahbisan’ Sapardi Djoko Damono menjadi pujangga. Menurut pengakuan Jeihan, ide ini bermula dari obrolannya dengan Gus Mus (A. Mustofa Bisri) beberapa bulan silam. Terungkap keresahan Jeihan akan absennya pujangga di Indonesia hari ini. Padahal, dahulu kehadiran pujangga penting untuk ikut menentukan kebijakan raja, semisal Ronggowarsito di kraton Surakarta. Keresahan Jeihan disambut pula oleh D. Zawawi Imron dan Acep Zamzam Noor. Keempatnya sepakat bahwa saat ini Sapardi telah mencapai taraf pujangga. Sapardi telah selevel dengan Amir Hamzah.

Adalah Jakob Sumardjo yang diberi ‘beban’ mendedahkan argumen kepujanggan Sapardi. Jakob Sumardjo, pada catatan penutup buku kumpulan puisi Lima Rukun, menceritakan beberapa tahun terakhir ini Jeihan kerap menyampaikan kepadanya sebuah konsep: puncak seni adalah puisi, puncak puisi adalah filsafat, puncak filsafat adalah sufi. Jeihan berpendapat jika Sapardi telah memenuhi rumusan itu. Sapardi tak hanya seorang penyair, tapi juga seniman, intelektual, dan filsuf yang sarat muatan

Selanjutnya, Jakob Sumardjo memberi penjelasan makna pujangga (dari kata pu dan jangga, berarti empu dan leher). Menurut Jakob, pujangga berarti master atau maestro jalan kerohaniaan atau keilahian. Dunianya adalah spriritualitas. Jika dikembalikan pada taraf sufi dalam gagasan Jeihan, pujangga itu berada di tingkat ujung hakikat, satu tingkat sebelum masuk ke pengalaman makrifat. Penjelasan Jakob dilengkapi gambar/skema guna memudahkan pembaca memahami argumen kepujanggan Sapardi.

Jakob melihat kesufian/kepujanggan Sapardi antara lain pada sajak ‘Prologue’, ‘Jarak’, ‘Tuan’, ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’, ‘Kami Bertiga’, ‘Akuarium’, ‘Sonnet: Hei! Jangan Kaupatahkan’, dan ‘Metamorfosis’. Uraian Jakob mengenai sajak-sajak tersebut dirasa cukup menjadi argumen kokoh kepujanggaan Sapardi. Pun demikian perdebatan mengenai argumen Jakob tetap terbuka.

Catatan penutup Jakob Sumardjo menjadi kekuatan buku puisi Lima Rukun. Penyeimbang dari absennya puisi-puisi baru masing-masing penyair. Meski sebetulnya puisi yang dipilih masuk antologi ini dapat dibaca sebagai satu kesatuan untuk mengantar Sapardi menjadi pujangga. Kekuatan lain buku ini adalah biografi singkat para penyair-pelukis yang terasa ‘segar’ lantaran ditulis khusus untuk buku ini, walaupun sebagian informasi bisa dibaca di buku mereka terdahulu.

Buku ini, menurut pengakuan Jeihan, hendak menyentil pemerintah atau siapa saja yang memberikan gelar atau pengharagaan tanpa memberi argumen yang kuat. Ia kesal dengan penghargaan abal-abal yang saat ini menjamur. Ibarat sebuah kota, buku ini dapat dipandang sebagai tugu yang menjadi penanda. Tugu yang akan terus dikenang orang.

 Judul        : Lima Rukun
Penulis    : Acep Zamzam Noor, A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Jeihan Sukmantoro dan Sapardi Djoko Damono.
Penerbit    : Jeihan Institut bekerjasama dengan Editum
Cetakan    : I, September, 2013
Tebal        : 182 halaman
ISBN        : 978-602-8876-17-9


*Penulis bergiat di Komunitas Surah.






Malaikat Bersayap Kiri

Oleh Aditia Purnomo 

Kiri selalu diidentikan dengan hal-hal yang negatif. Pembangunan paradigma ini dilakukan terus menerus selama puluhan tahun dan berkembang menjadi sebuah doktrin, “kiri” adalah sesat. Sosialisme, Komunisme, dan segala hal yang diidentikkan dengan kiri dijauhi. Karena “kanan”, kapitalisme dan liberalisme adalah yang paling benar.

Begitulah perlakuan pemenang perang dunia kepada kiri. Kejatuhan Sovyet sebagai poros besar kekuatan “kiri” menjadi momen dimana kiri dihabisi oleh para lawannya. Pembangunan cerita kekejaman kiri dilangsungkan, kiri adalah pelaku kejahatan kemanusiaan, kiri adalah penjahat perang, dan kanan yang menjadi pahlawan.

Akibatnya, “kanan” yang dipercaya memegang kendali dunia. Melalui tangan-tangannya, “kanan” memberi bantuan pada Negara-negara yang membutuhkan. Pinjaman utang melalui Bank Dunia atau Lembaga Moneter Internasional diberikan tanpa cuma-cuma. Akhirnya, Negara-negara miskin dijadikan lahan untuk dihisap kekayaan alamnya.

Ketergantungan, inilah yang kemudian dihadapi Negara-negara penghamba bantuan, termasuk Venezuella. “Kanan” seperti menjadi candu bagi mereka yang tak mampu melepaskan diri dari hutang yang menjerat. Sebagai tumbal, ketidakmampuan untuk membayar hutang ini, “kanan” kemudian menghisap kekayaan alam yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Hugo Chavez sadar akan hal ini. Ia yang dibesarkan dari lingkungan memprihatinkan kemudian tergerak hatinya untuk membebaskan bangsanya dari cengkraman tangan setan bernama “kanan”. Kemudian, ia juga melakukan daya upaya untuk menghancurkan pola pikir bahwa “kiri” adalah hal yang tidak baik.

Ketika Kahlil Gibran mengejawantahkan cintanya pada puisi-puisi, El Commandante berpuisi dalam perbuatan; ketika menggelontor korban tsunami Aceh dan gempa Haiti dengan bantuan yang besarnya ”keterlaluan”, memapah Jamaika yang diamuk hutang 16 triliun dollar Amerika, hingga merangkul Mahmud Ahmadinejad yang kesepian akibat hoax program senjata nuklir, di Iran sana.

Begitulah Chavez, ia berani melakukan subsidi minyak dengan cuma-cuma pada Negara-negara yang membutuhkan. Ia sadar, Venezuella memiliki alat perang ampuh bernama minyak yang dibutuhkan berbagai Negara termasuk empunya “kanan” Amerika Serikat. Dengan minyak, ia melepaskan Venezuella dari jeratan hutang dan berkembang sebagai Negara penolong bagi Negara miskin di dunia.

Ia membuktikan pada dunia, bahwa paradigma yang selama ini dipropagandakan adalah salah, “kiri” bukanlah sesuatu yang menakutkan bahkan “kiri” adalah penolong bagi semua. El Commandante kemudian mendorong Negara-negara dunia untuk mandiri dan tidak bergantung pada Bank Dunia apalagi IMF. Venezuella bahkan mendorong untuk membuat Bank Pembangunan Amerika Latin sebagai tandingan bagi Bank Dunia.

Begitulah Chavez. Ketulusannya dalam membangun dunia tanpa ketidakadilan benar-benar tergambar dalam buku yang ditulis Tofik Pram ini. Dalam buku “Hugo Chavez Malaikat Dari Selatan”, perjuangan yang mengharukan dari Chavez benar-benar mampu disajikan dengan baik untuk para pembaca. Tak hanya itu, penulis juga menampilkan sosok Chavez sebagai manusia yang mencintai sastra dan wanita.

Sebagai buku biografi, buku ini mampu mengulas pemikiran dan menjelaskan kebijakan Hugo Chavez sebagi Presiden Venezuella dan pelopor kebangkitan dunia untuk melawan kesewenang-wenangan “kanan” terhadap dunia. Tak diragukan, buku ini sangat layak dibaca oleh masyarakat, apalagi orang-orang yang masih merasakan ketidakadilan.

Sambil mengutip kalimat endorsement dari Sudjiwotedjo, buku tentang Chavez ini sebaiknya menjadi bacaan wajib kecuali bagi para pengkhianat bangsa yang sudah tenteram dan makmur untuk sementara waktu sebagai boneka-boneka kapitalis global.

Hugo Chavez Malaikat Dari Selatan
Penulis       : Tofik Pram
Ukuran        : 13 X 20,5 cm
Penerbit      : Imania
ISBN          : 978-602-7926-02-8

Memahami Bung Karno Secara Utuh

Oleh : Aditia Purnomo*

Soekarno, Presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia selalu dikenal sebagai dwi tunggal. Bersama M. Hatta, ia menjadi sosok yang dikenang rakyat Indonesia. Ya, selalu dikenal dengan sebutan Soekarno-Hatta. Ia selalu dikenal bersama Hatta, dikenang bersama Hatta, jarang dikenang secara personal.


Dalam kurikilum sekolah, perjuangan Soekarno sebagai aktivis perjuangan kemerdekaan hampir tidak dibahas. Karya tulis maupun arsitekturnya (perlu diingat, Soekarno adalah seorang insinyur) hampir tidak pernah dibahas. Begitu pula pidato pembelaannya di pengadilan Hindia Belanda yang tersohor dengan nama “Indonesia Menggugat”, hanya segelintir anak bangsa yang tahu.


Pemahaman yang setengah-setengah inilah yang membuat segelintir anak bangsa itu untuk memberi pemahaman yang penuh akan Bung Karno. Roso Daras adalah salah satunya. Melalui buku “Total Bung Karno”, ia memaparkan penggalan kisah hidup putra sang fajar.


Dimulai dengan pertemanan Soekarno muda dengan penjara, Roso Daras memaparkan berbagai kisah Bung Karno secara ringan. Meski begitu, buku ini layak dibaca anak bangsa karena buku ini menyajikan Soekarno secara utuh. 


Kisah Soekarno dimulai dari pergaulannya dengan HOS Tjokroaminoto. Pimpinan Sarekat Islam itu menjadi bapak kos sekaligus guru politik Soekarno muda. Berlanjut pada aktivitas politik bersama PNI yang membawanya berkenalan dengan pekatnya penjara Banceuy dan Sukamiskin. 


Meski begitu, sebagai pejuang yang setia, ia tidak gentar menghadapi ancaman penjara. Bahkan, ia berkata “Seorang pimpinan tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.” Itulan jawaban seorang revolusioner menanggapi isu dirinya akan tobat setelah dipenjara.


Cobaan perjungan Bung Karno memang bukan hanya penjara. Sebagai bayaran pemerintah kolonial atas jasa-jasa Soekarno memprovokasi rakyat untuk merdeka, ia pernah dibuang ke Bedan, Bangka, juga Flores. Bayaran setimpal yang ditanggungnya untuk kemerdekaan Republik.


Namun, buku ini tak hanya membahas soal perjuangan Soekarno. Kisah-kisah ringannya sebagai “Don Juan” yang dikagumi dan mengaggumi wanita juga terdapat di buku ini. Seperti kisah kedekatannya dengan Marilyn Monroe dan Joan Crawford sang bintang Holliwood.


Kisah cintanya dengan para istri juga tertuang, baik dengan Inggit Ginarsih, Fatmawati, Hartini, juga sang jelita Ratna Sari Dewi. Kisah epik cinta mereka yang diakhiri kematian sang pemimpin besar Revolusi, dengan kisah yang epik pula.


Begitulah Soekarno yang dicintai dan mencintai rakyat. Soekarno yang dikagumi oleh bangsa asing dan para pemimpinnya. Juga Soekarno sang pemimpin besar revolusi. Memang benar Soekarno telah mati dan dibuat mati kembali oleh rezim setelahnya. Namun, pemikiran dan kisah-kisahnya takkan pernah mati dengan hadirnya buku-buku seperti ini.


Judul    Total Bung Karno : Serpihan Sejarah yang Tercecer  
No. ISBN    9786027926004
Penulis    Roso Daras
Penerbit    Imania (Pustaka Iman)
Jumlah Halaman    444 


*Penulis adalah anak dari pengagum Soekarno.

Pemberontakan, Kecintaan, dan Perjuangan Kartini

Habis gelap terbitlah terang. Mungkin hanya kalimat itu yang paling identik dengan sosok perempuan bernama Kartini. Bergelar Raden Ajeng, Ia dianggap sebagai pahlawan bangsa, khususnya para wanita karena semangatnya memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Memperjuangkan hak emansipasi, tetapi tetap terpingit, dikawinkan paksa, melahirkan dan mati pada akhirnya.

Gambaran seperti itulah yang diberikan oleh rezim orde baru terhadap Kartini tanpa melihat sisi kehidupannya yang lain. Padahal, masih ada banyak sisi hidup yang dimiliki Kartini. Mungkin tak banyak yang tahu ketertarikan Kartini terhadap sastra, melalui puisi-puisi yang ditulisnya. “Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya Seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang indah di dalam hidup ini adalah puisi,” begitu katanya.

Sisi lain inilah yang coba diangkat Pramoedya Ananta Toer dalam buku Panggil Aku Kartini Saja. Dalam bukunya Pram mencoba menggambarkan sosok utuh Kartini yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Kartini, bagi Pram, adalah gadis muda yang memiliki gagasan hebat untuk memajukan kehidupan rakyatnya. Kartini hidup pada masa yang sulit dimana penjajahan terjadi di Indonesia. Tak hanya itu, budaya Jawa yang tak lepas dari kehidupan Kartini membuatnya tak bias melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Dan hal inilah yang membuatnya memberontak terhadap penjajahan dan budaya tersebut.

Sebagai anak dari seorang bupati yang terpelajar, Kartini beruntung bisa mendapatkan pendidikan belanda yang pada masa itu mustahil didapatkan wanita lain. Apalagi ia berasal dari keluarga bangsawan jawa yang sangat tidak menganjurkan anak perempuan untuk menikmati dunia luar sebelum masa kawinnya tiba. Meski ketika selesai sekolah rendah, ayahnya tidak dapat menuruti keinginan kartini untuk sekolah lebih lanjut karena budaya tersebut.

Menurut Pram, Kartini sangat menderita akibat pemingitan. Kartini sangat mencintai pendidikannya, namun di lain pihak dia juga tidak dapat memungkiri bahwa rasa cinta kepada ayahnya juga sangat mendalam. Akhirnya Kartini memilih bungkam agar tidak menyakiti perasaan ayahnya.

Meski begitu, ayah Kartini bukannya tidak menderita. Sebagai seorang terpelajar, tentu saja dia mengetahui bagaimana penderitaan puteri tercintanya. Namun, kedudukannya sebagai bangsawan tinggi tidak memungkinkannya untuk mengambil tindakan yang dapat membahagiakan Kartini.

Beruntunglah Kartini dengan pendidikannya. Meski mederita dalam pemingitannya, ia akhirnya menemukan cara untuk menumpahkan segala isi hatinya, yakni menulis. Kartini secara aktif menulis kepada sahabat-sahabat penanya, yang terutama adalah Estelle Zeehandelaar, gadis sosialis Belanda. dalam surat-suratnya itulah, Kartini mengungkapkan segala masalah pribadinya, termasuk buah pikirannya yang mencengangkan dunia.

Dalam tulisannya, Kartini menggugat feodalisme dan berharap tidak ada lagi perbedaan antar manusia. Dengan kemanusiaannya, ia meminta agar dipanggil tanpa tanpa gelar kebangsawanannya, ia menolak pembedaan kelas. “Panggil aku Kartini saja,” begitu tulis dalam sebuah suratnya.

Apa yang dilakukan Kartini ini dalah sebuah keajaiban yang dilakukan oleh seorang gadis yang hidup dalam budaya patriarki yang begitu melekat. Apalagi ia adalah keluarga bangsawan Jawa pada masa itu. Sedang dalam suratnya yang lain ia menulis “Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami”. 
Kartini, sebagai sosok luar biasa mampu ditampilkan secara utuh dalam buku ini. Entah karena apa Pram mampu menggambarkan sosok Kartini dengan buku luar biasa ini. Mungkin Pram merasa bahwa jalan hidup Kartini adalah sama dengan dirinya sendiri, sebagai sastrawan yang menulis untuk kemanusiaan. Semoga apa yang digambarkan dalam buku ini, perjuangan, kecintaan, dan kemanusiaan Kartini mampu melahirkan kembali sosok pejuang selembut dan seteguh dirinya.

Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja

Penulis: Pramoedya Ananata Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2003
Halaman: 301 halaman


(Aditia Purnomo)

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta