Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label Tongkrongan. Show all posts
Showing posts with label Tongkrongan. Show all posts

UKA-UKA di DPR

Oleh Kurniawan

Sebelum berbicara jauh tentang apa yang akan ditanyangkan, ada baiknya ada sesi kata pengantar atau sekadar basi-basi untuk perkenalan perihal UKA-UKA.

UKA-UKA adalah sebuah penampakan, penampakan itu bisa hadir hanya berupa suara tanpa tahu siapa pemilik suara tersebut, atau sosok yang muncul begitu dan tak begitu jelas. Bahasa lainya samar, ada yang mengatakan tak jelas, absurd, dan segala macamnya. Yang sangat jelas adalah penampakan. UKA-UKA dulu pernah tanyang di TV, dan sekarang muncul lagi.

Bagaimana jalan ceritanya, silah dinikmati, ditambahkan juga boleh, atau di lain-lainya juga boleh. Untuk mempersingkat waktu, acara kami mulai.

Selamat Menyaksikan Siaran Langsung dari Gedung DPR (30/3).

"Lanjutkan" suara itu terdengar nyaring, tapi entah dari berantah munculnya.
"Pasti dari partai Demokrat," komentar orang yang sedang duduk menikmati bubur dari sisi kanan.
"Bapak Pimimpin sidang yang terhormat, ini penting, sebab rakyat perlu tahu,."
"Interupsi, pimpinan sidang" kembali suara yang tak diketahui dari mana asalnya.
"Tidak perlu," sebuah sambaran ujaran tak jelas dari entah berantah, yang jelas suara tersebut terdengar dari dalam persidangan.
"Apakah kita tidak bisa menghargai orang yang berbicara," ungkap Marzuki Ali selaku pemimpin sidang sambil menatap ke kearah pengunjung Gedung DPR yang ada dihadapannya, mungkin ia ingin mengetahui dari mana suara itu berasal, jejaknya suaranya ada di sebelah kiri sambil menyerongkan arah pandangan, lalu oh tidak sebelah kanan, atau tepat dihadapanya.

Entah berhasil atau tidak, pimpin menyilahkan untuk dilanjukan.

PKS melanjukan ungkapannya "Menurut kami ini perlu, agar rakyat tahu, bahwa bla, bla, bla......"

"Cari muka banget PKS" komentar seorang yang berada sisi kanan.

"Demokrat pasit mendukung kenaikan BBM, sudah ketebak, rapat apaan." kata orang yang sedang menikmati rokok di dari sisi kiri.

Untuk lebih jelasnya, akan sedikit digambarkan perihal komentar sisi kiri dan sisi kanan. Acara perihal persidangan yang berlangsung di DPR oleh salah satu stasiun disakikan orang-orang yang berkunjung di warung kopi (Warkop). Para pengunjung warkop tersebut terletak di sebelah kiri dan juga sebelah kanan dari TV yang dengan layar berukuran 14 inci.

Tak hanya komentar yang tak jelas dari para orang yang ikut sidang, mereka pengunjung warkop turut mengeluarkan komentar yang atas apa yang dilakukan anggota rapat.

Kembali penanyang TV, ketua umum melanjutkan ungkapanya, "Bailak lah, sebagaiamana yang telah kita sepakati tentang pasal bla, bla, bla, .......... Dan sekarang siapa yang tak memilih apsi satu berdiri." "Tolong dihitung" Tambah Marzuki Ali.

Saat dihitung tiba-tiba Hanura pergi, begitupula PDI Perjuangan yang mengikuti jejak Hanura meninggalkan ruangan atau bahasa kerennya Aksi walkout.

Kepergian PDI Perjuangan disambut dengan ungkapan "Selamat jalan," "Semoga selamat sampai tujuan," "Bagus," "Kita perlu menghargai setiap......... belum selesai ungkapan Marzuki langsung disambar "Tidak perlu disikapi," kometar tak jelas dari mana asalnya.

Tak berselang lama, "Pamdal, Pamdal amankan teriak tak jelas juga dari mana datangnya.
"Jangan dipukul," Teriak orang

Dari TV terlihat beberapa orang yang menggunakan pakaian seragam menarik dan ada juga yang menjembak, dan segala macam, seperti pertunjukan perang, atau orang yang sedang tawuran.

*Penulis adalah orang yang masih belajar memindahkan peristiwa menjadi kata-kata. Dan sekarang aktiv nongkrong di angkringanwarta.com

Taman (Makam) Pahlawan

Oleh Adey Sucuk Zakaria Bahar*

Baiklah, tapi sebelumnya, biarkan saya mengukapkan hal yang berkaitan perihal kebingungan saya jika harus melabeli tulisan berikut ini apa, entah prosa, monolog, cerpen atau yang istilah-istilah lain. Yang saya tahu saya nulis. Itu aja, hehehe.

Disebuah alun-alun taman kota, berkumpullah orang-orang sambil bercengkrama satu sama lainnya. Ditemani riak-riak air mancur yang muncrat dari tengah taman, suara-suara burung kecil beradu di atas pohon-pohon cemara, wanita-wanita transparan berlalu lalang, serta anggur tiada duanya di dunia memenuhi cawan-cawan di meja sekitar taman.

Lalu terlihat wajah-wajah yang beraneka ragam di antara kerumunan orang-orang disana. Tak berapa jauh dari alun-alun taman kota, tepatnya disebuah lapangan terlihat dua orang sedang menghadap ke arah tiang bendera sambil terus mengambil sikap hormat. Keduanya sangat khusyuk tanpa bicara sepatah kata pun. Seorang diantaranya menggunakan stelan safari dan seorang lagi menggunakan kemeja lengkap dengan jas serta kopiah di kepalanya. Mereka bedua ternyata Bung Karno dan Bung Hatta.

Sudah cukup lama mereka di sana berdiri sambil hormat menghadap tiang bendera tak terdapat lagi benderanya. Kemudian disaat yang sama terlihat sebuah pesawat tempur sedang melayang-layang di udara, tanpa ragu pesawat itu menggerayangi setiap sudut langit saat itu. Entah apa tujuannya, padahal sudah lama pesawat itu, tidak pernah diterbangkan dan telah diabadikan di lanud halim perdana kusuma.

Setelah sekian lama, barulah orang-orang tahu kalau penerbang pesawat itu ialah Ir. Juanda. Dan diantara kerumunan orang-orang di bawah, Bung Tomo dan Jendral Soedirman bertepuk tangan kegirangan melihat atraksi-atraksi pesawat tempur itu. Seorang anak kecil sedang bermain sepeda fixienya, Karena melihat ke arah langit-langit penasaran dengan keberadaan pesawat tersebut jatuh tersungkur di trotoar jalan.

Bocah itu pun menangis tersedu-sedu. Lalu seorang wanita berkebaya membantu anak kecil itu, wanita itu menyeka air mata serta mengobati luka-luka yang ada di tubuh anak kecil itu. Kemudian setibanya di rumah, bocah itu menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada ibunya. Lalu ibunya berkata, "Oo... kamu barusan telah diobati sama ibu fatmawati nak. Sudah...tidak apa-apa, lukamu pasti lekas sembuh."

Menjelang sore terdengarlah kumandang adzan disebuah masjid yang di sampingnya berdiri sebuah Gereja, Wihara, Kuil dan di belakanganya berdiri sebuah klenteng kecil. Suara adzan itu, padat, dalam sekali makna yang terkandung dari suara adzan itu hingga menyentuh hati yang mendengarnya. Ternyata itu suara W. S Rendra. Tak berapa lama. mulailah orang-orang berdatangan ke masjid. Gusdur yang baru saja selesai baca koran sembari minum teh terlihat datang ke masjid. Sholat Ashar berjama'ah pun dimulai dengan H. Agus Salim sebagi imamnya.

Di tempat lain, tujuh jendral beserta keluarganya sedang berada di pinggir kolam, kolam itu dahulu bekas kolam buaya. Mereka sedang menikmati suasana sore hari disana. Seorang gadis kecil, anak dari salah satu jendral pergi bermain terlalu jauh. Ibunya yang sadar akan kehilangan anaknya kemudian mencari lalu mengejarnya, "Kamu jangan main jauh-jauh ade irma.... disini saja.". Ucap ibunya mengingatkan.

Di pinggir jalan Tan Malaka, Sultan Hasanudin, Teuku Umar dan Pattimura sedang joging di sore hari. Biji-biji peluh menetes dari badannya, mereka berempat singgah di sebuah warung untuk istirahat dan minum. "Skak....!!!!!". Tiba-tiba suara seseorang yang sedang main catur mengagetkan mereka.

Orang-orang alim, menggunakan sorban, gamis serta kain sarung lokal ini sedang bermain catur di atas sawung bambu. Setelah dicermati kedua orang itu ialah KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hayim Asy'ari. Televisi yang terus melototi mereka dengan berita-beritanya tak mereka indahkan. Cuma orang disebelahnya yang selalu tertawa melihat acara di tv itu, Mbah Surip namanya. Di tangan kanannya melekat sebatang rokok dan di tangan kirinya tersedia secangkir kopi. Belum sempat ia menyeruput kopi itu, datang seorang pengamen,"......Aku tahu ku tak kan bisa menjadi seperti yang engkau minta.....". Belum habis lagu tersebut dinyanyikan mbah surip yang sambil menangis terharu karena ternyata dia adalah penggemar Chrisye, pengamen yang menyanyi di depannya.

Maka berbincanglah mereka seperti dua orang saudara yang baru berjumpa. Banyak sekali yang mereka bicarakan dari eksklusifnya TIM sampai perkembangan musik di tanah air. Tak jauh dari tempat itu, Dono, Kasino, Benyamin serta Timbul sedang main kartu dengan asyiknya. Dalam permainan itu, Timbul selalu kalah karena dicurangi oleh Dono, Kasino, serta Benyamin. Tapi, seperti biasa Timbul cuma nyengar-nyengir dengan senyum khasnya.

Kembali ke lapangan, bung Karno dan bung Hatta tampaknya telah selesai dengan ritual mereka. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Akan tetapi di tengah perjalanan bung Hatta melihat seseorang berdiri di atas mimbar di tengah jalan. Orang itu tidak bersuara, hanya ada raut muka kecut di wajahnya. Sudah berkali-kali busway yang lewat terpaksa menghindar, karena ia berdiri tepat di atas perlintasan busway. Aroma busuk dari kali yang menghitam di samping jalan juga tak dihiraukannya. Pedagang kaki lima berserakan disekitarnya.

Lalu bung Hatta mendekatinya, "Maaf, Pak. Bapak sedang apa di tengah-tengah lampu merah ini??". Orang itu cuma menoleh sejenak ke arah bung Hatta tanpa bersuara. "Lho? Pak Ali Sadikin?! Kenapa berdiam diri ditempat ini?? Ayo mampir ke rumah saya tak jauh dari sini pak...". Ucap bung Hatta dengan keterkejutannya. Tapi Ali Sadikin tetap tidak bersuara.

Disaat yang sama bung Karno mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. Di sana, ia melihat Munir dan Marsinah yang sedang serius berbincang, entah masalah apa? Tapi, bung Karno langsung pergi, karena ia sudah janji dengan istrinya untuk segera pulang.

Saat bung karno beranjak pulang, Buya Hamka dan Sutan Takdir Alisyahbana baru saja datang di perpustakaan itu, disusul kemudian oleh Chairil Anwar yang rambutnya telah memanjang dan diikat ke belakang.

Waktu sekarang menunjukkan pukul 8 malam. Wilayah Senayan saat ini sedang ramai-ramainya, karena ada pertandingan final sepakbola antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung. Di tengah-tengah ribuan penonton terlihat Fan Tek Fong dan Yakob Sihasale juga ikut hadir untuk menonton laga klasik itu. Sedangkan di kelas VIP Maladi dan Soeratin sedang anteng menonton pertandingan itu. Sesekali mereka berbincang mengenai sepakbola indonesia ke depannya seperti apa.

Lalu di tempat lain Raden Patah sedang termenung seorang diri di puncak Monas. Kadang ia berpindah ke atap gedung DPR, ke atap Istana Negara, kadang pula ia hanya berputar-putar di atas langit Taman Mini. Hanya itu yang ia lakukan selama ini. Ke esokan harinya, Hayam Wuruk melihatnya terlelap di atas jembatan semanggi. Padahal banyak yang sedang demonstrasi menuntut percepatan penegakan HAM di bawah jembatan itu.

Mungkin itu, yang dibicarakan Munir di perpustakaan, karena ia hadir bersama Marsinah, Rustomo, Sumiarsih, Sugeng serta tak lupa elemen-elemen dari Mahasiswa. Tampak di tengah-tengah seragam polisi, seragam jaksa, seragam hakim serta UUD yang dibakar, Wawan mahasiswa Atma Jaya sedang berorasi. Sigit anak YAI serta Muzammil anak UI juga hadir dalam demonstrasi tersebut. Hayam Wuruk yang segera membangunkan Raden Patah lalu lekas pergi dari tempat itu menuju alun-alun taman kota, karena takut dianggap pelaku intelektual.

Sementara itu Gajah Mada dan Tutwuri Handayani pergi ke sekolah-sekolah untuk sekedar melihat aktifitas disana. Mereka sungguh kaget karena para murid SMA kerjanya cuma di kantin sambil merokok atau di depan gerbang sekolah bergandengan tangan siswa/i-nya.

Mereka pun cuma bisa menggelengkan kepala. Belum lagi ketika mereka berdua pergi ke kampus-kampus , yang ada cuma anak-anak muda yang suka nongkrong tanpa tahu harus berbuat apa. Tak berapa lama ada seorang warga yang lari ketakutan, dengan serta merta Gajah Mada dan Tutwuri Handayani menghentikannya, lalu menguak informasi apa gerangan yang terjadi dari orang itu.

Selanjutnya orang itu, bercerita dengan terburu-buru bahwa ada keributan melibatkan warga Keramat Sentiong dengan warga Tanah Tinggi. Beritanya sudah tersiar di tv-tv nasional. Penyebab keributan cuma karena salah satu kelompok warga kalah main futsal maka tidak terima.

Keributan begitu brutalnya sampai terlihat seperti medan perang. Mobil serta kendaraan bermotor lainnya tak luput dari amuk warga. Pangeran Diponegoro yang sedang makan di Warteg sehabis belanja di Pasar Senen karena melihat berita tersebut dengan seketika muncul di tengah keributan.

Kedua kelompok warga yang bertikai tersebut tidak menghiraukannya. Mereka terus saja saling lempar meski pangeran Diponegoro berada di tengah-tengah mereka. Lalu pangeran Diponegoro yang tak sabar, akhirnya memukulkan telapak tangannya ke atas aspal, akibatnnya yang berdiri di atasnya membuat kedua kelompok warga itupun mental seperti ditiup angin kencang.

Api yang berasal dari barang-barang yang terbakar pun padam saat itu juga. Dua kelompok warga itu ketakutan. Tak lama pangeran diponegoro berteriak, "Jika kalian tidak berhenti dan segera saling memaafkan maka tempat ini akan aku ratakan dengan tanah!! Ini sumpah ku Diponegoro!!!". Tanpa dikomando kedua kelompok warga ini berangsur-angsur berbaur satu dengan lainnya. Ada yang bersalaman ada pula yang berpelukan sambil meneteskan air mata. Seorang warga yang ingin mengucapkan terima kasih kepada Diponegoro harus gigit jari, karena pengeran Diponegoro telah menghilang dari tempat iru menuju alun-alun taman kota.

Gajah Mada dan Tutwuri Handayani yang melihat peristiwa itu juga menyusulnya menuju alun-alun taman kota. Di alun-alun taman kota, berkumpullah orang-orang sambil bercengkrama satu sama lainnya. Ditemani riak-riak air mancur yang muncrat dari tengah taman, suara-suara burung kecil yang beradu di atas pohon-pohon cemara, wanita-wanita transparan yang berlalu lalang serta anggur yang tiada duanya di dunia memenuhi cawan-cawan di meja sekitar taman. Lalu terlihat wajah-wajah yang beraneka ragam diantara kerumunan orang-orang disana.

Tambahan akhir penutup

[ Maaf jika ada kesamaan nama pelaku serta tempat kejadian karena hal ini hanya suatu kesengajaan yang benar-benar disengaja. Semoga mereka semua yang disebutkan dalam narasi fiksi di atas menjadi pahlawan seseungguhnya -setidaknya- dalam hati sang penulis. Amiin..]

*Penulis adalah seorang laki-laki yang kebetulan sekali belum menikah juga, dan masih mencoba menyelesaikan perkuliahan di UIN Jakarta untuk mendapatkan gelar Strata satu (S1) Jurusan
Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Aktivis dan kebetulan menjadi Pengurus KMM RIAK (Komunitas Musik Mahasiswa Ruang Inspirasi Atas Kegelisahan), dan terakhir selain itu, aktivis blogger, untuk buktinya silahkan klik http://kelamatalidea.blogspot.com/

Gagalnya Indonesia Sebagai Agraris

Setelah lama tak berjumpa, tiba-tiba tanpa terduga sebuah pertemuan hadir. Waktu itu, ia sedang asik online, membuka akun twitternya. Dan ia cukup terkejut atas reaksinya kala disapa dari belakang.

Secepat kilat ia membalikan badan, setelah membalikan badan, ia berujar "Enggak sekalian saja presidennya impor, Indonesia-indonesia semuanya serba impor." Sejenak suasana hening, ia hisap dalam-dalam setelah merasa puas dengannya, ia membuka maka kepulan asap keluar dari mulutnya.

Sebuah pertemuan tanpa terduga terjadi di Warung Internet (Warnet) langgananya, Sanggrahan, Samping UIN Jakarta. Ia meminta untuk duduk disampingnya, lalu ditatap kembali layar monitor, jemarinya beralih memegang moos dengan sebelumnya meletakan rokok pada celah-celah asbak, celah-celah itu mungkin dibuat sengja oleh sang pembuat asbak untuk tujuan meletakan rokok.

Sebuah berbentuk ujung panah dengan ukuran jauh lebih kecil dari ukuran panah sebenarnya, berwarna putih bergerak-gerak. Tanda itu, ia letakan pada salah satu teb, lalu jari manisnya menekan enter.

Maka muncullah sebuah berita yang berbicara tentang impor kebutuhan pokok. Berita itu, ia tatap dalam-dalam, lalu kepalanya menggeleng-geleng, sebuah berita yang sepertinya sengaja dipertunjukan untuk menguatkan argumentasinya perihal impor. "Dan ternyata Indonesia sebagai negara agraris telah gagal," ungkap Abdullah Alawi secara tiba-tiba.

Sesekali ia membuka Twitternya, nampak tulisan "10 neew tweets" lalu ia klik tulisan tersebut, dengan sekitika bermunculan tulisan-tulisan RT@.........., foto seseorang dengan menuliskan "....." Sejenak ia tatap, lalu ia menabah teb lalu ia ketik pada mesin pencari google, sebuah tulisan pidato Soekarano pada peresmian IPB.

Tak lama munculah deretan-deretan seputar artikel, ia pandangi satu-persatu dan salah satunya ia klik, tak beberapa lama munculah sebuah artikel yang diawali dengan kutipan Presiden pertama Indonesia,

Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “tjampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner,kita akan mengalami malapetaka!”

Pada waktu itu, terbanyang bagaimana Soekarno mengukapkan pidato dengan suara keras, lantang yang dapat membangkitkan semangat orang-orang. Dan Soekarno telah terbanyang bagaiamana Indonesia melihat Indonesia kedepannya.

Maka apabila sekarang Indonesia impor untuk menutupi krisis pangan, atau terdapat wilayah yang mengalami kelaparan. Lalu siapa yang salah? Apakah pemerintah, atau lembaga pendidikan yang gagal untuk mengembangkan pertanian?

Apabila dilihat kelulusan dari tahun dulu hingga sekarang tentunya sudah banyak ahli tani yang dapat mengembangkan pertanian, tapi? Katanya pada angkringanwarta.com

Berburu Pindang di Kota Mangga

Oleh Rizki

Jika anda berkunjung ke kota yang berjuluk ‘Kota Mangga’ (Kabupaten Indramayu), atau kebetulan melewati jalur Kabupaten Indramayu, luangkanlah sejenak waktu anda untuk berburu kuliner unik khas pesisir Indramayu. Ditambah lagi, anda akan menikmati suasana khas wilayah muara sungai khas pesisir pantai.

Dalam perjalanan menuju Muara Karangsong, tengoklah di beberapa bantaran sungainya, anda akan menjumpai banyak perahu-perahu nelayan yang sedang berlabuh. Sebagian teronggok tak terurus. Bahkan, jika beruntung anda juga akan menjumpai proses pembuatan perahu-perahu baru yang sedang dikerjakan oleh para seniman pembuat perahu.

Jika melihat tempatnya, mungkin memang tak ada pemandangan yang menarik, anda hanya akan melihat sebuah bangunan dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, ditambah beberapa atap bagian depan yang tampak tidak teratur, menjadikan tempat tersebut merupakan tempat yang sangat sederhana.

Namun, dibalik pemandangan yang amat sederhana, tersimpan sesuatu yang membuat perjalanan anda yang mulus terpaksa harus berakhir. Terutama ketika anda menjumpai pintu masuk ke area wisata Muara Karangsong, dengan hanya butuh waktu 15 menit anda akan menjumpai sebuah kedai makanan, tentunya dalam perjalan menuju kedai anda akan mendapatkan sebuah pengaman begitu menakjubkan dengan penelusuran bantaran sungai hingga sampai ke ujung muara.

Ya, itulah tempat makan "Ananda Lesehan". Dengan konsep penyajian secara lesehan, dan memampangkan dengan jelas masakan andalannya, yaitu Pindang Gombyang.

Pindang Gombyang merupakan masakan olahan hasil laut berupa ikan manyung. Disajikan dengan kuah berwarna kuning. Lebih mantap lagi jika yang disajikan adalah kepala ikannya, karena lemak pada kulit kepala ikan menghadirkan nuansa gurih yang kental. Selain menu andalannya itu, kedai ini juga menyajikan berbagai masakan olahan hasil laut lain, seperti ikan bakar, udang, cumi, dan lainnya.



Anda tertarik? Sempatkanlah ke kedai tersebut, sebuah kedai makan di pinggiran sungai Karangsong dengan menu andalan ‘Pindang Gombyang’, yang merupakan satu jenis masakan yang disajikan di sebuah tempat makan yang terletak di Muara Karangsong, utara kota Indramayu. Selain menyajikan makanan yang lezat, perjalanan ke lokasi pun memberikan warna tersendiri bagi anda yang baru pertama kali. Tentu saja dengan kualitas rasa yang sungguh lezat. Jadi, luangkanlah waktu sejenak untuk merasakan kelezatan salah satu kuliner khas pesisir Indramayu ini.

Media, M. Nazaruddin, dan Apriyani Susanti

Oleh Dede Supriyatna

Sebagimana malam-malam sebelumnya, entah apa yang menjadikan kita berkumpul, dan bersandau gurau menikmati malam di angkringan depan masjid UIN Jakarta. Selepas hujan yang mengguyur kampus hampir satu hari, (26/1). kita berbincang-bincang, apa yang kita bincangkan sebenarnya enggak terlalu jelas, sebab sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah, dalam obrol ngolor-ngidul.

Segelas kopi jos, yakni sebuah kopi hitam di campur dengan bara arang telah terhidang di antara kita, tak luput kupulan asap. Perbincangan malam itu, memang tak benar-benar jelas. Tapi, terdapat beberapa hal yang jadi tema yang menjadi berbincangan.

Perbincangan seputar media yang lagi gencar-gencarnya memberitakan Apriyani Susanti seorang pengumudi Xenia yang menabrak hingga menewaskan 9 orang. Atas Tragedi tersebut, Apriyani begitu populer, beberapa orang mengencamnya hingga menggalang massa untuk menuntut hukuman mati.

Tak hanya itu, media juga lagi gencar-gencarnya memberitakan proses pengadilan M. Nazaruddin. Dalam proses pengadilan tak luput ketua partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Baik Apriyani maupun M. Nazaruddin, keduanya orang yang berurusan dengan namanya hakim dengan kasus yang berbeda. Seberapa lama ia akan berada di dalam penjara, hakim yang akan memutuskan.

Berbicara tentang pengadilan ada hal yang menarik dari galangan massa yang menuntut untuk hukuman mati Apriyani Susanti, entah apa yang menjadi penyebab itu semua. Mungkinkah karena kepercayaan terhadap pengadilan yang semakin berkurang, sehingga dalam pemutusan hakim terasa kurang adil, bisa juga masyarakat sudah mempunyai wewenang untuk ikut campur dalam pengadilan, atau bisa juga ada yang orang yang sengaja untuk mengalihkan isu.

Mengapa tidak sekalian penggalangan dana untuk hukuman Nazaruddin salah seroang koruptor, lebih tepatnya hukuman mati bagi Koruptor. Jika melihat secara jujur, korupsi lebih banyak membunuh masyarakat meskipun tidak secara langsung. Dan apa yang dilakukan oleh Apriyani masih dipertanyakan unsur kesengajaan atau benar-benar kecelakaan?

Memang perihal tentang hukuman mati bagi koruptor pernah digalangkan, tapi sepertinya media kurang meresponnya secara aktif, berbeda halnya dengan kasus Apriyani. Dalam kasus Apriyani terdapat media yang memberitakan tentang Grub di FB yang menuntut hukuman mati terhadapnya.

Memang tak ada yang perlu diperoalan dari media yang hendak memberitakan Apriyani karena sedang hot-hot dengan berharap untuk mendapatkan rating, atau tidak semuanya tergantung pada kebijakan dari media itu sendiri.

Dan tentang berbicara isu, terdapat ungkapan yang dilontarkan di komentar angkringanwarta, sebuah komentar yang dilontarkan Agus Kurniawan, " Jangan lupa dengan berita nazarudin boy.. ini hanya sebuah kecelakaan masih ada yang lebih besar kasus yang harus dituntaskan."

Perihal apa yang diungkapnya ada benarnya juga, bahwa kecelakaan di Tugu Tani salah satu persoalan yang di antara persoalan besar lainya, seperti kasus Korupsi, kasus Lapindo yang belum juga tuntas, Century, kasus pengadaan lahan, belum lagi kasus impor yang sangat merugikan petani.

Ngobrol Gus Dur di Angkringan

Seusai rapat pukul 23.00 WIB, di pelantara gedung Student Center (SC) UIN Jakarta. Terdapat beberapa orang tak langsung menuju tempat peristirahatan, melainkan terdapat beberapa orang meluncur untuk singgah di angkringan yang terletak di depan Masjid Fatullah, UIN Jakarta (9/1).

Tiap-tiap dari kami perlu rehat sejenak sambil menikmati secangkir kopi jos, dan kembali membicarkan langkah-langkah selanjutnya dalam pensuksesan acara "Semalam Bersama Gus Dur" di UIN Jakarta, Jum'at (13/1/2012). Malam kian larut, dan tersisa tingal Rendi, Hasim, Abi S Nugroho, dan ketinggan, bung Abdullah Alawi yang secara kebetulan datang terlambat dan meminta dijemput pula.

Sambil menyeruput kopi, duduk santai di trotoar beralasan tikar, obroalan hadi menyiringi kupalan asap rokok, dari obrolan yang hadir, berbicara tentang kampus UIN Jakarta dengan latar belakang Islamnya, bagaimana Islam bisa dipandang Humanis ditengah-tengah isu konflik yang ada, gerakan UIN setelah Nurcholish Madjid, dan isu-isu yang sedang dihadapi kawan-kawan lembaga Kampus baik intra, maupun ekstra kampus.

Mereka berhara bagaimana acara "Semalam Bersama Gus Dur" menjadikan memuntum untuk memberikan semangat pada genarasi yang ditinggalkan, semangat genarasi muda yang berani, dan bagaimana kampus UIN Jakarta lebih Demokrasi, lebih bisa berbicar tentang Islam yang sesungguhnya, bagaimana nila-nilai Gus Dur tertanam di hati, dan semoga tak ada benturan ideologi yang melahirkan konflik.

Obralan itu mengalir begitu saja, dan selain kami berbincang tentang tujuan dari refleksi akhir tahun bersama Gus Dur, selingan candaan turut hadir menyertai guyonan malam, candaan berupa Abdullah Alawi yang disapa akrab Abah, dan kini ia menyelipkan nama tambahan pada dirinya dengan kata "Zuma" sebuah nama atas kecintaan pada permain "Zuma", yakni sebuah keharusan untuk membacakan puisi pada acara tersebut.

Atas reaksi berupa penunjukan terhadapnya, ia melakaukan penolakan. Acara perihal merayu terjadi sengit dengan bumbu gelak tawa, dan pada akhirnya Abah menyerah juga, namun menyerahnya dia diiringi dengan serangan pada yang lain, di antara seranganganya, yakni menyerang Didik untuk berorasi perihal bola, sebagaimana kita ketahui salah satu hoby Gus Dur selain musik adalah bola.

Sebelum kami meninggalkan warung angkringan, Rendi mencoba meminta Abi untuk mendata kembali segala macam hal yang perlu dipersiapkan. Dan tak luput dari pendataan, yakni siapa saja yang hendak membaca puisi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Gugur Bunga dengan iringan biola, dan beberapa hal lainya. Acara itu penting untuk dijadikan pengiring acara orasi kebudayaan yang diisi Alissa Wahid, Adhie Massardi, Ahmad Dhani, Permadi, Radhar Panca Dahana, dan ketinggalan wayang dimainkan dalang Ki Enthus Susmono.

Dan memang waktu memaksa kami untuk segara meninggalkan warung Angkringan dengan ditandai penjual sudah merapihkan barang-barangnya. Dan akhirnya kami pun resmi meninggalkan angkringan saat waktu menunjukan pukul 03.00 WIB. Tiap-tiap dari kami akhirnya pergi dengan membawa Pekerjaan untuk segera diselesaikan. (Tim Angkringanwarta)

Pencariaan "Koong" di Sanyo

Oleh Dede Supriyatna*

Secangkir kopi telah terhidang kembali, terhitung sudah tiga cangkir kami nikmati. Sepertinya kopi tak pernah terputus selama kami belum meninggalkan tempat duduk di atas pompa air, dan masing-masing antara kami menyebutnya "Sanyo".

Sanyo yang terletak di jalan Pesanggrahan samping UIN Jakarta, dengan keberadaannya bersebelahan dengan warung Tegal (Warteg). Sehingga memudahkan kami untuk memesan secangkir kopi.

Saat sedang asik menikmati kopi yang keempat, sambil menyilapkan obrolan ngalor-ngidul, dan secara tiba-tiba saya menyebutkan seorang penulis bernama "Iwan Simatupang."

Penyebutan saya terhadapnya, tak lain lebih disebabkan pencarian kepada salah satu novelnya yang berjudul "Koong," sebab diantara novel-novel yang lain, pernah saya nikmati, dan tinggal "Koong" yang belum saya sentuh.

Awal mula perkenalan saya dengan Iwan Simatupang, bermula dari cerita sahabat, seorang yang mungkin bisa dikatakan sebagai idolakan pri kelahiran Sibolga, 18 Januari 1928. Ia selalu bercerita tentang novel-novelnya, antara lain Merahnya merah, Kering, Koong, dan Ziarah.

Akhir ceritanya, ia memijamkan sebuah novel tipis berjudul "Ziarah." Sudah tiga kali saya membaca novel tersebut, namun masih terasa sukar untuk dipahami. Meskipun demikian, saya terlalut pada tokoh dalam novel, yakni "Tokoh Kita." "Tokoh Kita" juga hadir pada novel "Kering", sedangkan pada novel merahnya merah, laki-laki yang pernah belajar filsafat mencatumkan nama, tak lagi menyebutnya "Tokoh Kita".

Kala membaca tentang Ziarah kesan yang hadir adalah aneh, gila, unik, atau mungkin bisa dikatakan absurd, sebuah novel aneh, apabila dibandingkan dengan novel-novel karya lainya. Iwan bercerita bagaimana "Tokoh Kita" adalah seorang matan pelukis berbakat yang pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pengapur di pagar pemakaman.

Sedangkan "Tokoh Kita" pada novel "Kering" merupakan seorang pemuda yang cerdas, ia hidup di perkampung Transmigrasi. lalu perkampungan itu, dilanda sebuah kekeringan. Akibat kekeringan setiap warganya pergi mengusi, hanya satu orang yang tak pergi, yakni "Tokoh Kita," "Tokoh Kita" menjalankan rutinitas sebagai penggali tanah, hasil galian mengakibatkan galian yang begitu dalam.

Atas ucapan tentang Iwan Simatupang, akhirnya obralan kami beralih pada Iwan Simatupang, sebelumnya kami berbicara tentang politik, sosial, kehidupan kampus, rutinitas. "Koong," mengulang ucapan saya, ia sambil memiringkan kepala. "Entar saya coba tanya teman," ungkap Aisol.

Untuk berbicara Iwan, menurut saya, "ia merupakan seorang eksistensialis, lihat saja novelnya penuh pembrontakan, ia berbicara tentang manusia," lanjutnya. kala mendengarnya, saya hanya mengaguk. "Oh, iya saya tunggu novelnya."

Matan pendiri teater Altar membalasnya dengan senyum, sambil berujar "Pernah baca kumpulan cerpennya?" "Yang tegak lurus dengan langi, kalau yang itu, saya sudah pernah mambacanya."

Ia kembali mengaguk, sambil menuguk kopi hitam, ia kembali berujuar "kalau yang dramanya?" "kebetulan belum." Untuk sementara, saya ingin membaca "Koong, dan sudah lama mencarinya."

malam itu, (13/11) waktu telah menunjukan pukul 00.00 WIB, dan kami putuskan untuk mensudahinya.

* Catatan ini hanya sebatas catatan kala nongkrong

Kembali ke “Yogyakarta”

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja”.....................

Sebaris lirik yang dinyanyikan musisi jalanan, dengan diiringi oleh petikan gita. Salah seorang dari mereka sengaja memainkan gitar, dan seorangnya lagi menyanyikan sebuah lagu yang pernah dibawakan oleh Kla Project dengan judul “Yogyakarta”.

Mereka sengaja menyanyikan atas pesanan saya, saat mereka mengawali lagi tersebut terasa kembali kepada suasana Yogyakarta dan terasa kian hidup, meskipun kami berada di pinggiran jalan Fatmawati, sebelum ITC, jika dari arah Ragunan dengan konsep Angkringanya, atau jika di daerah solo biasanya disebut dengan “HIK”.

Di Angkringan itu, para pembeli duduk bersila dengan beralasan tikar, dan ada juga matras, sambil menyantap nasi yang telah menjadi ciri khas kedua kota tersebut, yakni nasi kucing berserta menu sate yang telah dibakar sebelumnya, atau ada juga hanya menikmati wedangan.

Di antara mereka ada canda-tawa, obrolan terkesan serius, ada juga seperti sedang memandu kasih, atau kembali mengenang romantisme kota yogyakarat atau juga solo, bagi mereka yang pernah singgah di kedua kota tersebut. Mereka begitu asik dengan dunianya masing-masing tanpa mepedulikan jalan raya yang padat di hadapan mereka.

Begitu pula dengan kami, kami yang membentuk kumpalan sendiri mengobrol apa saja, dan secara tiba-tiba diantara obaralan yang terjadi terdengar “Anak muda memang butuh nongkrong,” ujar Agnes salah seorang yang sedang menikmati tongkrongan di malam hari (4/11), sambil menyeruput segelas kopi hitam. Perempuan ini, sengaja datang guna berkumpul dengan teman-temannya ditengah-tengah rutinitas yang mereka hadapi.

Sedangkan saya, hanya berdiam menikmati kedua musisi jalanan yang sedang menyelesaikan lagu “Yogyakarta”. Setelah selesai, keduanya kembali menayakan adakah pesanan kembali, setelah mereka menyanyikan tiga lagu secara bergantian.

Merasa cukup dengan hiburannya, akhirnya mereka berpindah tempat pada pada tempat lesahan yang terletak di samping kami. Dan saya pun kembali mendengarkan obralan yang kami buat, diantara obrolan sepertinya tak pernah kehabisan bahan untuk diutarakan dari seputar hewan yang bernama Komodo yang sedang ramai dibahas di media-media, beritanya hilangnya mahasiswi UIN Jakarta, jurusan Ilmu Perpustakaan, meskipun tentang kehilangannya masih simpang-siur.

Mengenai ada yang berbicara diajak nikah sama pacarnya, ada yang menyangkut dengan Negara Islam Indonesia (NII). Lalu berbicara tentang Mahasiswi Trisakti yang kabur ke Semarang karena telah menggunakan uang kuliah sekitar sebesar Rp 2 Jutaan.
Malam merambat pada dinihari, suasanapun semakin sepi, Jam segini memang waktunya tidur, tadi ramai memang waktunya makan, Ungkap Mimi. Dan pada akhirnya kami juga mengikuti jejak teman-teman yang semenjak tadi telah meninggalkan warung “Angkringan Fatmawati” terlebih dahulu.

Si Biru, Vespa yang berwarna biru yang telah menjadi tema pembahasan di antara kami telah siap kembali untuk meluncur. Dengan suaranya si Biru meluncur di Jalanan yang telah sepi juga. (Dede Supriyatna)

Murahnya Angkringan


Oleh Rizqi Jong Java

Namanya hampir sama dengan situs ini sebut saja namanya ‘angkringan’ ialah sejenis warung yang menjual berbagai-bagai jenis makanan serta minuman dan biasanya terdapat disetiap persimpangan jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kata ‘angkringan’ ini sebenanya berasal dari bahasa jawa ‘angkring’ yaitu duduk santai.


Bagi anda penikmat warung angkringan, tak perlu repot-repot merogoh kocek dan mempersiapkan kendaraan untuk pergi ke Jawa Tengah atau Yogyakarta, bersinggahlah di angkringan yang bertempat di samping jalan Kertamukti Pisangan Ciputat dan tepatnya sebelum kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Angkringan ini tidak jauh beda dengan angkringan-angkringan yang lain. Di bagian depan terpampang layar hitam yang bertuliskan menu makanan dan minuman. Di bagian dalam terdapat empat buah meja kecil yang bisa menampung kurang lebih delapan orang. Dan warung ini buka dari sore hingga tengah malam

Soal menu makanan jangan ditanya, warung ini menyediakan nasi kucing, sate usus (ayam), sate telur puyuh, sate bakso, ceker ayam, dan lain-lain. Minuman yang dijual pun beraneka jenis seperti teh, kopi, air jeruk, susu, susu jahe, dan masih banyak lagi. Semua itu dijual dengan harga yang sangat murah. Dengan uang Rp. 5.000,- saja anda bisa menikmati sebungkus nasi kucing, sate usus dan ditambah teh manis.

Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan ini sering di datangi orang yang berlatar belakang berbeda-beda, mulai dari tukang becak, mahasiswa bahkan para pegawai pun sering menyempatkan diri untuk menikmati menu makanan. Mereka menikmati makanan sambil bebas membicarakan sesuatu hingga larut malam.

Angkringan menjadi tempat egalitan yaitu seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.

Nasi Kucing, Pak BB

Oleh Dede Supriyatna


Nasi kucing berada di dalam kotak, dan saat kita masuki sebuah kotak yang di depannya dibiarkan ngablak sebagai pintu masuk, namun agak terhalang sedikit oleh keberadaan gerbok, gerobak yang dijadikan sebagai tempat untuk menjajakan segala makanan, begitu pula dengan minuman.

Dan tatkala kita memasuki kotak dengan ukuran tak terlalalu luas, hanya berukuran berkisar 2x3M, kotak yang diterangi lampu 5Wath saja, telah membuat tempat itu agak remang. Dalam kotak tersebut telah dipadati dengan 4 meja dengan ukuran panjang kakinya satu jengkal orang dewasa, meja itu biasanya digunakan untuk meletakan hidangan yang sedang dinikmati para pembeli. Dari ke 4 meja itu diposisikan 2 baris sejajar, setiap barisnya terdiri dari 2 meja.

Tak hanya hanya keberadaan meja itu saja, dalam kotak tersebut juga telah terdapat tikar yang digunakan sebagai alas bagai mereka yang sedang menikmati hidangan, adapun hidangan yang dapat tak dinikmati, yakni tak begitu jauh berbeda dengan warung angkringan yang lainya. Sebagaimana halnya hidangan yang selalu terdapat di warung angkringan, yakni nasi kucing.

Di tempat itu juga terdapat nasi kucing, namun untuk Nasi Kucing itu sendiri terdapat tambahan kata-kata sehingga untuk penyebutannya menjadi “Nasi Kucing, Pak BB” ungkapan itu tertera di sebuah papan yang berukuran sesuai dengan tulisan itu. Letak papan itu yang ujungnya di tempelkan pada dinding sehingga membentuk seperti orang kipasnya tukang sate, cuma diletakan di atas dengan tinggi sejajar dengan tingginya gerobak.

Penambahan kata-kata Pak BB pada menu Nasi Kucing terasa istemewa, selain sebuah minuman yang masih Jarang terdapat di warung angkringan yang berada di Jakarta, sebuah hidang itu bernama “Wedang Tape Ketan,” yang nama wedang tersebut sengaja tertulis sendiri menempel di atas samping depan gerobak, dengan deretan huruf yang tertera pada sebuah spanduk.

Selain kedua menu tadi, menu-menu yang lain pun dapat dinikmati seperti halnya kopi hitam, wedang jahe baik tanpa susu, maupun ditambah. Sambil menikmati hidangan kita pun dapat duduk santai di dalamnya, meskipun tak dapat menikmati langit secara langsung karena kotak itu tertutup atap.

Meskipun atapnya tertutup, namun suasana yang cukup santai, dan yang terpenting tak perlu banyak uang untuk menikmatinya suasana tersebut. Kita tinggal duduk santai, dan jika mengalami kepusingan dalam hidangan apa yang hendak dinikmati itu, hal itu bisa teratasi dengan melihat sebuah spanduk besar yang menempal pada dinding belakang, pada spanduk tersebut telah tertulis nama-nama menu yang siap untuk dihidangkan.

Semua hidangan itu terdapat di Angkringan yang terletak di Pondok Cabe, lebih tepanya, yakni Jalan Bukit Cirendeu, No.29, Pisangan, ciputat Timur. Dan untuk menuju kesana anda cukup melintasi jalan aternatif yang menghubungkan Pondok Cabe dan Kampus UIN Jakarta. Tempatnya tak jauh dari pertigaan jalan utama pondok cabe.


Habiskan Malam di Angkirngan

oleh Dede Supriyatna
Kata angkringan, merupakan sebuah warung yang menjajakan makanan seperti, nasi kucing, sate kulit, sata ayam, sate usus, sate telur, sate bakso. Dan juga berserta minumannya yang terdiri dari es teh, es jeruk, dan wedangan yang dapat menghangatkan tubuh, yakni susu jahe.

Dan adapun untuk menu nasi kucing ini yang mungkin sedikit aneh, sebuah menu berupa nasi dengan lauknya, dan ditambah sambal berada dalam satu bungkus, bungkusanpun dapat berupa daun pisang, atau pembungkus lain. Lalu kenapa nasi kucing, ada orang yang mengatakan namanya nasi kucing, hal ini disebabkan porsi nasi tersebut, yakni seukuran dengan porsi makanan kucing.

Sebuah makanan yang sederhana, sesederahna tempat untuk menjajakan makanan dan tempar para pembeli, tak perlu sebuah ruangan yang besar, atau hal-hal yang wah, hanya diperlukan sebuah gerobak yang di naungi oleh tenda. Lalu di samping gerebok tersebut terdapat kain yang menutup gerebak tersebut, sedangakan untuk menerangi gerobak tersebuk digunakan sentir.

Mereka, para pembeli dapat menikmati makanan tersebut di dalam tenda, atau pun di luar gerobak dengan berduduk beralaskan tikar, atau hal yang lain. Untuk Kata angkringan sendiri merupakan kata berasal dari daerah Jawa Tengah, lebih khusunya, yakni daerah Yogyakarta dan sekitarnya, dan di daerah solo juga terdapat angkringan. Namun kini, untuk menikmati hidangan tersebut tak perlu ke daearah asalnya. Sebab keberadaanya telah merambat di kota-kota besar, seperti halnya yang terletak tak jauh dari pertigaan Gintung. Jika dari arah Lebak Bulus maka akan melewati pertigaan tersebut, dan sebaliknya.

Sebuah warung angkringan yang berdiri berhadapan dengan kafe Fifa Resto, dan biasanya buka sehabis magrib hingga larut malam. Maka, jika kebingungan untuk menghabiskan suasana malam terutama dengan keadaan keuangan yang pas-pasan. Mudah-mudahan angkringan tepat sebagai solusi, sebuah tongkrongan yang cocok di kantong.

Seperti halnya pada malam itu, kami berduduk santai berduduk santai dengan beralas tikar, membuat kita semakin nyaman untuk bersendau gurua. Sambil menikmati hidangan yang telah kami pesan , berupa nasi kucing seharaga Rp seharga Rp 2000-, lalu di tambah sate yang dapat di bakar dengan harga satu tusuk sama dengan harga nasi.

Lalu secepat kilat kami lahap hidangan tersebut, sambil sesekali berujur agar terbangun sebuah obrolan, sebuah obrolan yang terjadi di antara kami. Terkadang kami ngobrol hal-hal yang sederhana, hingga hal yang paling serius perihal kasus korupsi, sosial, politik, budaya. Semuanya kami ucapkan secara bebas, tanpa ada yang mengganggu.

Dengan segala macam ucapan yang terucap, menjadiakan tongkroangan kami terasa seru. Suasana pun kian hangat saat hidangan secangkir kopi hitam telah tersaji di hadapan kami. Dan tanpa sadar akhirnya waktu telah menujukan dini hari.

Jika bagi anda yang secara kebetulan melintas di depannya, tak perlu ragu untuk singgah. Dan tak perlu kuatir atau merasa terusik saat anda nongkrong di angkringan. Teruma merasa terusik dengan harganya.


Toraja di Phoenam

 
 
Oleh Dede Supriyatna*

Tanah Toraja, sebuah nama yang sudah tak asing terdengar. Lalu apa yang membuat namanya begitu terkenal? Mungkin salah satunya adat-budaya, sehingga membuat para wisatawan berkunjung. Namun, selain itu semua, ada satu hal yang tak kalah terkenal, yakni biji kopi yang berasal dari Toraja.

Biji kopi yang dalam urasan rasa bisa disejajarkan dengan biji kopi yang lainya, semisal biji kopi yang berasal dari Aceh, atau luar Indonesia.  Namun, dalam urusan rasa semuanya kembali pada selera masing-masing, yang jelas dalam masalah rasa kopi Indonesia tak kalah dengan yang Negara yang lainnya.  

Lantas apa yang menjadikan pembeda antar kopi? Untuk pertanyaan tersebut biarlah mengalir begitu saja, dan tak usah direnungkan untuk mencari perbedaan.  Sejujurnya dalam masalah ini, saya pun belum dapat membedakannya. Tapi, yang perlu kita lakukan hanyalah merehatkan sejenak segala macam aktivitas sambil menikmati secangkir kopi, sambil menikmatinya, dan semoga saja mampu memberikan sensasi kala ujung lidah menyentuh cairan hitam tersebut.

Dan untuk menikmatinya, kita tak perlu datang ke Toraja, cukup singgah di warung kopi Phoenam yang terletak tak jauh dari Tugu Tani, tepatnya berada di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.  Untuk masalah harga cukup lumanya murah, secangkir kopi seharga Rp 9000,00, dengan suasana santai yang dapat dijadikan aternatif untuk tempat tongkrongan.

Bagi yang kurang menyukai rasa pahit, agak asam yang terhidang dalam racikan kopi hitam, anda juga bisa memasan kopi susu special Phoenam dengan campuran es batu yang dapat menyegarkan tubuh, meskipun terdapat tambahan susu dalam racikannya, namun rasa khas dari kopi tersebut tak menghilang.

Jika perlu merasakan hal yang lain, atau sekedar mengganjal perut sebuah hidangan roti bakar yang diolai kental Srikaya, untuk masalah harga tak jauh berbeda dengan harga kopi pada umumnya.  Tak hanya itu, apabila roti bakar masih terasa kurang, anda juga dapat menikmati sop singkong, nama yang cukup unik dalam sebuah menu masakan, namun mengenai rasanya,  terasa begitu menggoda sehingga membuat melanjutkan tiap sendoknya hingga tak ada sisa untuk disendok. 

Hidangan tersebut yang mampir dalam meja tempa kami menongkrong, lalu sebuah obrlan pun hadir dengan bebes untuk berbicara segala macam hal, dari perbicaran tentang kasus Nazaruddin, pengacara Nazaruddin yang melapor ke Komnas HAM, Sosial, Politik, Budaya, hingga masalah yang remeh-temeh, semuanya dapat dibicarakan dengan bebes.

*Penikmat Kopi

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta