Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label Kolom Bola. Show all posts
Showing posts with label Kolom Bola. Show all posts

SEPAKBOLA YANG AKUR DENGAN GLOBALISASI

 Oleh Reza Fajri*

 Judul Buku    :    Memahami Dunia Lewat Sepakbola (Kajian Tak Lazim tentang Sosial-Politik Globalisasi)
Penulis    :    Franklin Foer
Penerjemah    :    Alfinto Wahhab
Tebal    :    xii + 248 hlm
Penerbit    :    Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Edisi    :    I, 2006

Seperti yang tertera pada judul buku, sang penulis, Franklin Foer, berkeliling dunia dan mencoba memahami dampak arus globalisasi dari kacamata sepakbola. Pertanyaannya adalah: mengapa harus sepakbola?

Bill Shankly yang tersohor pernah berkata, “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it's much more serious than that.”. Ucapannya itu memang terbukti dengan jelas. Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia atau Brazil, orang-orang memperlakukan sepakbola lebih dari sekedar olahraga, bahkan seperti agama. Para pendukung Celtic atau Rangers tidak malu-malu untuk menggunakan agama sebagai bahan permusuhan mereka. Foer menjelaskan bagaimana sejarah protestanisme pada masa lampau di Skotlandia menimbulkan diskriminasi terhadap pemeluk Katolik yang tiba-tiba menjadi minoritas. Untuk membangkitkan kembali semangat kaum Katolik, Brother Walfrid kemudian membentuk klub sepakbola Celtic. Naiknya klub ini ke papan atas sepakbola Skotlandia, sukses menaikan kembali harga diri orang-orang Katolik-Irlandia yang berada di Glasgow.

Namun sebaliknya, orang-orang Protestan yang tidak senang dengan bangkitnya ajaran Katolik, mencoba memanfaatkan klub Rangers sebagai kendaraan mereka. Rangers yang semula tidak memiliki kaitan dengan hal-hal berbau Protestan, berubah menjadi klub yang sangat eksklusif. Sebelum tahun 1989, klub berjuluk The Teddy Bear ini hanya menerima pemain-pemain yang beragama Protestan. Bahkan para petinggi klub, sampai tukang sapunya pun haruslah pemeluk Protestan.

Franklin Foer mencoba menjelaskan bahwa rivalitas Old Firm ini memang sengaja diciptakan sejak dahulu, dan bahkan dikomersilkan. Fenomena ini memperlihatkan betapa permusuhan bisa menjadi alat untuk mengeruk keuntungan, walau sekelam apapun permusuhannya.

“Pertikaian antara kedua seteru yang menghuni satu kota ini telah menghasilkan kisah-kisah horor persepakbolaan. Ada yang ditolak bekerja karena mendukung tim lawan. Ada fans yang dibunuh karena mengenakan kaos yang salah di lingkungan yang salah. Sepertinya, tidak ada yang lebih dibenci selain tetangga sendiri.” (hal. 31)

Masih tidak jauh dari agama, Foer juga sempat berkunjung ke Hungaria, negara yang kini tidak begitu terkenal sepakbolanya, walau dulu sempat menghebohkan bersama Ferenc Puskas. Kedatangannya ke Hungaria adalah untuk mencari tahu tentang klub Hakoah, klub sepakbola yang khusus diisi oleh pemain-pemain Yahudi. Bagaimana asal-usul Hakoah, perjuangannya, kesuksesannya, dan kematiannya, diceritakan secara mendalam oleh jurnalis asal Amerika ini. Soal Yahudi dalam dunia sepakbola ini, ia juga sempat menyinggung hubungan antara Yahudi dengan pendukung Tottenham Hostpurs dan Ajax Amsterdam. Kebencian masyarakat Eropa kepada Yahudi ini kemudian bisa terlihat dari rivalitas antara pendukung Chelsea dengan Spurs. Konon para fans Chelsea-lah yang paling parah dalam menghina Tottenham sebagai klub Yahudi.

Dalam perjalanannya ke London, Franklin Foer sempat bertemu dan mewawancarai Alan Garrison, mantan pentolan kelompok hooligan Chelsea Headhunters. Dalam wawancaranya tersebut, Garrison bercerita tentang masa lalunya, bagaimana ia dan The Headhunters merajai dunia kekerasan sepakbola. Garrison juga mengeluh tentang klub kesayangannya, Chelsea, yang berubah dari klubnya kelas buruh, menjadi klub kaya raya yang membebani para penontonnya dengan tiket masuk stadion yang mahal.

Kekerasan dalam sepakbola bukanlah hal yang baru. Ia sudah ada bahkan semenjak sepakbola itu sendiri diciptakan. Namun yang mengerikan adalah ketika dunia kekerasan itu dimanfaatkan demi kepentingan suatu politik. Selain kisah tentang hooligan Chelsea, di buku ini ada pula kisah horor yang berasal dari daerah Balkan. Keberanian Franklin Foer berkunjung ke Beograd, ibukota Serbia, patut diacungi jempol. Pasalnya ia berhasil mengetahui fakta tentang suporter Red Star Belgrade (Delije) yang dimobilisasi untuk melakukan pembantaian atas orang-orang sipil Kroasia dan muslim Bosnia. Hal itu terjadi ketika konflik Yugoslavia berlangsung.

Selain ke tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, Foer juga berkunjung ke Brazil, negara tersukses di Piala Dunia. Ia ke sana untuk mengetahui bagaimana praktik korupsi di sana yang seringkali memanfaatkan sebuah klub sepakbola. Di Italia, hampir sama seperti di Brazil, ia lebih menyoroti peran para oligarki-oligarki yang terkadang lebih berkuasa daripada pemerintah. Para oligarki tersebut ternyata sering berupaya untuk menyuap wasit-wasit di Serie A, demi kepentingan klub-klub kesayangannya. Foer secara terang-terangan membeberkan konspirasi yang dilakukan oleh para petinggi Juventus dan AC Milan.

Bab lain yang tidak kalah seru di buku ini adalah ketika Franklin Foer mengunjungi tempat di mana klub favoritnya bermarkas, yaitu Catalunya. Seperti motto yang tertulis di stadion Camp Nou, FC Barcelona yang dikaguminya ternyata bukan sekedar klub sepakbola biasa, namun juga menjadi simbol nasionalisme warga Catalan. Foer juga berhasil mewawancarai salah satu simbol perlawanan tersebut, yaitu Hristo Stoickov. Pemain asal Bulgaria yang saat itu sedang bermain Amerika Serikat, memberikan jawaban yang membuat Foer sadar seperti apa semangat nasionalisme rakyat Catalunya.

Kehidupan pemain kulit hitam di Eropa Timur, bagaimana sepakbola bisa mempengaruhi suatu masyarakat di negara Islam, atau mengapa orang-orang Amerika Serikat sangat takut dengan sepakbola yang biasa mereka sebut soccer, dibahas oleh Franklin Foer dalam bab-bab selanjutnya.

Cara Franklin Foer berpetualang ke berbagai negara memang menjadi satu dari sekian nilai plus yang membuat buku ini terasa spesial, terlebih statusnya sebagai warga negara AS yang dikenal tidak terlalu suka sepakbola. Namun hal yang lebih menarik dalam buku ini tentunya adalah bagaimana Foer menjadikan sepakbola sebagai bahan untuk meneliti fenomena globalisasi yang tengah melanda dunia. Jika di awal tulisan ini ada pertanyaan: “mengapa harus sepakbola?”, tentu jawabannya adalah karena...

“Sepakbola sepertinya lebih akur dengan globalisasi ketimbang perekonomian manapun di muka bumi ini” (hal. ix).

Penulis adalah pemilik akun  Twitter: @rezafajri

Sankt Pauli Gegen Den Modernen Fußball

 Oleh Muhammad Masyhur*


  
Teeennggg…. Teeenggg… teeenggg…

Bukan, itu bukan bel masuk sekolah, itu juga bukan bunyi jam bandul, ataupun bunyi lonceng gereja.. itu adalah bagian intro dari lagu Hells Bells dari AC/DC.

Saat kebanyakan klub menyetel lagu FIFA anthem atau sejenisnya saat kedua tim memasuki lapangan, berbeda dengan klub yang musim ini berlaga di kasta kedua Bundesliga, Sankt Pauli. Sankt Pauli lebih memilih menyetel lagu AC/DC tersebut di stadion kebanggaan para pendukungnya, Millerntor-Stadion.

Klub yang berada di red light district Hamburg ini bisa disebut prestasinya di bawah standart untuk urusan sepakbolanya, tapi ‘prestasi’ di luar sepakbolanya lah yang membuat klub ini sangat terkenal di dunia. Prestasi dalam urusan sepakbola yang paling membanggakannya hanya masuk semifinal DFB-Pokal 2005/2006 saja. Di Bundesliga pun klub ini cuma bisa promosi dan degradasi saja dalam waktu yang singkat.

‘Prestasi’ yang dimaksud adalah loyalitas para pendukung Sankt Pauli sebagai klub sayap kiri yang menentang rasis dan fasis. Di Jerman setidaknya, klub ini mempunyai jumlah pendukung wanita terbanyak, menjadi klub pertama yang melarang aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan sayap kanan, dan lain sebagainya. Klub ini juga aktif dalam beramal di luar Jerman, seperti pengadaan dispenser untuk sekolah di Kuba dan air bersih di Rwanda.

Klub yang berjuluk Die Freibeuter der Liga atau Sang Perompak Liga ini juga mempunyai ciri khas untuk para suporternya yang sangat fanatik yaitu tengkorak dan tulang menyilang (jolly roger), simbol yang identik dengan perompak, simbol untuk pemberontak. Simbol tersebut sering sekali dikira logo klub, padahal simbol itu adalah logo untuk para suporter klub. Namun, memang perlu diakui bahwa logo para suporter lebih terkenal dibanding logo klub. Penggunaan simbol tersebut tak lepas dari letak Sankt Pauli yang berada di kota pelabuhan para pelaut yang singgah disana untuk sekedar minum-minum sampai ‘main’ di tempat pelacuran.

Simbol tengkorak tersebut adalah bentuk penentangan oleh para orang miskin kelas pekerja terhadap klub-klub kaya. Simbol tersebut juga merupakan brand ideologi para suporter Sankt Pauli yang menginginkan perlawanan terhadap komersialisasi sepakbola. Bahkan saat klub mereka hampir bangkrut di awal milenium, para suporter dengan cepat menggalang dana dari menjual kaos sampai menaikkan harga di bar dan tempat prostitusi.

Sankt Pauli Gegen Den Modernen Fußball !!!
@13moad

Secuil Fakta-fakta South Wales Derby

Oleh Reza Fajri*

Dunia siap menyambut laga Cardiff City vs Swansea City pada Minggu (3/11). Berlebihan mungkin. Namun ini adalah untuk pertama kalinya kedua tim elit asal Wales ini bertemu di kasta tertinggi persepakbolaan Inggris.

Lucu memang, berasal dari Wales namun bermain di Inggris. Namun orang-orang Inggris itu seharusnya bersyukur karena mereka bisa menghadirkan salah satu rivalitas terpanas di Eropa di kompetisi buatan mereka.

Di saat belum ada liga profesional di Wales, Cardiff dan Swansea memilih untuk merantau ke kompetisi Inggris. Keduanya bertemu pertama kali pada tahun 1912 dan kemudian lebih sering bentrok di kasta kedua. Dari 54 pertandingan resmi di Liga, Swansea unggul tipis dengan menang sebanyak 20 kali, Cardiff 18 kali dan seri 16 kali. Namun di berbagai ajang seperti Piala Liga, Piala FA dan lain sebagainya, Cardiff unggul dengan 43 kemenangan, sedangkan Swansea hanya 35, dan kemudian seri 27 kali.

Cardiff pun boleh berbangga diri sebagai klub Wales yang paling banyak meraih berbagai trofi, salah satunya adalah gelar Piala FA di tahun 1927. Namun ada kebanggaan lain yang belum diraih Cardiff dan dipunyai Swansea, yaitu gelar Football League Trophy yang diraih The Swans dua kali pada 1994 dan 2006. Swansea juga menjadi klub asal Wales pertama yang ikut serta di ajang Premier League pada tahun 2011.

Selain fakta-fakta di atas, rivalitas antara Cardiff dan Swansea mencatatkan beberapa fakta yang menarik untuk disimak:
   
KEMENANGAN TERBESAR: Cardiff 5-0 Swansea (tahun 1965)

Di hadapan 15 ribu suporter Cardiff di Ninian Park (kandang lama Cardiff), The Bluebirds tampil garang dengan berhasil menyarangkan 5 gol ke gawang The Swans. Pertandingan ini akan selalu diceritakan secara turun temurun dari para fans Cardiff ke generasi-generasi selanjutnya.

PENCETAK GOL TERBANYAK: Brayley Reynolds, 8 gol (Swansea Town)
Sewaktu Swansea City masih bernama Swansea Town, Brayley Reynolds menjadi pencetak gol terbanyak dalam South Wales Derby. Sebelumnya ia pun pernah bermain bersama Cardiff City.

PENAMPILAN TERBANYAK
: Roger Freestone, 19 kali (Swansea City)
Roger Freestone tampil di 19 pertemuan Cardiff – Swansea. Kiper yang sempat mengantarkan Chelsea juara Divisi Dua di tahun 1989 ini bermain untuk Swansea dalam rentang 1989-2004. Ketika ia sempat dirumorkan akan pindah ke Cardiff, para suporter Swansea memprotesnya dengan keras. Usaha para Jacks (sebutan suporter Swansea) ini berhasil karena Freestone tetap di Swansea sampai tahun 2004.

CROSSING THE DIVIDE
Total ada 28 pemain yang ‘berani’ untuk pindah dari Cardiff ke Swansea, demikian pula sebaliknya. Nama-nama yang paling diingat adalah: Steven Caulker, Brayley Reynolds, Jason Bowen dan juga John Toshack yang pernah bermain bersama Kevin Keegan di Liverpool.

*Pemilik akun Twitter @rezafajri

Semua Salah Schake !!!

Oleh Muhammad Masyhur*

Kalau anda adalah fans tim nasional Jerman apa yang ada katakan saat mendengar nama pemain Schalke yang sedang jadi fenomena baru di Jerman, Max Meyer?

Mungkin yang ada katakan bagaikan reaksi soda saat dituang ke sebuah gelas. Anda akan membicarakannya dengan semangat, memuji-mujinya, dan berbagai macam hal yang membuat pembicaraan jadi seru, tetapi tak lama kemudian saat anda menyadari diposisi mana dia biasa bermain, perlahan-lahan anda berhenti membicarakannya dan melanjutkan aktifitas semula.

Sebagian fans timnas Jerman pasti akan ‘muak’ dengan kehadiran pemain potensial seperti Meyer ini. Bukan karena cara bermainnya, melainkan karena posisi ‘nomor 10’ nya yang sudah terlanjur sesak oleh pemain-pemain lainnya yang lebih senior. Sebut saja Mesut Özil, Mario Götze, Toni Kroos, Julian Draxler, Lewis Holtby. Apalagi Meyer sama-sama mempunyai teknik dan insting mencetak gol yang baik seperti nama-nama di atas. Padahal saat ini posisi yang masih belum oke ada di posisi bek kiri dan striker.

Saking sesaknya posisi tersebut, beberapa nama sudah mulai dialihkan posisinya oleh Joachim Löw. Seperti Götze dijadikan false number 9 , Kroos diposisi double pivot, Draxler dijadikan winger kiri, dan Holtby diasingkan untuk sementara dari timnas. Memang mereka diposisi yang baru masih bisa dibilang cukup bagus, namun jauh lebih baik lagi kalau mereka tetap di posisi ‘nomor 10’.

Lalu kira-kira bagaimana dengan nasib dek Meyer ini? Kemungkinan paling baik nasibnya akan seperti Götze atau kemungkinan terburuk dia akan seperti Holtby. Hanya dua pilihan itu sepertinya bagi Meyer jika kelak bermain untuk timnas. Tetapi, apa mungkin Jerman yang mempunyai tradisi kuat untuk memakai striker klasik mempunyai dua pemain false number 9 di dalam squadnya? Rasanya kalau pelatih timnas masih tetap pria parlente yang bernama Löw, hal itu bisa saja terjadi.

Tenang ya dek Meyer. Semoga kamu bisa berkembang lebih baik lagi dari senior-seniormu. Lagi pula Herr Löw suka sekali regenerasi untuk pemain-pemain yang masih umur puncak. Mungkin saja kamu bisa ambil posisi alih seniormu yang sama-sama jebolan akademi Schalke 04, Mesut Özil saat dia masih ada di umur puncak pemain bola.

Jika Meyer terus dan terus melejit tetapi tidak bisa masuk ke timnas dan di posisi yang semestinya, pihak yang patut disalahkan adalah Schalke 04! Karena mereka lah yang memperkenalkan Özil dan Draxler..
Semua salah Schalke !!!
*peace :p

@13moad

Saat Rasis Hiasi Pertandingan Sepak Bola

Pemain Manchester City, Yaya Taure meninggalkan lapangan Arena Khimki, markas CSKA Moscow dengan raut wajah kesedihan. Pemain pantai Gading ini tak bisa menyumbunyikan kesedihan yang terbalut api amarah.
Dia bukan kesal lantaran timnya kalah, bahkan semestinya ia senang karena timnya dapat memenangkan laga pada lanjutan penyisihan Liga Champions grup D, Rabu (23/10) atau Kamis dini hari WIB, skor 1-2.

Usut punya usut, kemarahan mantan pemain Barcelona telah berlangsung sejak kedua tim saling serang guna meraih kemenangan. Penyebanya, nyanyian suporter tuan rumah bernada rasis yang ditujukan untuk adik kandung Kolo Toure.

Atas peralakukan yang begitu menyakitkan, pemain bernomor punggung 42 meminta agar UEFA memberikan sanksi tegas, sebagaimana yang telah diumumkan Pada bulan Mei lalu, yakni berupa larangan kehadiran sebagian penonton di stadion dan ditambah dengan denda Pound 42.800.

Berbeda dengan Yaya memilih meninggalkan lapangan usai pertandingan usai, pada kasus Kevin-Prince Boateng saat masih berseragam Milan menendang bola ke arah tribun lalu meninggalkan lapangan yang diikuti teman-temanya.

Pertandingan Milan Vs Pro Patria dihentikan setelah berlangsung selama setengah jam. "Milan meninggalkan lapangan menyusul penghinaan rasis dari fans Pro Patria yang diarahkan pada Boateng, (Urby) Emanuelson dan (Sulley) Muntari, " kata pernyataan resmi di situs AC Milan.

Menurutnya, langkah keluar lapangan itu merupakan bentuk penghormatan pada pemain AC Milan dan semua pemain kulit berwarna yang bermain di liga lain. "Kami harus menghentikan tindakan tidak beradab. Italia harus menjadi sedikit beradab dan sedikit lebih cerdas," ungkapnya.

Rasis pun menjadi begitu dekat dengan para pemain, bahkan berubah menjadi pembahasan hangat lapangan hijau, selain menggilanya harga dan gaji seorang pemain. Bahkan seorang bos besar sekaliber Joseph 'Sepp' Blatter, yang tak lain Presiden FIFA merasa kelimpungan.

Dua senjata yang dianggap ampuh guna memerangi prilku rasis malah bertekuk lutut. Usulan pun bertebaran. Salah satunya, pengurangan poin suatu klub pada liga yang diikutinya karena terlibat kasus rasisme.

Segala macama pertimbangan, pria asal Swiss ini menolak usulan tersebut. Ia masih perlu mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan jika sanksi penguran poin diterapkan malah menimbulkan provokasi fans untuk bertindak anarkis.

"Apakah kita bisa menghentikan itu (rasisme) dengan pengurangan poin atau menurunkan (kasta) suatu tim? Ataukah ini akan membuat orang-orang yang datang ke stadion ingin pertandingan dihentikan? Sepakbola itu penuh dengan hasrat,” ujar Blatter seperti dilansir Goal.com.

Kembali lagi pada Yaya, lantas apa yang terjadi terhadapnya saat mendapat perlakukan tersebut? Yaya mengaku tidak akan terpengaruh sikap rasis terhadap penampilan dan kehidupannya selama masih ada orang yang mencintai dan senantiasa memberikan dukungan kepadanya.

“Terima kasih untuk dukungan Anda! Kebencian atau rasisme tidak dapat mempengaruhi saya ketika begitu banyak orang yang menunjukkan rasa cintanya dan dukungan kepada saya,” tulis Yaya dalam akun Twitter-nya, seperti dilansir Sportsmole, Kamis (24/10/2013).

“Saya percaya pada institusi sepakbola, saya tahu pengambil keputusan akan mengambil tanggung jawab mereka dan menunjukkan kartu merah untuk tindakan bernama rasisme,” lanjutnya.

Red

(Rival) Yang Terlupakan

Oleh Reza Fajri*

Seperti klub-klub besar lainnya, Chelsea memiliki banyak musuh. Tidak hanya di kota London sendiri, namun juga tersebar ke seluruh penjuru Inggris. Mulai dari Cardiff sampai ke Leeds.

Jika kita melihat dari faktor geografis, tentunya Fulham atau Queens Park Rangers yang bisa dianggap sebagai musuh besar Chelsea. Namun para fans Chelsea justru tidak menganggapnya demikian. Para fans sepakat tidak menganggap para tetangganya itu sebagai musuh. Hal ini disebabkan karena dahulu Chelsea jarang sekali bertemu dengan QPR dan Fulham. Sebelum Fulham promosi ke Premier League di tahun 2001, terakhir kali Chelsea bertemu dengan Fulham adalah di tahun 1986.

Banyak mungkin yang beranggapan bahwa Manchester United, Arsenal atau Tottenham Hotspur adalah klub-klub yang paling dibenci oleh suporter Chelsea. Namun jika kita melihat-lihat forum-forum diskusi suporter Chelsea di internet, maka kita bisa tahu bahwa ada beberapa klub yang dulu pernah menjadi rival utama Chelsea. Seiring dengan naiknya status Chelsea sebagai klub papan atas, maka para rival lama ini sering kali terlupakan, atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh para fans baru.

Salah satu rival klasik Chelsea yang terlupakan adalah Leeds United. Dalam sebuah survei oleh Football Fans Census di tahun 2003, para fans Leeds menempatkan Chelsea di urutan kedua, di bawah Manchester United, sebagai musuh besarnya. Dan di buku Official Chelsea Biography (2006), Leeds ditulis sebagai salah satu musuh utama Chelsea. Di era 70’ dan 80’an, kedua kelompok hooligan yaitu Chelsea Headhunters dan Leeds Service Crew, menjadi bagian dari kelompok-kelompok hooligan yang paling terkenal dengan reputasi kekerasannya.

Di era 60’an, Leeds dibawah asuhan Don Revie berkembang menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam persepakbolaan Inggris. Dari tahun 1964 sampai 1974, Leeds berhasil mendapatkan berbagai trofi, seperti: Divisi Satu, Piala FA, Piala Liga dan lain sebagainya. Namun Leeds ketika itu juga dianggap sebagai tim yang selalu memperagakan permainan kotor dan kasar, sampai-sampai mendapat julukan “Dirty Leeds”. Tak jarang permainan kasar Leeds ini juga diladeni dengan kasar oleh lawan-lawannya, termasuk Chelsea.

Pertemuan antara Chelsea dengan Leeds ketika itu selalu diwarnai dengan permainan kasar dan sarat kontroversi. Momen yang paling diingat adalah ketika kedua klub ini bertarung di final Piala FA 1970. Pertandingan ini sering disebut-sebut sebagai pertandingan paling brutal dalam sejarah persepakbolaan Inggris. Walaupun dalam pertandingan di Old Trafford ini banyak sekali pelanggaran dan tekel-tekel keras, namun wasit Eric Jennings hanya memberikan satu kartu kuning kepada pemain Chelsea, Ian Hutchinson.

Padahal dalam sebuah ulasan di tahun 1997, David Ellerey, seorang wasit, menilai bahwa dalam pertandingan itu seharusnya ada 20 kartu kuning dan 6 kartu merah. Sejak itulah pertandingan antara Chelsea dengan Leeds selalu merepotkan kepolisian karena tak jarang kerusuhan seringkali terjadi ketika pertandingan berlangsung.

Kembali ke London, musuh lama Chelsea yang lain adalah West Ham United. Mungkin sekarang para fans Chelsea tidak menganggap West Ham sebagai rival. Tetapi kekesalan para suporter West Ham ketika melihat alumninya meraih kesuksesan di Chelsea tentu bisa kita lihat dari chant-chant anti-Chelsea yang selalu mereka kumandangkan ketika klubnya bertemu dengan Chelsea.

Ada Leicester City dan Cardiff City yang juga sering dianggap sebagai rival lama Chelsea. Saya kesulitan mencari tahu mengapa bisa timbul permusuhan di antara fans Chelsea dan Leicester. Namun dari beberapa postingan yang saya baca di forum theshedend.com –salah satu forum suporter Chelsea, permusuhan antara Leicester dan Chelsea disebabkan oleh permusuhan antara Baby Squad (hooligan Leicester) dengan The Headhunters (Chelsea) di era 70’an.

Sabtu (19/10) Chelsea kembali bertemu dengan seteru lamanya yaitu Cardiff. Terakhir kali keduanya bertemu di pertandingan liga adalah ketika Maret 1984. Namun kedua klub ini juga pernah bertemu pada 2010 dalam ajang Piala FA. Sesaat setelah pertandingan itu, keributan pecah di luar Stamford Bridge. Beberapa orang terluka dalam kerusuhan itu dan 24 hooligan terpaksa ditahan oleh polisi dan dijatuhi larangan masuk stadion selama beberapa tahun. Sentimen Inggris vs Wales sering dianggap sebagai pemicu rivalitas antara Chelsea dengan Cardiff.


Penulis  pemilik akun Twitter @rezafajri

When The Saints Go Marching In

Oleh Reza Fajri*

Selalu saja ada kejutan di awal-awal musim Liga Primer Inggris. Di musim 2013-14 ini kejutan itu bernama Southampton Football Club. Bertengger di posisi ke-4 dengan 14 poin, di atas Manchester City, Tottenham Hotspur dan Manchester United, The Saints tiba-tiba menjadi perbincangan banyak orang.

Gabungan antara kejeniusan Mauricio Pochettino dengan Rickie Lambert sering disebut-sebut sebagai resep permainan gemilang Southampton di awal musim ini.

Pantas saja, Mauricio Pochettinno ternyata banyak mengambil pelajaran dari bekas mentornya di Newell’s Old Boys, seorang manajer legendaris, Marcelo Bielsa. Prinsip-prinsip Bielsa seperti vertikalitas dipadu dengan penguasaan bola ternyata banyak dipakai oleh Pochettino. Dalam setiap pertandingan, sang manajer tersebut akan menginstruksikan kepada anak-anak asuhnya agar menekan pertahanan lawan dengan cepat melepas bola ke depan. Dan selain itu, Pochettino juga akan selalu membuat para pemain Soton mencoba untuk menguasai bola. Jadi intinya Southampton akan meningkatkan dominasi atas bola, namun dengan gaya lebih direct, tidak dengan operan-operan pendek seperti Barcelona.

Strategi dari Mauricio Pochettino mungkin tidak akan berhasil jika tidak didukung sosok Rickie Lambert di Southampton. Ujung tombak yang jago duel udara dan duel daerah ini menjadi alasan mengapa pemain-pemain The Saints banyak melakukan operan jauh.

Jangan lupa dengan jasa dari Arthur Boruc. Berkat kiper asal Polandia ini, The Saints hanya kebobolan 2 dari 7 pertandingan. Terakhir kali gawangnya kebobolan dalam sebuah pertandingan adalah pada 382 menit yang lalu, ketika Southampton dikalahkan oleh Norwich City, satu-satunya kekalahan di musim ini.

Southampton adalah salah satu dari 22 klub yang pertama kali mengikuti Premier League di musim 1992-93. Sejak tahun 1978 sampai 2005, Southampton selalu berada di kasta tertinggi persepakbolaan Inggris. Klub ini sempat mengalami masa-masa suram tatkala harus terdegradasi dari divisi Championship ke Football League One –kasta ketiga dalam liga Inggris, pada musim 2008-09.

Perjalanan panjang tentunya harus ditempuh oleh Southampton agar bisa kembali ke Premiership. Alan Pardew sempat menjadi manajer Soton, namun beberapa musim kemudian terpaksa dipecat karena masalah internal dengan jajaran direksi. Setelah itu Nigel Adkins pun kemudian didaulat untuk menjadi nahkoda baru Southampton. Hasilnya Adkins berhasil membawa The Saints kembali ke divisi Championship pada tahun 2011. Setelah di akhir-akhir musim Southampton berhasil mengalahkan Coventry City dengan skor 4-0, mereka kemudian dipastikan bisa berlaga kembali di Premier League.

Tidak ada yang tahu pasti apakah Southampton akan terus berada di empat besar ataukah turun kembali ke papan tengah. Namun yang pasti, selama The Saints bertengger di atas, lagu “When The Saints Go Marching In” –yang biasa diputar di stadion St. Mary’s, akan selalu dinyanyikan oleh para suporter Southampton dengan penuh kegembiraan.

Oh when the Saints, go marching in. Oh when the Saints go marching in. I want to be in that number. Oh when the Saints go marching in.


*Penulis adalah pemilik akun Twitter @rezafajri




Stand Up If You Love Football !!!

Oleh Reza Fajri*

Di tahun 1980an, terjadi dua tragedi sepakbola yang memakan banyak korban jiwa, yaitu Heysel dan Hillsborough. Dua tragedi yang kemudian merubah sepakbola secara drastis, terutama dari segi keamanan.

Sejak awal musim 1994-95, The Hillsborough Stadium Disaster Inquiry report atau yang biasa dikenal dengan The Taylor Report ―sebuah dokumen yang berisi laporan tragedi Hillsborough, memberikan rekomendasi kepada Football Association (FA) untuk segera meningkatkan aspek keamanan dalam stadion sepakbola. Salah satu aspek keamanan yang diutamakan dalam hal ini adalah penghapusan tribun berdiri, yang kemudian menjadi syarat bagi klub-klub di dua kasta teratas agar bisa berlaga di kompetisi.

Rencana ini sebenarnya sudah ada sejak 1990, namun baru bisa dijalankan pada 1994. Penghapusan tribun berdiri ini menjadi bencana (baru) bagi para fans kelas pekerja yang kantongnya pas-pasan. Karena dengan diupgrade-nya stadion dengan kursi-kursi seperti di bioskop, tiket untuk masuk pun menjadi sangat mahal. Atmosfir meriah di dalam stadion yang dibangun oleh para kelas pekerja pun menjadi meredup, walau bukan berarti hilang sama sekali

Lalu apakah tribun berdiri di dalam stadion itu memang berbahaya ? Apa tidak bisa dibuat tribun berdiri yang aman dan terkendali ? jika anda penonton setia Bundesliga, tentu anda sudah sering melihat stadion-stadion mewah seperti Allianz Arena yang mempunyai area berdiri ―biasanya di belakang gawang. Tidak heran jika atmosfir Bundesliga selalu meriah dengan kehadiran fans-fans yang biasa menempati area berdiri tersebut. Kenapa bisa penuh dan meriah seperti itu ? ya salah satu alasannya adalah tiket masuk stadion yang murah meriah.

Tentunya tribun berdiri yang ada di Jerman saat ini berbeda dengan yang ada di stadion-stadion Inggris pada tahun 80an. Di Jerman, aspek keamanan tetap menjadi perhatian walaupun tribun tidak memiliki kursi. Sebagai contoh, di area berdiri stadion-stadion Jerman, baris-baris dibuat agak lebar agar tidak terlalu sesak. Juga terdapat pegangan besi pada setiap baris tersebut. Pegangan tersebut bisa dikunci berdiri tegak sehingga penonton di setiap baris bisa tertahan agar tidak luber ke depan.

Beberapa waktu yang lalu, Celtic ―klub sepakbola asal Glasgow, Skotlandia, mengumumkan bahwa meraka akan mencoba membuat area berdiri di stadion Parkhead atau Celtic Park. Rencana ini adalah buah dari usul yang disampaikan oleh para suporter Celtic sendiri. Jika anda amati, penonton di Parkhead memang lebih banyak berdiri ketimbang duduk, terutama di area para fans-fans garis kerasnya.

Tidak hanya Celtic, beberapa klub di Premier League seperti Aston Villa, Cardiff, Sunderland, Crystal Palace, Swansea dan Hull menyatakan dukungannya kepada Football Supporters’ Federation (FSF) yang tengah mengkampanyekan pembuatan area berdiri yang aman.

Namun rupanya segala rencana ini belum mendapatkan dukungan dari otoritas sepakbola Inggris. Bahkan tidak ada upaya dari FA dan pihak berwenang lainnya untuk mendiskusikan rencana ini. Jika di negara semaju Jerman saja tribun berdiri yang aman bisa diterapkan, kenapa di negeri (yang katanya) asal sepakbola yaitu Inggris tidak bisa. Apakah Inggris sudah kehilangan gairahnya untuk memeriahkan sepakbola seperti sebuah permainan rakyat ? bukankah dalam setiap pertandingan, suporter-suporter di Inggris sering meneriakan chant yang berbunyi: “stand up if you love (nama klub)” ?

Oleh Reza Fajri*

Twitter: @rezafajri

Penguasa Bundesliga (?)

Kata ‘penguasa’ dalam sepakbola sangat identik dengan kata kekuatan, juara, dominasi, dan juga pengaruh dari sebuah klub. Tapi bagaimana jika variabel ‘klub’ diganti dengan hal lain?

Belum lama ini tepatnya tanggal 22 September 2013, Jerman melakukan pemilu untuk pemilihan kanselir periode 2013-2017. Apa hasil dari pemilu tersebut? Lagi-lagi warga Jerman mempercayakan jabatan Kanselir Jerman kepada Angela Merkel untuk ketiga kalinya!


Bicara Angela Merkel, saya teringat saat saya sedang asik menonton tim nasional Jerman berlaga di Piala Dunia 2006 di Jerman, entah saat lawan apa saya lupa, Merkel melakukan selebrasi dengan gerakan khas beliau --seperti gambar di atas-- saat pemain Jerman mencetak gol. Saya sebelumnya tidak tahu siapa emak-emak tersebut yang terlihat rapih menggunakan blazer dan juga seperti orang yang penting karena berada di kursi VIP tapi bertolak belakang dengan gerakan jingkrak-jingkraknya itu. Namun, setelah tanya ke ayah saya, akhirnya dapat jawaban kalau dia adalah kanselir Jerman, Angela Merkel.

Berhubung saya fan timnas Jerman dari ‘angkatan’ 2002, pastinya saya hampir sulit untuk melewatkan pertandingan timnas Jerman (baca : kalau sempat). Sama juga dengan Herrin Merkel, yang selalu menyempatkan diri untuk menonton timnas Jerman berlaga baik langsung di stadion ataupun di layar kaca  saat istirahat pada pertemuan bersama perdana mentri Inggris, David Cameroon saat Jerman bertemu Inggris di babak enam belas besar Piala Dunia 2010 yang dimenangkan Jerman dengan skor 4-1.

Kalau tadi itu penguasa negara Jerman, sekarang kita kembali ke judul, “Penguasa Bundesliga”. Klub mana yang paling banyak meraih juara Bundesliga Jerman? Para pencinta sepakbola sudah pasti langsung menjawab FC Bayern Münich. Ya betul memang, FC Bayern adalah pemegang rekor juara Bundesliga dengan 22 gelar. Hal tersebut membuat klub-klub Bundesliga lainnya iri dan mustahil untuk dilewati oleh klub lainnya walaupun FC Bayern puasa gelar sampai 20 tahun beruntun dari sekarang dan lagi-lagi hal tersebut juga mustahil dan saya bertaruh, sampai saya punya cicit pun, FC Bayern akan tetap menjadi rekordmeister Bundesliga. Tapi kalau pertanyaannya seperti ini “Negara bagian mana yang paling banyak ‘menyumbang’ klub peserta Bundesliga setiap musimnya?” apa ada yang tahu?

Sebelumnya, saya akan menjelaskan dulu mengenai negara bagian di Jerman. Republik Federal Jerman mempunyai enam belas negara bagian atau biasa disebut länder, diantaranya Baden-Württemberg, Bayern, Berlin, Brandenburg, Bremen, Hamburg, Hesse, Mecklenburg-Vorpommern, Nordrhein-Westfalen, Niedersachsen, Rheinland-Pfalz, Saarland, Sachsen, Sachsen-Anhalt, Schleswig-Holstein, Thüringen. Tiga länder terakhir dari enam belas länder tersebut belum pernah ‘menyumbangkan’ klubnya untuk berpartisipasi dalam kompetisi nomor satu Jerman tersebut sejak pertama kali bergulir pada musim 1963/1964.

Nah, jadi dari tiga belas länder tersebut kira-kira mana yang paling banyak ‘menyumbangkan’ klubnya untuk berpartisipasi di Bundesliga selama kompetisi ini bergulir dari musim 1963/1964 sampai 2013/2014? Oke, langsung lihat saja pada tabel dibawah.

No.
Länder
Klub
Total klub
1
Baden-Württemberg
VfB Stuttgart, Karlsruher SC, SC Freiburg, SV Waldhof Mannheim, TSG 1899 Hoffenheim, Stuttgarter Kickers, SSV Ulm 1846

7
2
Bayern
FC Bayern München, 1. FC Nürnberg, TSV 1860 München, FC Augsburg, SpVgg Unterhaching, SpVgg Greuther Fürth

6
3
Berlin
Hertha BSC, Tennis Borussia Berlin, Blau-Weiß 90 Berlin, SC Tasmania 1900 Berlin

4
4
Brandenburg
Energie Cottbus
1
5
Bremen
SV Werder Bremen
1
6
Hamburg
Hamburger SV, FC St. Pauli

2
7
Hesse
Eintracht Frankfurt, Kickers Offenbach, SV Darmstadt 98

3
8
Mecklenburg-Vorpommern
Hansa Rostock
1
9
Nordrhein-Westfalen
Borussia Dortmund, Borussia Mönchengladbach, FC Schalke 04, 1. FC Köln, Bayer 04 Leverkusen, VfL Bochum, MSV Duisburg, Fortuna Düsseldorf, Arminia Bielefeld, KFC Uerdingen 05, Rot-Weiss Essen, Alemannia Aachen, SG Wattenscheid 09, Rot-Weiß Oberhausen, Wuppertaler SV, SC Fortuna Köln, Preußen Münster

17
10
Niedersachsen
Hannover 96, Eintracht Braunschweig, VfL Wolfsburg

3
11
Rheinland-Pfalz
1. FC Kaiserslautern, 1. FSV Mainz 05
2
12
Saarland
1. FC Saarbrücken, Borussia Neunkirchen, FC 08 Homburg

3
13
Sachsen
Dynamo Dresden, VfB Leipzig 

2

Dari tabel di atas, sudah jelas kan länder  mana yang paling banyak ‘menyumbangkan’ klubnya untuk berpartisipasi di Bundesliga? Ya, Nordrhein-Westfalen adalah jawabannya. Dalam 51 musim Bundesliga bergulir Nordrhein-Westfalen sudah ‘menyumbangkan’ total tujuh belas klubnya.

Nah, itu kan ‘penyumbang’ terbanyak ditotal dalam 51 musim, lalu merujuk ke pertanyaan awalnya kan “Negara bagian mana yang paling banyak ‘menyumbang’ klub peserta Bundesliga setiap musimnya?”. Jawabannya pun juga tetap sama, yaitu Nordrhein-Westfalen.

Lalu, bagaimana dengan kiprah klub-klub Nordrhein-Westfalen di Bundesliga? Berapa jumlah klub Nordrhein-Westfalen terbanyak dalam satu musim? Musim kapan pula klub-klub Nordrhein-Westfalen mendominasi papan atas kelasemen? Bagaimana kekuatan klub-klub Nordrhein-Westfalen musim ini?

Selama berpartisipasi di Bundesliga, jumlah klub-klub Nordrhein-Westfalen tiap musimnya berubah-ubah. Di musim pertamanya 1963/1964 terdapat lima klub antara lain  Borussia Dortmund, 1. FC Köln, Meidericher SV (sekarang MSV Duisburg), Preußen Münster, FC Schalke 04. Pada musim kedua menjadi empat klub dikarenakan Preußen Münster degradasi. Di musim-musim berikutnya jumlah klub dari Nordrhein-Westfalen berubah-ubah menjadi enam klub, tujuh klub juga delapan klub, bahkan pernah sampai separuh dari jumlah klub yang berlaga di Bundesliga yang beranggotakan delapanbelas klub, yaitu sembilan klub dari Nordrhein-Westfalen. Apakah cukup sampai sembilan klub? Tidak, Nordrhein-Westfalen bahkan pernah ‘menyumbangkan’ sampai sepuluh klub dari delapanbelas klub yang ikut serta, hal itu terjadi pada musim 1980/1981. Hanya saja musim tersebut Nordrhein-Westfalen cuma menang jumlah saja. Dari sepuluh klub tersebut tidak ada satupun yang berada di posisi empat besar. Bahkan dua klub Nordrhein-Westfalen harus degradasi! Musim tersebut, FC Bayern dengan pemain-pemain luar biasa seperti Karl-Heinz Rummenigge dan Paul Breitner merengkuh Meisterschale untuk ke enam kalinya.

Kalau tadi klub  Nordrhein-Westfalen cuma menang jumlah, lalu apakah pernah klub-klub Nordrhein-Westfalen mendominasi papan atas Bundesliga? Ya, pernah pada musim 2011/2012. Pada saat itu Borussia Dortmund menjadi juara, sedangkan FC Schalke 04, Borussia Mönchengladbach, Bayer 04 Leverkusen berturut-turut ada di peringkat tiga, empat dan lima. Bahkan di musim tersebut, penyerang FC Schalke 04 asal Belanda, Klaas-Jan Huntelaar menyabet trophy Torjägerkanone untuk 29 golnya.

Dari empat klub tersebut, keempatnya masih ikut serta di musim 2013/2014 dan memang hanya empat klub itu saja. Tapi bisakah mereka mengulang dominasi di papan atas seperti yang dilakukan di musim 2011/2012? pertanyaan yang sulit untuk di jawab, karena performa ke empat klub tersebut yang naik turun. Mungkin dari empat klub tersebut hanya Borussia Dortmund yang paling konsisten sampai saat ini dibawah pelatih jenius, Jürgen Klopp. Bayer 04 Leverkusen juga termasuk konsisten beberapa musim terakhir, namun mereka terkadang terlena dengan ke konsistenan mereka dan berubah menjadi inkonsisten atau dipermalukan di menit-menit akhir oleh klub lain. Tengok saja di musim 2001/2002, mereka hampir saja merengkuh treble winner namun yang didapat hanyalah treble runner-up atau kebiasaan lama mereka yang suka sekali menjual pemain bintangnya di masa lalu. Tapi yang lebih menyakitkan bagi fans Bayer 04 Leverkusen ialah klub kesayangan mereka disebut orang-orang tidak mempunyai tradisi baik di akhir musim dan akan terus begitu. Lalu bagaimana dengan FC Schalke 04 dan Borussia Mönchengladbach? Kedua klub ini entah mengapa setiap musim hasilnya selalu membuat saya terkejut. Musim ini papan bawah, malah hampir degradasi, musim depannya masuk zona UCL dan begitu seterusnya. Tapi kalau dilihat dari penampilan sejauh ini, nampaknya salah satu dari empat klub tersebut akan merebut meisterschale dari FC Bayern di akhir musim.

Jadi, siapa penguasa Bundesliga? jawabannya tergantung dari sisi mana anda melihatnya…

Muhammad ‘Moad’ Masyhur
@13Moad



Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta