Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

AZALEA BUNGA CAHAYA


ilustrasi
Oleh Evi Idawati*

Subuh adalah safir yang memantulkan doa-doa ke penjuru langit. Bila senyumnya merekah, kokok ayam akan terdengar, desah kabut merapat dan beribu malaikat mengetuk rumah sambil membawa berkah. Ia seperti Azalea, bunga surga yang mekar jika subuh tiba.

Tidak banyak orang yang tahu, begitu berartinya subuh bagiku. Aku selalu menjemputnya di depan pintu rumahku dengan membaca seluruh pujian kepada semesta. Aku akan menyambutnya dengan segenap jiwa yang dipenuhi rindu. Tak ada yang lebih berarti bagiku, selain bertemu dengan subuh, bertawajuh dengannya hingga rinduku tandas dan tiada. Namun seperti oase, kerinduan itu tak pernah surut, semakin menggelegak, meruah dan tumpah.

“Siapa namamu?” aku berbisik padanya saat kabut merampas hasrat hingga menjadikan kematian dunia.
“Aku Azalea, bunga yang kau tanam di dalam surga” jawabnya lirih.
“Surga yang mana?” aku kembali bertanya padanya.
“Surga yang memberimu rumah di dalam cahaya” katanya lembut sambil merekahkan dirinya dan harum bunga merebak ke semua arah. Aku menggigil. Ini adalah kali pertama pertemuanku dengan Azalea, aku hanya mendengar suaranya setiap pagi, mengucap salam di pintu rumahku, tapi tak pernah kulihat sosoknya. Hingga subuh ini, ketika peraduanku luruh di dalam doa-doa yang melesat dan berlompatan ke segala arah menuju  rumah yang selalu dituju, mengarah pada tepi yang memberi limpahan berkat untuk tinggal dan menyemayamkan tubuh dunia, yang rapuh dan harus berhenti jika ajal menjemput nanti.

Azalea, membuatku tak menginginkan apapun lagi. Bunga subuh yang terus mekar di dalam cahaya. Temaram ataupun benderang. Berkarib dengannya, aku merasakan kematian hasrat yang mendesak-desak dada agar ia keluar dan menjauh dari tubuhku. Ada sebagian dari badan yang mencabik-cabiknya hingga menariknya keluar. Hasrat adalah debur laut yang kukuh memukul-mukul dada hingga berulangkali menancapkan nyeri. Maka aku merayakan kematiannya saat Azalea  bersikukuh menjadi penghuni bagi rumah yang kubangun dengan doa-doa dan nyeri. Bersamanya aku menyenandungkan segala kebaikan bagi yang merindui dan mencintai kami.

Begitulah, hari-hariku tumbuh dan hidup bersama Azalea, bunga subuh yang memberiku kehormatan untuk bersahabat dengannya. Pernah dia bertanya padaku apakah aku menginginkan dia menjadi milikku saja. Aku tertegun menatap matanya. Aku menemukan diriku di sana di dalam matanya. Hanya diriku. Hanya diriku. Ia menjadi cermin yang memantulkan apa yang ada di dalam tubuhku. Aku melihat hatiku, jantungku, pikiran-pikiranku juga mimpi-mimpi yang bertumpuk seumur hidupku. Aku mencoba membacanya satu-persatu. Aku mengambil pisau, menelanjangi diriku sendiri, membelah dadaku. Di sebelah kanan, aku melihat dosa, kesalahan, pikiran buruk dan keinginan-keinginan kurang ajar. Aku mengambilnya satu persatu dan melemparkannya jauh dariku. Nyaris tak perduli kemana mereka berhenti, aku terus saja mencabut akar-akarnya hingga  urat-uratku terputus dan aku tak ingin menyambungnya.

Sementara di sisi yang berbeda, mimpi-mimpiku berdesakan ingin mendapat perhatian. Seperti gonggong anjing yang bersahutan menyalak, saat tuannya datang. Berebut ingin mendapat elusan, tetapi aku tak menyapanya. Aku tak pernah menjadi tuan bagi mimpi-mimpiku. Aku tetap mengambil dan melemparnya jauh dariku. Di mana ia berhenti, di mana ia akan tumbuh, aku tidak mau tahu.

Tetapi setelah semuanya pergi, tak ada yang menghuni tubuhku. Memang aku tidak merasakan kesakitan, kesepian bahkan kesendirian yang ditakutkan oleh banyak orang. Aku meneguhkan janji dan hatiku untuk selalu bersama Azalea yang memberiku ketabahan untuk mensetiai kebaikan yang diberikan subuh bagiku. Azalea menunjukkan padaku siapa yang selama ini menjadi penghuni tubuhku. Jantung yang seumur hidup akan berdenyut, hati yang senantiasa menjadi samudera untuk ketiadaan dan keberadaan, hanya berisi mimpi-mimpi duniawi. Maka ia membantuku merobohkan hingga membuangnya jauh dariku. Setelah kejadian itu, Azalea bertanya kepadaku,
“ Apa yang kamu rasakan?”
“ Kematian”
“ Kematian dari apa?”
“ Kematian dari mimpi dan keinginan.”
“ Pernahkah engkau menyentuhnya selama ini?”
“ Tidak”
“ Lalu mengapa engkau biarkan dia hidup di dalam tubuhmu?”
            Azalea, bunga subuh seperti lagu yang mendayu. Ia datang bersama angin. Menyentuh kulitku. Menggigilkan hatiku. Haru biru seakan air hujan yang datang sejenak lalu meninggalkan tanah yang basah. Ia  memberitahuku bahwa  hasrat dan mimpi adalah sungai dengan deras air  yang menyeretku menjauh dari rumah yang akan kami huni bersama.
            “Engkau melihat bulan, subuh ini”  tanyanya saat kami duduk bersama merayakan kegembiraan dengan tasbih dan doa-doa yang berkumandang dari kekhusukan semesta.
            “Aku tidak melihatnya” aku menjawabnya lirih sambil menunduk. Aku tidak menggerakkan kepalaku untuk menoleh, atau mencari-cari bulan di langit. Aku  menunduk. Aku hanya melihat tanganku dengan jari-jari yang bergerak terus menerus, melepas dan meraup biji teratai yang menjadi penanda cinta di tangan kananku. 
            “Angkat kepalamu” perintahnya.
            “Tidak. Aku sedang bertasbih” jawabku lirih.
            “Bagaimana kau bisa melihat bulan, jika tidak mau mengangkat kepala melihat langit?” tanyanya lagi.
           
“Aku menunduk untuk melihat langit, aku menunduk untuk melihat rembulan. Aku tak akan menggerakkan kepalaku atau berdiri meninggalkan tempatku berdiam untuk mencari-carinya. Bulan akan tetap ada di tempatnya, aku akan tetap ada di tempatku, ia akan datang di depanku jika aku memang ditakdirkan untuk melihatnya.” Suaraku menggigil sampai subuh pergi, sampai jerit  pagi memecah kesunyian yang semakin tenggelam. Aku masih berdegub di dalam rumah tempat kami berdiam.
           
Azalea mendekatiku. Ia menyentuh daguku dan mencoba mengangkatnya berulang, tapi aku tetap menunduk. Lidahku terlipat aku hanya mendengar deguban jantungku yang lirih memanggil-manggil pemilik jiwaku. Aku menggigil. Tubuhku menggigil. Mataku terpejam tetapi ada yang memaksaku untuk membuka mata, aku tak kuasa melawannya. Hingga kulihat Azalea berubah. Ia berputar dengan cepat, membentuk lingkaran yang terus menerus berputar. Aku terpaku, nyaris tak percaya, tapi gerakannya semakin cepat, cepat, cepat, lalu melambat, seiring menyibaknya langit, ia menjadi terang, benderang lalu ia melesat, mengarah ke dadaku. Deg! Aku tersentak. Ada yang menancap di dadaku tanpa rasa nyeri. Aku mendekapnya erat, sambil berurai airmata.
           
“Azalea...” aku berbisik memanggil namanya. Aku rubuh dan terjatuh. Di depanku hanya terlihat langit. Biru, bening dan  putih.

Imogiri 2013
*Penulis pemilik akun @eviidawati 

Kumpulan Puisi Riries Herdiana

ilustrasi




PEREMPUAN DI PERSIMPANGAN


Perempuan di persimpangan membiarkan tubuhnya dibasahi oleh rinai hujan
Ia begitu sibuk ikatkan segala bentuk kenangan di dalamnya
Di kisaran waktu tak bernama, setelah ribuan kali membunuh rasa ingin 
Melupakan, ia terpekur
Dalam diam telah ia semayamkan rindu dan cintanya
Tanpa nisan tanpa nama



Perempuan di persimpangan terbalut gundah
Kelam langit senja menggoreskan warna kelabu di setiap lariknya
Desir angin telah membawanya ke penghujung cakrawala
Meluruhkan segala ingin dalam lintasan angan yang senantiasa hadir
Ia biarkan jalan cerita menapaki Takdir hingga ke titik nadir


Perempuan di persimpangan dalam rengkuhan rembulan
Merebahkan topeng yang ia kenakan dalam tungku jiwa
Hangat gelora dalam dada masih meraja
Menjadi sebuah dilema, berputar bak rotasi dunia
Hasratpun kian lekat diantara rindu berselimut karat


Perempuan yang menyimpan dendam di pekat jeruji malam
berselimutkan pedih bagai sayatan luka tersiram cuka
Tatap nanar dalam diam tak menyiratkan makna
Apakah kehendak diri atau kehendak semesta
Yang membuat ia kembali berdiri di persimpangan menatap mega
Menggengam segala kelu yang semakin kelabu


Perempuan di persimpangan antara dua sisi hati
Terucap sepenggal kata dalam buncah amarah
Teriakan lantang menggema,
“Kau laki-laki pecundang!! Kau reguk segala manis, kau tinggalkan racun hitam di tubuhku  dan kau masih menyebutku pendosa!!”


Jiwa dalam dada tak berdaya,
Hilang segala kata
Hampa dalam ketiadaan,
Tatap penuh kebencian,
Dinding hati berselimutkan kegelisahan
Perempuan tanpa rupa membeku
Terikat erat pada akar musim yang telah lama ditinggalkan


Perempuan di persimpangan dalam singgasana kecewa
Tergugu pilu dalam setiap bulir air mata yang perlahan menyapa
Riuh dalam benak selaksa angan buta terjebak sepi lelaki dalam ruang waktu
Masa lalu masih membelenggu dalam ingatan di relung rindu


Perempuan di persimpangan itu adalah aku
Kembali mengenakan topeng dengan lengkung garis bibir sendu
Memar meruntuhkan tegar bagai mengais cinta dalam luka
Kebisuan kembali merantai tali nurani
Lelah membelenggu sebagai kesetiaan yang bersitahan
Membuatku tanpa rupa
Tanpa air mata





KEPADA ANGAN INGIN ANGIN

Kepada angan,
Aku begitu enggan bermain andai dalam benak
Sebab, kembali terhempas kepada ragu terbungkus cemas
Kurekatkan keping demi keping sebuah ingin

Dalam senandung hening di pekat yang begitu dingin
Namun, kembali segala angan tentangmu terbawa oleh angin
Meluruhkan segala ingin


Kepada Angin,
Ku melipat jarak agar dapat menemukan titik temu
Kuberlari tanpa menghiraukan nyeri
Angin terus membawa dan menerbangkanku,
Meliukan tubuhku menari bersama pelangi


Silih berganti musim membawa segala ingin
Aku terdampar di kering kerontang sebuah kemarau
Aku terdiam dalam gigil beku dibawah rinai hujan
Aku meranggas dalam musi semi
Aku bagai pepohohan tercerabut dari akarnya
Aku tak menemukan tepian
Dan aku bagai berumah diatas angin


Kepada Ingin,
Kulalui waktu yang semakin meniadakanmu
Kutitip angan rindu yang berkesiuh terbawa oleh angin
Kau tinggalkan sebuah akhir dalam untaian melodi tanpa syair
Kau goreskan catatan hitam diatas kertas buram tanpa aksara


Ku terjebak dalam rasa ingin hingga menjadi badai dalam diri
Ingin, membuatku menjadi buta mata hati
Ingin, menjadikanku tuli
Ingin, mejadikanku bisu


Angan Angin Ingin
Menghimpun segenap mungkin
Pada kebahagiaan dimana tentram terengkuh oleh doa
Sebab,
Kau muasal segala musim
Tempat ku bermukim dari segala ingin

   
                                                                                     

SETELAH ENGKAU PERGI


Kuterdiam di beranda malam
Dalam kembara jiwa aku menjadi asing hingga dititik paling hening
Hatiku enggan mengukir kata-kata indah
Tak ada lagi denyut nadi mengalir seiring sirnanya cinta
Bayangmu begitu sibuk lalu lalang dalam benak


Sesak  membungkus kekosongan dalam jiwa
Kau hanya menjadi sengketa dalam diri
Aku menjadi titik hitam di sebuah hamparan cahaya putih
Mega menjadi legam di langit yang kini tak lagi penuh harap
Hatiku begitu sunyi..
Mimpi pun menjadi debu..
Aku semakin mengerti kaulah arti tersembunyi


Jiwa menggeliat disela keriuhan menghujam ruang hati
Waktu sembunyikanku dalam ruang tanpa nama
Bilur luka tersaput mega
Meninggalkan  kecewa di lembayung maya
Sesaat setelah engkau pergi, duniaku runtuh!!    

Surat Untuk Senja

ilustrasi

Oleh Rais Abdillah
Sudah satu bulan Hurlang masih terbaring di rumah, ia harus terkapar di rumahkarena penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Penyakityang mendiami tubuh Hurlang sepertinya sudah kronis, sebab Dokter pun harus angkat tangan alias tidak sanggup setelah mendiagnosa penyakit yang mendiami tubuh Hurlang.

Hurlang tak begitu suka tinggal di rumahdalam keadaan sakit. Sebab Hurlang punya satu kebiasaan yang harus ia lakukan tiap senja akan datang. Orang-orang menyebutnya dengan  sebutan ‘Ritual si Hurlang’. Ia sangat suka memandangi senja sambil  duduk di atas batu besar yang ada di depan pekarangan rumahnya. Secangkir teh hangat selalu ia jadikan sajian wajib kala ia memandangi senja. Setelah senja kekuning-kuningan itu hilang dari pandangannya, ia hanya tersenyum.
 
Kini penyakit yang mendiami tubuh Hurlang sekitar 11 penyakit, entah penyakit apa saja. Tak heran jika hurlang sudah tak bisa apa-apa lagi, ia hanya terbujur kaku di atas kasurkamarnya. Ruangannya begitu sepi, tak ada musik, tak ada  teriakan orang-orang, apalagi lolongan anjing. Begitu sunyi. Tapi Hurlangtak merasa kesepian di kamarnya yang pengap itu,sebbab Hurlang selalu ditemani oleh kekasihnya; Ela. Ela tak pernah bosan menghibur Hurlang sepanjang hari, ia ingin Hurlang tetap semangat dan yakin bahwa ia akan sembuh.

                                                                                 ***
Dua bulan sudah berlalu, tapi keadaan Hurlang sama sekali tak ada perubahan. sama sekali tak ada. Tapi Hurlang masih saja tak begitu peduli dengan keadaannya. Ia hanya ingin melihat senja. Tiap sore tiba ia selalu bertanya dengan Ela atau ibunya "Apasenja mencariku?". Ela atau Sarinahhanya menggeleng-gelengkan kepala ketika Hurlang bertanya mengenai senja.

Sudah dua bulan terakhir Hurlang tak melihat senja, ia tak pernah duduk di atas batu besar di pekarangan rumahnya lagi. Ia begitu rindu dengan senja. senja sudah di anggap seperti bayangan kekasih Hurlang yang tiba di waktu tertentu saja. Tapi sayang, sudah dua bulan kekasih bayangannya itu tak kunjung menemuinya. Saking rindunya, terkadang Hurlang menulis puisi yang ditujukan untuk senja. Puisi itu dikumpulkan Hurlang dan diselipkan di bawah kasur. Berharap senja tahu akan puisinya dan segera menemuinya.

Waktu kian berlalu,Tiga bulan sudah Hurlang harus terbaring di kamarnya yang masih pengap itu. Hurlang masih saja sakit. Masih seperti dulu. Juga satu hal yang tak berubah. Rindunya pada senja tak pernah hilang. Hebat betul si senja itu, ia bisa membuat Hurlang gila merindukannya.

Hurlang selalu memikirkan bagaimana cara agar senja bisa datang ke ruangannya. Walaupun ritualnya biasa ia lakukan sambil duduk di atas batu, tapi kali ini tak mengapa jika melihatnya hanya dari kasur reyot di kamarnya. Asalkan ia bisa melihat memandangi senja itu, sudah cukup. tapi Hurlang tak sengajamelihat pembantunya yang sering dipanggil “Bi Ida”  membaca surat, entah surat dari siapa, Hurlang juga tak peduli ia dapat dari siapa. Tak ada urusan katanya. Tapi dari melihat surat itu, ia terpikirkan untuk membuat surat dan mengirimnya untuk senja, berharap senja tahu jika ia sangat rindu dengan senja yang sudah lama ini tak pernah datang. Saat itu, Ela yang menemani Hurlang, ia pun langsung minta pendapat Ela.

“Bagaimana jika aku coba kirim surat untuk senja?” Tanya hurlang kepada Ela.
“Mengirim surat untuk senja?”
“Iya.”
“Alamatnya?” Tanya Ela yang bingung dengan pertanyaan Hurlang.
“Ya tulis saja ‘untuk senja’. ”
“Bagaimana?” Tambah hurlang.
“Mana mungkin sayang.”Rayu Ela “Mana mungkin kita bisa mengirim surat kepada senja, jika terkirim pun apa senja bisa membaca suratmu?” Tambah Ela.

“Tapi aku tak tahu lagi bagaimana caranya agar senja mau datang kesini.” Jawab Hurlang dengan mata yang mulai berlinang.
“Kirim saja surat itu, tak apa jika tak berhasil. Yang terpenting aku sudah berusaha."
“Ya sudah, jika itu keinginanmu. Mari kita tulis surat untuk senja.”
Ela segera mengambil pena dan secarik kertas. Kertasnya tak begitu besar tapi sudah agak lusuh. Tapi cukup untuk menulis surat untuk si senja. Hurlang pun menulis suratnya.

Untuk    : Senja
Dari      : Hurlang

Salam rinduku wahai senja,

 Senja, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tak berjumpa. Kemana saja dirimu. Memang aku sudah tak pernah memandangimu sambil duduk di atas batu depan pekarangan rumah, itupun karena aku sedang sakit. Apa kau tahu aku sedang sakit?Aku Ingin sekaliduduk bersama batu dan teh hangat bersamamu. Tapi aku tak bisa.

Senja, saat ini aku sedang sakit. Entah penyakit apa saja yang ada di tubuhku, aku tak begitu peduli. Aku hanya ingin memandangimu senja. Aku rindu betul ingin memandangimu. Kapan kita bertemu lagi?Aku takut sampai ajalku tiba tapi aku belum memandangimu lagi. Malang sekali nasibku jika tak bisa memandangimu lagi. Aku mohon datanglah walau sebentar. Temui aku sejenak di sini. Demi aku.

Senja, mungkin hanya ini surat dariku. Sampai bertemu nanti.  Aku merindukanmu. Salamku. Hurlang.

Selesai sudah surat itu, Hurlang meminta tolong agar Ela mengirimkan surat itu ke Kantor Pos. Ela yang tak banyak tanya segera pergi ke Kantor Pos. Namun  di sepanjang jalan, Ela selalu memikirkan surat itu, bagaimana bisa surat itu bisa sampai ke senja.

Surat sudah masuk ditempatnya bersama surat-surat yang lain. Tinggal menunggu Pak Tukang Pos mengantarnya satu persatu-satu ke alamatnya masing-masing. Tapi sayang sekali, giliran surat Hurlang yang di tangan Pak Tukang Pos. Ia sangat dan sangat bingung. Kemana ia harus mengantar surat Hurlang itu. Sebab alamatnya hanya bertuliskan ‘untuk senja’. Siapa itu senja?Dan dimana rumah senja itu? Pikir Pak Tukang Pos itu. Karena Pak Tukang Pos makin bingung, ia membuang surat Hurlang begitu saja. Surat Hurlang kini hanya tergeletak diatas tanah, perlahan mulai usang, dan hampir berubah warna menjadi warna tanah.

Surat itu tersapu-sapu oleh angin kesana-kemari, Pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan mulai terinjak-injak oleh orang-orang yang tak hentinya lalu lalang. Membuat warna surat itu makin usang bahkan makin seperti sebuah sampah yang tergeletak di pinggir jalan. Sesekali hembusan angin yang kencang membuat surat itu terbang, terbang tinggi ke arah barat dan semakin jauh dan hilang begitu saja. Entah terbang kemana lagi surat itu.

***

Dua hari sudah berlalu, Hurlang masih saja menunggu senja, ia selalu menoleh ke arah pintu dan berharap senja datang. ManakalaHurlang terbangun dari tidurnya, dia selalu berkata “Senja, apa itu kau?” Selalu begitu.

Sampai akhirnya di hari ketiga, Hurlang bermimpi sedang duduk di atas batu dengan sajian secangkir teh hangat,tapi bukan di pekarangan depan rumahnya. Melainkan di sebuah ladang hijau yang luas. Tak ada gedung di sekelilingnya, bahkan tak ada rumah-rumah. Hanya hamparan ilalang yang tingginya tak lebih dari tiga puluh sentimeter. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang untuk ditanya. Ia hanya bertanya sendiri “Dimana aku?” Tapi tak ada yang menjawab, karena memang tak ada orang saat itu.

Tiba-tiba dari arah belakang, Nampak sesuatu mega merah kekuning-kuningan yang memancar ke atas, Seketika Hurlang menoleh ternyata yang datang adalah senja. Senja yang selama ini ia rindukan, senja yang selama ini nanti-nanti akhirnya datang menemuinya. Apa karna surat kemarin senja datang menemuiku. Tapi biarlah, yang terpenting senja sudah datang. Hurlang sangat menikmat suasana itu, sambil duduk memeluki kedua kakinya dan mata yang selalu memandang ke arah senja dan  mulut yang tak pernah berhenti tersenyum.

Tapi sayangnya mimpi itu tak berjalan sempurna, Hurlang dibangunkan dari tidurnya sebelum senja hilang dari pandangannya. Ela membangunkannya sebab ada sepucuk surat yang baru saja diantarkan oleh Pak Tukang Pos untuk Hurlang.
“Sayang, ini ada surat untukmu.” Ela menyodorkan suratnya.
“Dari siapa?”
“Entah, tak ada nama tertera dari siapa surat itu.”

Hurlang pun segera membuka suratnya, tapi ia sontak kaget setelah membuka amplop itu, surat yang ada di dalam amplop itu dilipat menjadi tiga bagian. Namun di lipatan paling atas tertulis ‘Dari senja untuk Hurlang’. Hurlang terdiam sejenak, ia tak percaya surat yang ia kirim kemarin mendapat balasan. “Benarkah ini dari senja?” Pikir Hurlang. Hurlang pun mulai membuka lipatan-lipatan surat itu, dan Hurlang mulai membacanya….

Bandengan, 22 Oktober 2013



DI MEJA PERJAMUAN

ilustrasi
Oleh Evi Idawati*

            Seakan embun yang menggumpal dari pekat kabut dan udara yang menempel didaun pagi ini, kekasihku. Tetesan yang jatuh perlahan dari ujung ke rimbun, seperti detak jantungku. Sunyi menggelepar di meja perjamuanku. Menarik tanganku untuk menyentuhnya. Aku tak ingin membedahnya atau menari bersamanya. Sendok dan garpu di meja perjamuanku hanya menjadi patung abadi dari kegelisahan. Sepi yang menggantung di dinding telah jatuh. Dengan segenap hatiku, aku menangkapnya. Mendekap dan menyetubuhinya.

            Aku tak bisa beranjak dari kursi di meja perjamuanku. Hidangan yang terhampar seperti lukisan mati. Hitam dan putih. Goresannya tegas dan kuat. Tanganku tak mampu melenturkannya atau menggantinya dengan beragam warna. Lalu suara sayup dari jauh menusuk. Nyeri yang terkirim lewat udara dan mengantarkannya untukku, memperlambat detakan jantungku. Aku semakin terpaku.

            Suara ketukan mengejutkan, ibarat gong pertama diawal pertunjukan. Aku hanya mampu mengerdipkan mataku. Menajamkan pendengaranku. Aku hendak bangkit, membuka pintu. Tapi ketukan itu beku. Mendinginkan waktu. Aku menggigil sambil mencengkeram kuat telapak meja. Tak berapa lama jari-jariku melepaskannya. Karena tak ada tenaga.

            Kembali aku menatap sunyi yang menggelepar di meja perjamuan. Meski lapar seleraku hilang. Hanya inilah yang terhidang. Kumpulan dari segala nyeri dan duka. Bumbu dari kepedihan dan nestapa. Tak kuasa aku menelannya. Tapi aku tak akan bisa menguatkan kaki untuk beranjak, berdiri,  apalagi berlari jika sampai sumsumnya aku tak memakannya. Aku hendak muntah, karena menahan diri untuk diam dan berpuasa. Tapi sudah berbulan-bulan waktu berjalan, jika aku diam, kematian yang akan datang. sekarang aku tak punya tenaga untuk menggerakkan tangan apalagi berkata.

Aku meletakkan telapak tanganku dimeja. Menggesernya perlahan, mengambil pisau disisi kanan. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku mengangkat pisau dan menggerakkannya. Aku menyentuh jari sunyi dengan tangan kiri. Menariknya mendekat. Lalu memotongnya. Kemudian aku diam. Aku berharap sunyi merintih didepanku dan menghiba padaku untuk tetap membiarkannya berdiam dan mukim dimeja perjamuanku. Tapi sunyipun mati.

Dia tidak merintih apalagi menghiba. Dia memandangku dengan matanya yang dingin. Seakan mengejek dan mengatakan, aku hanya perempuan pengecut yang tidak berani melahapnya meski sekian lama dia menggoda. Ibarat khuldi, dia pernah menarikku untuk memetiknya. Seakan malam, aku ingin mencicipinya. Tapi genderang yang terdengar setelahnya menampar dan menampar. Sekarang aku hanya memotong jarinya, membakar dan memakannya. Rasanya angus karena gosong. Api yang aku nyalakan terlalu besar untuk mematangkan secuil jari sunyi. Tapi aku toh tetap memakannya. Untuk bertahan. Tak ingin terpaku terus menerus dikursi dengan sunyi yang menggelepar dimeja perjamuan. Aku ingin memusnahkannya. Hanya ada satu cara. Aku harus memakannya.

            Tapi sunyi yang menggelepar di meja perjamuan ini kekasihku, bangunan dari pedih dan dukaku. Kamu tahu, jari-jarinya aku tabung dari tetesan airmata. Tubuhnya aku bentuk dari kesendirianku ditengah malam. Dari redaman bisikan gairah dan rindu yang tak padam. Sementara wajahnya, aku ambilkan dari bintang-bintang yang terhampar. Aku memetiknya dari langit malam. Jika langit membelah dan mengirimkan jembatan. Aku menujunya membawa keranjang cinta dan meletakkan bintang di dalamnya. Bagaimana aku hendak memakannya.

            Namun jarinya sudah terpotong. Dengan angusnya masuk ke tubuhku mengisi perutku. Barangkali sekarang sudah menyatu dengan darahku. Aku tak boleh berhenti untuk terus memakan dan memusnahkannya. Tapi aku tak tega. Terkadang aku merasa hidupku selesai hanya dengan memandangnya. Ada saatnya dia begitu berkilau dan mempesona. Itulah yang membuatku terpaku. Bertahun-tahun lamanya. Asyik duduk menghadap meja perjamuan dengan sunyi yang terhampar. Hari berjalan, waktu yang mengendap lambat tak membuatku sadar. Semua sudah berubah tapi aku masih lena dengan langit dan bintang. Dengan pikatan sunyi yang memabukkan.

            Sementara aku semakin tidak berdaya dan tidak punya tenaga. Sudah begitu lama malam menggauliku dan aku tidak bisa beranjak darinya. Untuk menggerakkan jari tangan saja. Aku harus meyakinkan diri berjam-jam bahwa aku sanggup melakukannya. Terkadang ingin kuhabiskan waktuku hanya dengan memandang sunyi. Biarkanlah aku mati jika takdirku hanya memakuku di kursi ini. dan suara-suara dari jauh yang kadang dikirimkan membuatku bangun dan tersadar. Bukan dengan cara seperti ini aku memujamu, kekasihku.

            Maka aku kuatkan hati untuk melahap sunyi. Menghabiskannya malam ini. aku akan menggunakan segala cara untuk memusnahkannya. Aku tikam jantungnya. Mencacah dan mencincang tubuhnya. Membakar dan memasaknya. Aku mengambil pisau yang terbuat dari ragam kenangan pahit dari silamku. Dengan kaki gemetar aku berusaha berdiri. Menggeser kursi  ke belakang.

 Aku lihat sekali lagi sunyi. Aku menutup mata dan berbalik melangkahkan kaki. Menjauhi meja perjamuan. Langkah kakiku yang lambat seakan batu yang memberat. Aku ambruk ditanah. Sambil duduk aku mencoba meraih pisau yang jatuh. Seperti menyayat kulit dari dagingku dalam kebisuan aku mengasah pisau. Menajamkannya. Agar bisa kubunuh sunyi dan memusnahkannya dari meja perjamuanku. Setiap kali kugesek pisau, terasa nyeri di seluruh badanku. Sakitnya melenting, melompat-lompat, berpindah-pindah merajai seluruh tubuhku. Setiap kali kugesek, darah mengalir dan mengucur dari lukaku. Luka lama yang sepanjang usia mengigilkan aku. Ingin aku berhenti, tapi tak kuasa kukendalikan jari. Lirih suara mengaduh dari bibir yang gemetar. Aku mabuk dalam nyeri.

            Sedang pagi sudah lewat hari dan aku masih mengasah sunyi. Tekad hati untuk beranjak telah berhenti. Tak ada kehendak apa-apa kecuali menjatuhkan airmata. Aku menyayat diriku sendiri. Pedihnya menjadi kebisuan abadi. Aku tak ingin berdiri dan membunuh sunyi. Biarlah aku memandang dan menikmatinya. Bumi memangkuku menjadi tempat membuang segala lara. Aku memaku mataku dengan gerakan tangan yang gemetar, aku meraba ujung pisau dan menyentuhnya. Tajam. aku menempelkan ujungnya di dadaku. Menggores kulit dadaku. Lalu turun ke bawah hingga ke ulu hatiku. Aku menghentikan ujung pisau disitu. Hanya perlu satu hentakan untuk menuntaskan semuanya. Jika aku membunuh sunyi maka sama saja aku memusnahkan diriku sendiri. Sekaranglah saatnya.

            Meski, embun yang menggumpal dari pekat kabut dan udara yang menempel didaun pagi ini, kekasihku. Luruh oleh kepedihanku. Aku tak akan mengakhiri dan membunuh sunyi. Biarlah dia terhidang senantiasa dimeja perjamuanku. Dan aku hanya memandangnya. Sesekali menikmatinya sambil mendendangkan lara. Aku kembali pada kursiku dan aku tetap akan memujamu. Dengan segenap jiwa yang kadang rapuh, sambil menyebut namamu, aku akan menghidupkan sunyi, untuk bangun dan menciptakan tarian dari keselarasan. Aku dan dia telah menyatu. Menari meniti mimpi. Dan siapapun tak bisa mengganggu. Kecuali dirimu.

*** Jogja 2007

foto dilansir dari sibsimpangentilibon.blogspot.com

MATA TUHAN TERPEJAM

ilustrasi
  Oleh Adey SUcuk Zakaria Bahar
ALINA PARAMITA mesem-mesem sendiri di tepi pantai. Ingatannya mereka ulang peristiwa saat kali pertama Ayah membawanya menyongsong mentari di ufuk timur jauh, persis seperti tempat ini.

Kala itu Alina baru berumur tiga tahun, belum mengerti apa itu matahari. Bahkan belum mengerti apa-apa selain hanya merengek sekala ada yang tak disuka. Namun betapa dulu Alina kecil takjub pada bentangan laut. Suara deburan ombak melantunkan rupa-rupa harmoni. Panorama merah nan megah menghadirkan kehangatan yang luar biasa dalam hati.

“Mau sampai kapan kau melamun?” kesah Zehan pecah. Ia memang kerap jadi korban Alina setiap melewati jalan ini. Adalah inspirasi dalih Alina. Tapi sudah pukul sembilan malam, Zehan ingin segera pulang. Tak mau lagi ia terbengong kering.

Memang, dua orang sejawat ini baru saja dari toko buku. Itu pun setelah ribut-ribut terlebih dulu. Zehan sama sekali tidak tertarik dengan buku. Rencana awal, setelah keluar dari bioskop tadi ia hendak beringsut pulang ke rumah. Tapi Alina memaksa. Dia ingin membeli sejumlah buku untuk mengisi musim liburan kali ini, katanya. Walhasil, mereka kini masih gentayangan.

Alina memang gandrung sekali terhadap buku. Dia ingin tahu segala sesuatu yang tidak dia tahu. Seperti matahari itu misalnya. Jika liburan musim lalu dia menghabiskan 30 buku, kali ini dia ingin lebih banyak lagi.

Sudah ratusan judul buku yang dilahap. Baginya, membaca itu seperti nonton film. Minggat dari dunia nyata dan menjelajahi dunia yang luar biasa baru, dunia yang tak terbayang sebelumnya. Hanya saja, jika dalam buku dunia –yang baru itu— berwujud kata-kata dan bisa diimajinasikan suka-suka, dalam film, dunia itu telah lebih dulu tergambar dalam bentuk citra atau sederhananya sinematografi barangkali.

Malah, lebih bermakna dari itu. Membaca membikinnya hidup.

Tapi entah kenapa Alina tidak tertarik dengan acara televisi. Tak seperti Zehan yang saban hari bergelut dengan sinetron dan artis-artis flamboyan. Dia malah kepincut dengan pertunjukkan pasar malam. Lebih eksotis menurutnya.

Setelah berpisah dengan Zehan satu lorong di belakang, Alina kini meluncur sendiri. Masih ada sisa girang selepas nonton film fiksi-ilmiah tadi. Apa iya semua aktifitas di bumi bisa dilihat dari satelit? Bukankah satelit hanya alat pantau atmosfir atau benda-benda langit? Ah, nanti akan ku tanya Ayah saat ia pulang ke rumah. Pikirnya.

Ayah Alina seorang pelaut. Setiap 4 bulan sekali Ayah pulang. Berarti tiap tahun mereka hanya bertemu 3 kali. Bukan main sedih hati Alina. Namun setiap minggu Ayah pasti menelepon ke rumah, atau mengirim surat beserta hadiah, Ayah juga tak gaptek-gaptek amat, sesekali ia memamerkan fotonya ketika dalam kapal atau di negeri yang disinggah melalui jejaring sosial. Membuat iri hati Alina. Dengan hal-hal seperti itu Alina kadung gembira. Ayah pandai sekali memikat hatinya. Apalagi jika Ayah pulang dengan berbagai bingkisan yang sengaja dibawa untuknya. Betapa momen itu seakan dunia miliknya semata.

Khusus untuk Ibu, Ayah biasa menghadiahi bibit bunga dan berbagai kupu-kupu. Ibu adalah seorang kolektor tanaman dan hewan cantik itu. Itu sebabnya di pekarangan rumah terdapat taman yang  paling mempesona. Banyak bunga dan kupu-kupu aneka warna. Ibu bagai bidadari tercantik di tengah taman itu. Menurut Ayah tempo hari.

Kini sosok itu ada di depan pintu, menungguku yang belum juga pulang. Tak ada raut muka ketus, juga tak ada amarah yang menyembur seperti para Ibu lain jika anak mereka berbuat sekelumit kesalahan. Hanya ada senyum manisnya yang telah diwariskan kepadaku. “Aku…”

 “Ya sudah, lekaslah kau mandi sebab makan malam sudah Ibu siapkan. Kau tak sabar ingin membaca buku barumu itu kan?” itulah Ibuku, belum habis aku berkata ia sudah lebih dulu punya jawaban yang menenangkan. Mungkinkah pengaruh bunga dan kupu-kupu yang banyak itu? Entahlah.
Tapi benar kata Ayah.
***

MATAHARI NYALANG. Sang sinar menerpa apa pun tanpa peringatan. Sekelebat fatamorgana terbentuk melapisi aspal hitam. Alina malah tak tersentuh panas sedikit pun. Kelas kursus piano ini dilengkapi dengan mesin ajaib; pendingin udara. Temperatur di sini sepadan dengan musim dingin di Eropa.

Sudah 2 kuartal ini Alina kursus piano. Kemampuannya lumayan. Selain biasa mengisi acara di sekolah, kerap juga dia ikut kompetisi-kompetisi lokal hingga jelang internasional. Prestasinya pun tak bisa dianggap remeh. Beberapa kali dia merengkuh gelar jawara. Terakhir, didapatnya ketika ikut festival di Belgia.

Meski suatu saat pernah dia berpikir, benarkah musik bisa dilombakan? Bukankah musik tetap musik bagaimanapun sudut dengarnya? Ah, tapi menyoal bakat, itu urusan yang benar-benar lain.

Zaman romantik adalah yang terbaik. Menurutnya. Bukan karena dia seorang gadis lantas melulu suka dengan sesuatu yang romantis. Bukan. Namun lebih karena nuansa yang disajikan. Nuansa di zaman romantik lebih melodius-dramatik, lebih mendebarakan. Hadel sampai saat ini masih jadi panutan.

Jam dua siang. Kali keempat dia menatap jam dinding hijau muda. Pertanda untuk bersilekas pulang sebelum Ibu sampai di rumah. Ibu juga seorang guru biologi di SD Alina dulu, tak jauh memang dari hobinya pengumpul bunga dan kupu-kupu.

Ibu biasa tiba di rumah jam dua lebih tiga puluh menit. Setelah Alina semalam mengalami tragedi, dia tak mau kecolongan lagi. Bagaimana pun dia tak boleh telat, harus lebih dulu sampai di rumah ketimbang Ibu. Harus.

Sejurus, Alina buru-buru mengayuh sepedanya. Peluh mulai meleleh. Sekuat tenaga sepeda itu terus dikayuh. Beberapa kali nyaris jatuh atau nabrak deretan lapak di tepian jalan. Tapi dengan gesit dia ngeles kesana-kemari. Persis seperti etape-etape dalam tour de singkarak.
Persimpangan terakhir.

Suara gedebuk kencang membangunkan bulu roma. Begitu pula suara derit mobil yang berhenti mendadak. Bekas remnya masih terukir. Suara-suara agak onar itu seketika mendapat perhatian dari orang banyak. Sepeda Alina tergeletak begitu saja, rodanya masih berputar.

Perlahan mata Alina mulai terbuka.
Tapi dimana? Jelas ini bukan rumahnya. Ruang serba putih ini jauh dari tipikal kamarnya. Selimut dan bantal yang melekat juga bukan miliknya. Bebauan yang merebak terciri. Kepalanya seketika mengeluarkan nyeri dan ada balutan perban melingkari dahi.

Alina ada di rumah sakit!
Ingatannya saat itu juga langsung melesat ke belakang, menjaring apa saja yang bisa tertangkap sebelum semua kejadian.
***

WAKTU ITU PAGI. Aku membantu Ibu menata taman kupu-kupu. Ibu berceritera banyak tentang muasal para penghuni taman itu; ada yang dari Afrika, Brazil, sebagian yang lain dari Eropa, dan banyak juga yang dari daratan India. “Ayahmu itu selalu ingat kita setiap pergi melaut,” pantas taman itu semakin meriah. Kupu-kupu dari pelosok dunia tumplek jadi satu di pekarangan rumah, tak lain berkat ulah Ayah. Tamu-tamu yang datang kerap begitu terkesima melihatnya.

Ibu lantas berangkat ngajar, sedangkan aku masih lembam di tengah liburan. Kenapa sekolah dasar dan sekolah menengah atas tak sama waktu liburannya? Bah! Siapa peduli.

Aku kembali ke kamar, buku tentang Atlantis yang baru kubeli benar-benar telah menciptakan tanda tanya besar. Tak sabar rasanya ingin menelan sang buku mentah-mentah, seperti tak sabar untuk menemukan kota yang telah lama hilang itu. Namun konon semuanya cuma fiksi. Khayali.

Jam sepuluh, aku sudah bersama yang lain di dalam kelas, kursus piano. Ruangan ini begitu dingin, sebentar-sebentar aku kebelet kencing. Mungkin tak lama lagi selesma menggerayangi tubuhku yang kurus kering.
J
am dua siang. Kali keempat aku menatap jam dinding hijau muda. Gegas, aku meroket ke rumah. Aku tak mau terlambat lagi. Sepeda itu ku kayuh ngebut sejadi-jadinya
Namun kemudian aku malah terbangun di tempat ini. Demikian.
Tapi…
 Tunggu dulu!

Saat di jalan pulang, ku ingat, orang-orang terlihat janggal. Sungguh. Satu-satu ku perhatikan, terdapat gumpalan hitam memayung di atas atas kepala mereka. Persis. Tak salah lagi.

Persimpangan terakhir…
Sepeda itu ku biarkan terkayuh sekenanya, fokusku telah berganti pada mereka yang lalu-lalang dengan benda tak lazim di atas kepalanya.

Suara gedebuk kencang membangunkan bulu roma. Begitu pula suara derit mobil yang berhenti mendadak. Bekas remnya masih terukir. Suara-suara agak onar itu seketika mendapat perhatian dari orang banyak.
Aku tersambar mobil.
***
TAK MUNGKIN KELIRU. Alina masih berusaha membongkar teka-teki. Gumpalan-gumpalan asing itulah yang mengirimnya ke rumah sakit ini. Sebab kalau tidak, dia seharusnya sedang ada di rumah menanti Ibu pulang sambil melanjutkan petualangannya di Atlantis. Bukan di tempat yang membosankan seperti ini.

Lalu, tiba-tiba seorang perawat masuk tanpa kompromi. Senyumnya manis mengembang. Makanan dan beberapa butir antibiotik telah disiapkan. “Keadaanmu tidak terlalu parah, hanya sedikit shock saja,” aku masih saja menatapnya saat ia sibuk menggugurkan tugasnya. Tubuh perawat itu semampai dengan rupa yang ramah. Ada tahi lalat di bawah mata kirinya, malu-malu seperti putri malu. Perawat itu semakin menawan dengan bibir yang merona merah darah. Sehelai topi perawat juga lekat bagai mahkota yang menutupi sebagian rambut ikalnya. Amboi cantiknya.

Namun kusaksikan lebih cermat, ada benda hitam itu pula di atas kepalanya!
Gumpalan benda yang sama dengan orang-orang yang kulihat. Terus kuperhatikan. Ia tak risih, meski benda itu jelas melayang-layang kesana-kemari mengikuti dirinya sampai ia menghilang di balik pintu kamar nomor 14 rumah sakit ini.

Aneh. Ada apa sebenarnya? Alina terjebak dalam kemelut. Rasa penasaran akan Atlantis kini berganti hasrat besar akan benda asing yang menghancurkan ketentraman hari-harinya.
Akankah benda itu pertanda gaib?
Imaji Alina berkeliaran mereka-reka sejumlah kemungkinan.
Tak lama Ibu dan Zehan datang bersamaan. Tak lupa mereka bawa berbagai kudapan favorit Alina. Coklat, tak boleh ketinggalan. Alina tak bisa lepas dari coklat.

“Hari ini kau sudah boleh pulang, tidakkah kau rindu pada kupu-kupu?” tawa Ibu sedikit-sedikit mencairkan ketegangan yang masih menyergapnya. Tapi memang, dia amat hampa ketika tak sekalipun ke taman itu. Saat berada disitu jiwanya seakan dipenuhi suatu khazanah yang baru.

Pernah pada kala senja, dia bermeditasi di tengahnya. Awalnya aneh, tapi lama-kelamaan dia bisa mengakrabi ragam suara, wangi, serta kupu-kupu yang menari. Rileksasi yang membebaskan.
Di tengah kehangatan yang sebegitu, Alina terbelalak. Benda sial itu rupanya juga terlihat karib pada Ibu dan Zehan!
Sebisa mungkin risau yang mulai luber ia sembunyikan agar tak terlalu menarik perhatian.
***
KINI Alina sedang asyik ngobrol dengan Rio yang datang menjenguk. Gosip yang tersebar di sekolah bahwa Rio jatuh hati padanya tak dihiraukan. Rio dianggapnya hanya teman biasa seperti juga yang lainnya. Walaupun gestur Rio cukup kharismatik bak personil Boy Band Korea, Alina tak bergeming. Terlebih dia tahu Rio termasuk deretan anak nakal di sekolah; suka kelahi dan perokok. Alina benci sekali orang macam itu. Orang payah yang kalah oleh dirinya sendiri.

Rio masih saja menyerangnya dengan rayuan gombal. Alina hanya terkekeh dalam hati. Dalam canda-tawa itu, Alina mendadak beku. Karena, astaga! Ternyata benda misterius itu juga ada pada Rio!
Hingga ia pamit menghilang, Alina masih termangu di taman kupu-kupu.
Otak Alina kini semakin ruwet, cenderung absurd, tak habis mengerti dengan segala prahara yang tengah terjadi. Pernah dia berniat untuk bertanya pada Zehan. Namun diurungkannya karena takut dikira gila atau efek luka di kepalanya.

Namun , diam-diam Alina mulai bergerak pergi ke tugu dekat rumah. Tugu itu merupakan muara perbauran di daerahnya. Mayoritas muda-mudi berkumpul pada area terbuka hijau itu. Terkadang hingga subuh menjelang mereka masih saja bercengkrama satu sama lain sambil menyantap nasi kucing atau sekadar kopi.
Nisbi, prasangkanya terbukti.

Semua orang di tugu itu juga melekat gumpalan benda-benda tak wajar di atas kepala mereka! Dia terus memastikan dengan saksama, dan benar, tak salah lagi. Nyata!
Alina kembali ke rumah dengan terhuyung-huyung.

Tak tahu mesti apa. Air mata pun mulai menetes sirami pipi sempalnya. Alina benar-benar bingung, benar-benar takut.

Lekat-lekat dia perhatikan bayangan dirinya dalam cermin bulat di sudut kamarnya, masih menangis. Tapi sekala kedipan, bayangan itu tersentak beku, saat melihat benda laknat itu ternyata ada pula di atas kepalanya!

Sungguh nyata. Benda itu padat, bukan benda gaib seperti yang dia sangkakan. Tak bisa dipindahkan, bahkan bergeser pun tidak. Seperti terpatri.
Alina terhenyak beberapa saat. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“b-b-bu, benda apakah ini?” Alina memberanikan diri ke pekarangan, ia mulai terbata dengan suara nyaris berbisik, seolah tak mau dengar apa yang dikatakan. Sedangkan Ibu lagi asyik menyiangi bunga-bunga idaman, sembari menikmati seceruk teh aroma melati.

“Belum tahukah kau nak ?” Ibu diam sesaat, “Di atas kepala kita ini adalah kamera pengawas. Sama seperti yang terdapat pada gedung-gedung atau pusat perbelanjaan. Panoptikon nak,” lanjutnya di antara ratusan kupu-kupu. Alina hanya diam. Entah terpesona, entah kebingungan. Pupil matanya membesar, seperti fokus pada sesuatu dengan amat sangat.

“… karena ternyata kita lebih takut, lebih mawas dan lebih awas dengan keberadaan kamera ini. Kita pun lebih percaya dengan apa yang terekam dibanding dengan apa yang orang lain katakan. Kamera pengawas ini pengganti mata tuhan nak, apa kau belum tahu?” lanjutnya. Alina tertegun, seketika gelisah, seringkali ia mencurangi Tuhan.

Penulis amatir dan pemilik akun  twitter: @_svcvx (Hak Asasi Tuhan)
 

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta