Berita Terbaru:

FOTO





Showing posts with label ngelancong. Show all posts
Showing posts with label ngelancong. Show all posts

Warso Durian Tempat Berwisata Sekaligus Berburu Durian

 Oleh Azami

Bagi pemburu durian atau bagi mereka yang kebetulan melewati Bogor coba luang waktu sejenak untuk berkunjung kawasan Desa Cihideung, Kec. Cipelang, Kab. Bogor. Semoga tidak mengecewakan. Soalnya, kawasan tersebut telah menyediakan lahan seluas 8,5 ha yang dipenuhi dengan aneka ragam buah-buahan dan tentunya pemandangan begitu asri, yakni Warso Durian.

Warso Durian sendiri diambil dari pemilik sekaligus pengelola kebun yakni, seorang pensiunan jenderal TNI Angkatan Darat bernama Soewarso Pawaka. Sementara Durian, sudah pasti diambil karena sodoran utama dari Warso Durian adalah duriannya.

Yups, Warso Durian bakal memuaskan Anda  sekeluarga untuk menyantap durian. Apalagi, Warso Durian dikenal sebagai surganya durian. Sebagai tuan rumah, Warso  telah menyiapakan berbagai macam jenis pohon durian yang jumlahnya sekitar 900 pohon dan terdiri dari 19 jenis dan 7 varietas unggul yang di antaranya adalah Monthong, Lay, Petruk, Sunan, Si Mas, Tembaga.

Bagaimana? Semoga saja acara menyantap durian dengan kesujukan alam pegunungan dan sawah terpuaskan, sebagaimana saya dan keluarga yang menghabiskan liburan akhir pekan bersama keluarga. Maka tak ada salanya, jika Anda bersama keluarga atau pasangan sesekali datang untuk mengisi liburan.

Jika sudah bosan dengan durian atau kurang begitu menyukainya, Anda juga dapat menikmati buah-buah lainnya, seperti  buah Naga, nangka, jambu monyet.

Kendati demikian, saya sekeluarga terlebih dahulu memasuki sebuah pintu gerbang seperti halnya tempat-tempat wisata pada umumnya. Namun, tak perlu khawatir. Soalnya, tak ada pungutan biaya atau pun mengantri panjang. 

Usai melewati gerbang disusul dengan perjalan mendaki dengan menaiki anak tangga. Untunya, selama dalam perjalanan ini akan terbantu sejuknya udara dan juga suara lembut air dari sungai kecil seakan memberikan energi tambahan.

Akhrinya rasa lelah terbayar lunas, sejuah mata memandang akan terlihat pohon durian yang tengah berbuah dan juga sebagiannya ditanami pohon buah naga. Sayangnya, untuk dapat langsung memetik buah-buahan ini tergantung apakah memang tengah musim panen atau tidak.

Biasanya, musim panen akan terjadi pada Desember hingga Mei dan puncaknya terdapat di bulan Januari hingga Maret. 

Tapi itu bukan berariti itu menjadi kendala dalam menyantap durian. Soalnya, sebagai gantinya, Warso Durian menyediakan tempat khusus untuk para pengunjung yang ingin membeli buah durian dan buah naga dengan tempat yang nyaman dan cozy mirip sebuah café.

Mengenai harga, Anda tak perlu merasa khawatir sebab Warso Durian membandrol harga durian dengan harga ekonomis. Untuk dapat menikmati durian monthong biasanya akan dihitung per kilonya.
Anda harus merogoh kocek Rp.35ribu/kg. Hitungan kilo sudah ada pada batang durian. Sedangkan untuk durian lokal akan dihargai per buahnya. Sementara itu, untuk harga buah Naga biji merah dijual seharga 35ribu/ kg.

Kenikmatan santap durian tersebut juga bisa memilih sendiri sesuai selera dan dapat ditukar jika tak sesuai selera.  Saya sarankan dalam memilih durian sebaiknya Anda mengajak teman yang jago memilih karena durian yang ditawarkan ada yang memiliki rasa tawar dan manis. Setelah memilih dan setuju untuk dibeli baru dapat dibayar.

Tak hanya itu, kenikmatan semakin bertambah dengan tawaran berbagai variasi kuliner berbahan dasar durian. Ada es durian atau jus durian, ketan durian, surabi durian, dan macam-macam kerupuk  dengan harga yang ekonomis. Merogoh kocek Rp.10ribu/porsinya, Anda bisa langsung menyantapnya di tempat atau ditenteng pulang sebagai oleh-oleh.

Maka bagi anda yang masih kebingungan mencari tempat untuk berwisata. Warso Durian Bogor dapat menjadi daftar referensi anda sebagai tempat tujuan wisata. Selamat menikmati liburan anda di akhir pekan.

Lanjutan:Festival Lampion, Mie Ongklok, dan Festival Potong Gimbal

 Oleh Tia Agnes

Pukul tiga subuh, saya sudah bangun. Rencana awal adalah menikmati matahari terbit di Bukit Sikunir. Usai dari sana, ribuan manusia sudah tampak memadati kompleks Candi Arjuna. Kami pun bergegas.

Sebelum mencapai Candi Arjuna, ritual sudah diawali dengan kirab di halaman rumah pemangku adat Dieng yakni Mbah Naryono. Kemudian, prosesi dilanjutkan keliling desa hingga menuju halaman candi.

Tujuh anak berambut gimbal yang akan diruwat yakni Lista dari Wonosobo, Argifari Yulianto dari Banjarnegara, Mazaya Filza Labibah dari Bekasi, Alira dari Wonosobo, Sri Nuria dari Banjarnegara, Sasabila dari Wonosobo dan Tita dari kota yang sama.

Mereka dibawa ke Sendang Maerokotjo atau Sendang Sedayu guna penjamasan atau pencucian rambut sebelum dipotong. Sedangkan airnya menggunakan air jamasan dan kembang tujuh rupa dari Tuk (mata air) Bimalukar, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek, dan Tuk Sibido.

Wisatawan lokal dan dalam negeri serta penduduk bercampur. Bagi saya, lokasi ini tiba-tiba seperti pasar tumpah. Lebih ramai dari festival lampion semalam. Banyak tukang jajanan yang berseliweran.

Sampailah di inti prosesi yakni pencukuran rambut gimbal di Candi Puntadewa, kompleks Candi Arjuna. Di depan candi, Mbah Naryono berdoa terlebih dahulu ke Tuhan Yang Maha Kuasa. Kala itu, cuaca cerah.

Para pengunjung melihat dengan seksama sesuai dengan urutan ID Card yang mereka bayar. Untuk kelas VIP yang hanya berjarak 20 meter dihargai Rp 75 ribu. Posisi kedua yakni Rp 30 ribu dengan jarak 50 meter. Selanjutnya adalah posisi gratis.

Para permintaan ruwat pun dibacakan, ada yang minta sepeda mini berwarna merah, baju pesta, kambing, beragam makanan hingga tempe rebus. Selain para pejabat setempat yang hadir, di sana juga ada Duta Besar Slovakia Stefan Rozkopal yang ikut memotong rambut Argifari Yulianto. Serta Duta Besar Republik Seychelles Nico Barito yang memotong rambut gimbal Mazaya Filza Labibah.

Prosesi terakhir adalah Larung yakni rambut yang sudah dicukur dihanyutkan di telaga Balekambang. Prosesi festival inti sudah selesai. Hati kami pun lega sudah melihatnya dan membawa foto sebagai kenang-kenangan. Pada malam harinya, masih akan ada pertunjukan musik Jazz Awan. Sayangnya tak bisa menonton.

Sebelum kembali ke kerasnya ibukota, kami menyempatkan makan mie ongklok yang sempat tertunda. Ada sebuah rumah makan di depan Candi Arjuna yang menjualnya. Antrian mengular, perut lapar, dan penasaran dengan rasanya. Dengan terburu-buru, kami memesannya dibungkus.

“Oh, gini toh rasanya. Manis-manis gurih kayak Bakmi Jawa, ha..ha..ha..,” kata Mimi. Kami pun tertawa dengan rasanya. Mie ongklok yang kami icip adalah perpaduan mie, sayuran hijau, dan kuah kental yang berasa asam manis. Petualangan selesai, sampai jumpa tanah Dihyang tahun depan..

Festival Lampion, Mie Ongklok, dan Festival Potong Gimbal

Oleh Tia Agnes

Taicing: Festival keempat pertama kalinya ada festival lampion dan jazz di atas awan.
Sebuah jawaban ‘iya’ dari sahabat kampus membuat perjalanan kami terasa dadakan dan tanpa rencana. Padahal sejak masih kuliah dulu, kami selalu membicarakan mengenai Dataran Tinggi Dieng dengan segala keindahannya.
 
Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi tour travel Tukang Jalan untuk pesan seat menghadiri Trip Dieng Culture Festival keempat. Segala persiapan pun dimulai dari hal-hal remeh hingga jaket tebal dan sendal gunung.

Pada Jumat pekan lalu, tepat pukul 6 sore, kami sudah tiba di meeting point Plaza Semanggi, Jakarta Pusat. Rasa tak sabar ingin segera pergi dari Jakarta menuju dataran para dewa. Kata Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi, di (tempat) dan Hyang (Dewa).

Perjalanan kali ini, sejujurnya sedikit melanggar prinsip ngabolang yang dianut sejak enam tahun lalu yakni tak ingin pakai tour travel dan ngetrip seadanya. Ini terpaksa dilakukan karena saya tidak ambil cuti dan tak ingin ribet dengan urusan homestay dan sebagainya.

Dari Jakarta perjalanan menuju Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Dieng, Jawa Tengah sekitar 21 jam. Padahal jarak tempuh biasanya yaitu 6 hingga 10 jam. “Ini karena elf (mobil sewaan) telat datang, macet di Cikampek, dan ada longsor di Wonosobo,” kata tour leader Tukang Jalan, Wira Adi Darma.

Alhasil, dalam hati kami, ini adalah perjalanan yang tadinya dirasa mewah menjadi ajang ilmu ikhlas. Sampai di Dieng, azan magrib sudah berkumandang. Hari pertama festival Dieng juga sudah dimulai, malam itu akan ada pagelaran wayang kulit dan festival lampion laiknya perayaan Waisak di Candi Borobudur.

“Gue mau bikin make a wish ah, kalau nanti terbangin lampion,” kata sahabat saya, Mimi Fahmiyah. Sayangnya harapan tersebut pudar. Di tengah gelap gulita kompleks Candi Arjuna, panitia hanya menyiapkan lampion seadanya dan tak sebanding dengan jumlah pengunjung. Kami pun harus mengemis meminjam lampion untuk ajang foto narsis.

Awalnya, festival lampion dibuka oleh Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo. Ketika satu lampion sudah terbang, riuh tepuk tangan yang menonton tampak keras terdengar. Saya pun tak berhenti mengucap syukur. Dalam hati, tak dapat yang di Waisak, di Candi Arjuna pun jadi.

Beberapa kali kembang api juga dinyalakan. Meriah sekali! Pengunjung festival bertambah banyak. Ratusan manusia di sana masih setia menonton hingga lampion terakhir terbang. Namun pertunjukkan belum usai, di tanah lapang tak jauh dari Candi Arjuna akan tampil pagelaran wayang kulit.

Malam belum usai, dan perut sudah keroncongan. Sepanjang kawasan wisata Dieng, kami mencari mie ongklok yang terkenal. Tiga tempat dilalui, tak membuahkan hasil. Dengan kecewa, kami pulang ke homestay untuk istirahat. Esok adalah inti festival yang membuat saya penasaran setengah mati selama ini.

Bersambung...


***

Balangan Beach: Pantai Nyaman Buat Santai

Ada cerita ngeloncong kiriman My Milliyya, sobat tongkorngan www.angkringan.com ini memang lagi senang-senangnya menjelajah.  kali ini,  cewek mungil nan lincah lini meluncurkan tancap gas ke pantai Balangan. 

Singkat cerita, ia mengendarai motornya menelusuri  perempatan Nirmala market dan isi kepala saya berembuk. "OK. Balangan," kata saya kepada diri sendiri memutuskan. Setelah satu jam lebih perjalanan dari Denpasar. Sesampainnya di Unggasan-Uluwatu, saya melihat ada plang penunjuk jalan “Balangan" di perempatan Nirmala market.

Semula saya berencana ke Blue Point. Pantai yang air lautnya begitu biru. Bening dan pasirnya putih. “Kan, udah berkali-kali kesana,” timbang saya. Sebelumnya saya berhenti di Mini Mart, dan membeli air. Plus memastikan apakah petunjuk jalan menuju Balangan benar.

"Iya. Belok kiri dari perempatan di depan," jawab kasir Mini Mart.

Sang kasir menyerahkan uang kembalian dan menawarkan apakah saya memerlukan kantong. Saya mengiyakan, paling tidak kantongnya bisa saya pakai jika pakaian saya basah. Lumayan

Saya membuka pintu kaca dan keluar dari Mini Mart dengan sebotol air teh didalam kantong plastik ukuran kecil berwarna putih. Lalu memasukannya kedalam tas dan menggantungkannya di motor.

Dengan kecepatan 40/km saya membawa motor, sepanjang Jalan Unggasan-Uluwatu-yang jalannya kecil itu-dan banyak penggalian di kanan-kiri. Uhh itu membuat saya ekstra hati-hati membawa motor. Masih amatir dan tidak-saya tidak kepengen jatuh lagi dari motor.

Ternyata.

Jauh. Jalan menuju Pantai Balangan bagus, di aspal. Meski baru pertama kali ke Balangan, saya tidak tersesat. Cukup mengikuti petunjuk papan plang ‘Balangan Wave’ yang semula saya kira adalah pantai. Oh itu adalah petunjuk menuju hotel :D.

Jalanan sepi dan berkelok-kelok. Menanjak. Menurun. Saya berangkat pukul 12 dari Denpasar. Cuaca cerah. Matahari tidak terlalu terik. Langit yang biru dan awan putih yang menggumpal seperti kapas.

"Saya akan melewati hari Minggu yan menyenangkan," desis saya dalam hati.

Hawa sejuk begitu terasa. Hidung saya mencium aroma daun-daun dan kembang-kembang liar yang tumbuh di sepanjang jalan. Aroma kayu-kayu. Rumput-rumput yang hijau. Di sebuah padang rumput yang luas, terlihat Sapi yang dilepas berkeliaran menikmati rumput.

Setelah hampir dua jam. Akhirnya:


Masih 50m lagi kudu jalan. Hmmn lumayan buat lemesin otot kaki. Hitung-hitung nyambi olah raga :)

Dari kejauhan pantainya sudah kelihatan. Tapi ada bukit yang menarik saya untuk dikunjungi dulu. Ini kayak di Tanjung Aan-Lombok. Ada bukit-bukit dan batu karang yang besar.

Ini bukitnya. Dari sini saya bisa melihat luasnya pantai Balangan yang berada diantara Dreamland.

Airnya bening. Saya membayangkan berenang idalamnya, merasakan air laut yang asin dan membuat mata saya perih. Tapi itu masih bayangan, saya tidak bisa berenang


Bersantai sejenak di bukit. Curam dan angin perlahan menerbangkan ilalang, daun-daun, rambut dan blus putih saya.


Setelah cukup puas menimkmati pemandangan dari atas bukit, mari kita ke pantai dan bersantai.
 
Coba lihat, pasirnya begitu putih dan bersih. Saya mendapati beberapa kerang kewuk-semasa kecil saya begitu suka kerang di laut. Dan kemarin saya menemukannya dua-mungkin akan lebih kalau fokus :D

 
Kebanyakan yang datang ke pantai Balangan adalah penikmat surfing. Ombaknya yang besar dan gelombangnya bersahabat. Banyaknya turis asing pula.



Belum banyak sih yang datang ke Balangan, tapi yak terkenal juga. Toh saya juga tahunya dari majalah. Btw, kalau mau berlibur keliling pantai di wilayah ini: Dreamland, Uluwatu, Blue Point, Suluban, Balangan, dll. Bisa  pilih untuk bermalam di Pantai Balangan.

Penginapan yang ditepi pantai Balangan ini ada satu, harganya 80Rb-100Rb/malam. Bisa kontak Mane No di +6281805302310. Sayangnnya kamar mandinya diluar ;( tempat tidurnya sik lumayan asik. Bolehlah untuk sekadar rebahin badan doang 

Ke Pulau Serangan Ketemu Penyu

Oleh Milliya*
Sabtu [11/5] saya mengajak seorang teman saya, Hepi, untuk menghabiskan petang jalan-jalan. Sekadar menikmati senggang sekalian main-main sambil foto-foto. Mumpung dapat pinjaman kamera.

Dengan menggunakan sepeda motor, saya dibonceng Hepi, menuju Pulau Serangan. Letaknya 5 km di sebelah selatan kota Denpasar, Bali. Dengan panjang pulau 2,9 km dan lebar 1 km. 30 menit dari kostan saya di Jl. Sedap Malam-Sanur

Awalnya saya kebelet ngambil foto Pulau Serangan yang danaunya bening. Nampak tenang dari kejauhan. Gagal. Sore itu Serangan sedang surut. Nampak tanah basah sisa genangan air. Berlumut coklat kehitam-hitaman.

Urung dapat gambar yang sesuai kepengen, Hepi, mengajak saya ke penangkaran Penyu. Letaknya didalam Pulau Serangan. Saya tidak menolak.

Sore dan matahari di Bali, masih terik. Saya memasuki pintu gerbang yang tidak berpagar, lantas memarkir motor di lahan teduh. Ada dua patung penyu besar, dua bangunan serupa kantor. Satunya kafe.

“Kok sepi ya,” komentar saya. “Jangan-jangan enggak ada orang.”

“Ada penjaga,” jawab Hepi, singkat.

Dari arah kafe, lamat-lamat seorang lelaki berperawakan besar menghampiri kami. Ia menyambut kedatangan kami dengan senyum. “Mau lihat-lihat.” Serunya, sambil mempersilakan saya dan Hepi, untuk mengikutinya. Saya dan Hepi, manut. Mengikuti langkahnya dari belakang.

“Ini penyu hijau dan itu penyu lekang,” unjuknya sambil memainkan air di kolam penyu. Empat kolam berukuran 1.5m saling berhadap-hadapan. Ada tiga jejer kolam sebagai tempat penangkaran.

Lelaki yang memandu saya sore itu namanya, Bli Made. Delapan tahun sudah Ia, bekerja di penangkaran penyu di Serangan. Sambil melihat-lihat beberapa koleksi penyu yang dirawat khusus. Bli Made, menuturkan muasal ihwal penyu yang perlahan punah.

“Dahulu, penyu dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Baik itu telurnya atau dagingnya sekalipun.”

Saya merinding membayangkannya. Mencium bau amis yang menghilangkan selera makan. Telur penyu. Daging penyu. Isi kepala saya berisi potongan gambar masakan-yang saya pastikan sangat tidak enak.
 
“Dasar manusia. Apa saja serba dimakan,” umpat saya. Hepi, tersenyum. Saya kembali menggerutu.

“Khususnya di Bali, penyu-kan dipakai untuk kebutuhan upacara. Biasanya, kepalanya saja sih,” lanjut Bli Made. “Penyu lama bertelurnya. Sedang yang makan setiap hari dan banyak. Jadilah penyu terancam punah.”

Untuk melindungi populasi penyu, th 1999 pemerintah mengeluaran UU yang memutuskan bahwa Penyu adalah hewan yang dilindungi. Meski demikian, penangkaran penyu di Pulau Serangan ini tidak menerima subsidi dari pemerintah.

“Penangkaran ini adalah hasil swadaya masyarakat. Pengelolaannya dibawah banjar,” terang Bli Made.

Butuh 10-25th untuk penyu bisa bertelur. Lama. [Jadi kalau diusia 25th kamu masih jomblo santai aja, ada temennya tuh: penyu :D] Sekali bertelur berojolnya 150 butir. Menetas dalam kurun waktu + 50 hari. Setelah dikubur didalam pasir.

Jam tangan saya menunjukan waktu pukul lima sore. Setelah mengitari beberapa kolam penyu dan melihat-lihat isi museum penyu. Saya berpamitan kepada Bli Made. Sebelumnya cuci tangan dulu, bau amis. Lantas meneruskan perjalanan muterin pulau Serangan. 

* Penulis bermukim di Bali dan dunia maya http://mymiliyya.tumblr.com/

Menelusuri Saksi Bisu Peristiwa Lengkong


Tahukah Anda bahwa di tengah bangunan-bangunan mewah yang ada di BSDCity terdapat sebuah lokasi peninggalan sejarah yang masih terjaga dengan utuh. Tempat tersebut bernama “Museum Lengkong”.

Bangunannya yang sangat sederhana, dibalut dengan tembok putih, jendela kayu, dan lantai semen, persis seperti gaya rumah pada zaman itu dan hingga kini, museum itu tak meninggalkan bentuk dan elemen pondasi aslinya.Tempat ini juga menjadi saksi bisu saat para tentara taruna dan perwira yang diserang hingga gugur oleh tentara Jepang.

“Seperti inilah kondisi bangunan pada waktu itu, dan masih terjaga sampai sekarang. Namun, dulu bangunan ini sempat dikelilingi kebun karet, ” kata Rani D Sutrisno selaku Ketua Harian Yayasan 25 Januari 1946, Minggu (24/2/2013). Bahkan menurutnya, di atas lantai yang sudah kusam itu sebenarnya masih membekas bercak darah yang sulit hilang dari para pejuang waktu itu.

Musium Lengkong sendiri merupakan salah satu saksi bisu peristiwa pertempuran Lengkong di Serpong yang masih tersisa. Museum ini, dulunya adalah markas tentara Jepang. Di tempat ini pula, Mayor Daan Mogot berunding dengan Kapten Abe dari Jepang, sebelum  terjadi pertempuran berdarah.
Museum ini terlihat seperti rumah tua pada umumnya. Di dalamnya terdapat kumpulan foto-foto para pejuang dan pahlawan bangsa dalam bingkai hitam putih, serta beberapa foto pada saat peringatan Peristiwa Lengkong di masa lalu.

Pemugaran secara besar-besaran tidak pernah dilakukan karena tak ingin menghilangkan struktur aslinya. Lagi pula, bangunan tersebut masih terlihat kokoh dan terawat dengan baik. “Bangunan ini pernah dilakukan renovasi, tapi hanya membenahi genting-genting yang bocor. Selebihnya masih terjaga keasliannya,” ujar wanita yang biasa dipanggil Rani.

Monumen Lengkong
Peristiwa Lengkong yang telah merenggut nyawa putra terbaik bangsa menjadi salah satu bukti kongkret bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan gigih dan tetesan darah. "Begitu gigihnya pahlawan kita dulu saat berperang mempertahankan tanah air ini," ujar M. Effendi (85), salah satu veteran Kota Tangerang.

Untuk itu, M. Effendi berpesan agar generasi muda sekarang ini bisa tetap bersemangat dalam membangun bangsa dan tanah air Republik Indonesia tercinta.

Museum Lengkong sendiri persis berada di depan Monumen Lengkong berdiri. Sebuah taman yang tertata apik ditemani pepohonan rindang yang mengelilinginya menjadi satu kawasan bernama Taman Daan Mogot. Di tempat ini juga merupakan lokasi gugurnya Mayor Daan Mogot dan dua perwira lain serta 34 taruna dalam peristiwa pertempuran Lengkong pada 25 Januari 1946.

Dulu, kawasan ini bernama Desa Lengkong Wetan, lalu pengembang Bumi Serpong Damai (BSD) datang merintis pembangunan di Serpong pada 1989 dan dikenallah namanya menjadi kawasan BSD.

Museum dan monumen Lengkong tak nampak sering dikunjungi karena tidak dijadikan sebagai objek wisata. Monumen Lengkong hanya ramai saat ada upacara peringatan Peristiwa Lengkong yang diadakan setahun sekali.

Mungkin tak banyak yang tahu adanya museum dan monumen bersejarah ini karena posisinya membelakangi jalan dan tak terlihat dari jalan raya utama. Lebih tepatnya, museum ini berada di jalan masuk kawasan Damai Indah Golf yang berada di seberang air mancur BSD.

Padahal, Monumen Lengkong sendiri telah dibangun pada 1993 oleh pemerintah Kota Tangerang dan BSD untuk mengenang Peristiwa Lengkong. Museum Lengkong kini berada di tengah kawasan elite di Serpong, tetapi tetap menjadi tempat bersejarah bernilai tinggi yang akan terus dijaga kelestariannya.

Dan Monumen Lengkong kini dijadikan sebagai tempat peringatan peristiwa pertempuran Lengkong yang diperingati setiap tanggal 25 Januari. Bahkan, keputusan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menetapkan peristiwa tersebut sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.

Keberhasilan para pendahulu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Mereka mengorbankan jiwa raga dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan itu harus diisi dengan baik oleh para pemuda dan generasi penerus bangsa ini.


(Ahmad)

Sambut Valentine dengan Berburu Bunga di Rawa Belong


Bunga mawar merah suatu tanda cinta
Yang berarti bahwa kau cinta padaku
Dengan senang hati kuterima cintamu
Karena aku juga cinta kepadamu
Oh, bahagia, dua hati telah berpadu ...

Sebait lagu yang dipopulerkan Elvi Sukaesih berjudul Sekuntum Mawar Merah tersebut, menjadi ungkapan yang pas menandakan bunga sebagai simbol cinta dan kasih sayang.

Menyambut hari kasih sayang yang jatuh pada 14 Februari mendatang, popularitas bunga semakin meningkat. Banyak orang memilih menghadiahkan bunga kepada orang tercinta untuk merayakan momen istimewa tersebut. Say love with flowers merupakan ungkapan bagi seseorang yang menyatakan cinta dengan bunga.

Jika kita berada di kawasan pusat kota Jakarta, tak perlu kesulitan mencari bunga segar untuk merayakan hari valentine. Sebuah pasar bunga di kawasan Rawa Belong ini menyediakan beragam jenis bunga dengan kualitas prima.

Berlokasi di jalan Sulaiman no 50, Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini, menjadi satu-satunya tempat di Jakarta yang menyediakan beragam jenis bunga segar. Mulai dari mawar, anggrek, lily, aster, krisan, dan lainnya. Namun, Aster dan mawar adalah dua jenis yang mendominasi pasar ini.

Aroma segar dari berbagai jenis bunga sudah tercium wangi saat berada di pintu masuk. Warna-warni bunga tertata sedemikian rupa menghiasi tiap sudut ruangan. Para pedagang dengan ramah menawarkan keindahan masing-masing bunganya.

Hari valentine yang kini tinggal menghitung hari membuat para pedagang menyiapkan stok bunga jauh lebih banyak dari hari biasanya. Salah satu bunga yang menjadi primadona di hari valentine adalah mawar.

Mawar sendiri menurut beberapa orang dianggap sebagai simbol cinta, ungkapan perasaan sayang, serta sikap romantis. Tak heran, menyambut hari Valentine permintaan mawar sangat tinggi dan harganya pun melonjak hingga 300%.

“Biasanya harga mawar Rp20 ribu per 20 tangkai, tapi menjelang hari valentine, harga bunga bisa mencapai Rp80 ribu sampai Rp120 ribu per 20  tangkai," ucap Jali salah satu pedagang  mawar, selasa (6/2).

Tak hanya mawar, harga bunga lain juga terdongkrak naik, walau tak sehebat mawar, misalnya bunga aster dan krisan.

Meski begitu, pasar bunga Rawa Belong tak pernah kehilangan pembeli setianya. Seperti Selvia, perempuan berusia 24 tahun ini mengaku telah menjadi pembeli bunga di pasar tersebut sejak 4 tahun lalu.

“Belanja bunga di pasar ini asik banget. Pertama, harga bunga di pasar ini relatif murah dibanding toko-toko bunga lainnya. Meskipun menjelang hari valentine harga sudah naik, tapi masih bisa dijangkau dengan kantong. Kedua, tempatnya nyaman dan cukup bersih, ” ujar Selvia ramah.

Bagi pengunjung yang tak memiliki keahlian merangakai bunga, tak perlu khawatir, di pasar ini juga menyiapkan jasa merangkai bunga. “Setiap jasa merangkai biasanya kami tarifkan harga sekitar Rp 20 ribu,” ujar Solihin yang sudah tujuh tahun menggeluti bisnis bunga.

Sebaiknya, pengunjung datang ke pasar bunga ini ketika bunga-bunga dari penjuru daerah berdatangan dan mahkota bunga masih segar, yakni setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu, pukul 06.00-09.00 WIB dan 14.00-18.00 WIB. 


(NA)

Koleksi The Beatles Terlengkap di Asia Tenggara Ada di Tangsel


Anda penggemar The Beatles? Anda tidak usah terbang ke Inggris untuk menjumpai segala pernak-pernik yang berhubungan dengan band legendaris tersebut. Mulai dari merchandise, pita rekaman, album kaset, hingga instrumen musik yang dipakai The Beatles, bisa anda jumpai di “Rumah Beatles”.

Bertempat di Serpong Park Blok G1 No 33, Jalan Lengkong Raya, Kelurahan Jelupang, Tangerang Selatan ini, merupakan museum mini The Beatles satu-satunya yang ada di Indonesia.

Rumah Beatles sendiri tidak hanya dikemas dalam bentuk museum yang memajang segala pernak-pernik The Beatles, tapi sekaligus menjadi toko online dan offline yang menjual segala macam hal yang berhubungan dengan The Beatles.

Jangan salah, beberapa miniatur yang dibuat Arfan Hidayat sebagai pemilik ini tidak hanya dijual di dalam negeri, tapi juga sudah melintas ke beberapa negara.

Bermula dari pembuatan miniatur alat-alat musik itulah, Arfan memulai bisnis merchandise The Beatles secara professional. Sosok pria kelahiran Makassar empat puluh tahun lalu itu dikenal tidak hanya sebagai kolektor pernak-pernik The Beatles, melainkan sebagai pemain musik yang memainkan lagu-lagu The Beatles dan sampai sekarangpun ia dikenal masih aktif bermain band dengan grup musiknya yang bernama Fourbeat.

Ditemui di Rumah Beatles, Arfan bercerita banyak mengenai awal mulai berdirinya Rumah Beatles. “Awalnya, Rumah Beatles ini dimulai dari saya seorang. Namun setelah melihat perkembangannya saat ini akhirnya menarik tiga anggota baru,” kata Arfan kepada angkringanwarta.

Lanjutnya, perajin-perajin lokal Indonesia turut mendukung  Rumah Beatles.  “Saat ini saja sudah di dukung perajin kulit dari Garut, perajin resin dari Bandung, perajin suvenir dari Bogor, dan perajin aksesori dari Tangerang,” jelasnya.

Dukungan juga terus berdatangan dari organisasi pencinta The Beatles dari Bandung, yaitu Bandung Beatles Fans Club (BBFC) serta dukungan lannya berasal dari berbagai kelompok, komunitas, dan pencinta The Beatles di Facebook.

Arfan menjelaskan, koleksi Rumah Beatles memang masih belum bisa dikatakan sebagai terlengkap di dunia, tapi bisa dikatakan sebagai yang terlengkap di Indonesia, bahkan bisa dikatakan Terlengkap di Asia Tenggara.

Karena menurut Arfan, beberapa tanggapan dari para senior musisi dan pencinta The Beatles Indonesia yang sering datang ke tempatnya menyebut Rumah Beatles merupakan Terlengkap di Asia Tenggara. “Dari keterangan para senior dan setahu saya setelah menjelajah berbagai negara, mungkin di Asia Tenggara Rumah Beatles masih yang terlengkap koleksinya,” kata Arfan.

Ia menambahkan, khusus peralatan musik yang dikoleksi oleh Rumah Beatles semuanya didatangkan dari luar negeri dengan cara pemesanan langsung. Biasanya dengan menitip beli dengan bantuan dari teman-temannya yang sering bolak-balik dari dan ke luar negeri. Salah satu orang yang sering mendukung Rumah Beatles dalam hal pengadaan peralatan musik The Beatles ini adalah Hanna McGanzel, bassist KoesBeat Band.

“Saat ini Rumah Beatles juga menerima jika ada yang ingin menjual atau menitip jual baik peralatan musik The Beatles maupun memorabilia The Beatles,” katanya.

Meski Rumah Beatles baru resmi berdiri pada 16 Juli 2011, koleksi Arfan sudah sangat lengkap, mulai dari miniatur alat musik The Beatles, kaus dan pakaian, buku sejarah dan musik The Beatles hingga album kaset, dan piringan hitam (PH).

Selain itu, beberapa alat musik yang mirip dimainkan The Beatles, seperti gitar Rickenbacker bertanda tangan John Lennon, gitar Gretsch George Harrison, bas Hofner yang identik dengan Paul McCartney, hingga drum set Ludwig yang kerap diidentikkan dengan Ringo Starr juga ada di Rumah Beatles.


(Ahmad)

Menyusuri Museum Joang '45


Oleh Ardi Wahyudi*

Apa pendapat anda jika mendengar kata "Museum"? Sepi? Gelap? Horor? atau membosankan? Hmmm, sebagian mungkin benar dan itu kembali kepada persepsi kita masing-masing. Dan maksud saya membuat ini, semoga saja dapat menambah perspektif anda tentang Museum.

Sebenarnya tulisan ini punya interval yang cukup lama dengan kunjungan saya ke museum yang akan saya bahas. Well, saudara-saudara, Museum yang saya kunjungi adalah Museum Joang 45



Museum ini terletak di Jalan Menteng Raya No.31 Jakarta Pusat (berhubung saya bukan orang Jakarta, jadi saya awam tentang rute dari-dan-menuju kesini :D). Gedung ini merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi eskalasi politik ketika zaman penjajahan Belanda maupun Jepang. Pada tahun 1938, seorang pengusaha Belanda bernama LC Schomper mendirikan sebuah hotel yang bernama Schomper 1 di daerah Menteng Raya. Hotel ini dibangun khusus bagi pejabat tinggi Belanda, pengusaha asing, dan pejabat pribumi.

Ketika Jepang menjajah Indonesia, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia dan dijadikan asrama dan tempat pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia. Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini Hotel Schomper 1 kemudian diganti dengan nama Gedung Menteng 31. Seiring Perkembangan waktu pada tanggal 19 Agustus 1974, setelah melalui serangkaian perbaikan dan renovasi, Gedung Menteng 31 diresmikan sebagai Museum Joang 45 oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.


Retribusi masuk museum ini pun tidak terlalu mahal. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp2000, mahasiswa Rp1000, dan anak-anak Rp600. Namun jika anda datang dengan rombongan (minimal 20 orang), tarifnya akan berubah menjadi lebih murah yakni dewasa Rp1500, mahasiswa Rp750, dan anak-anak Rp500.


Waktu kunjungan saya kala itu adalah Ahad 18 Maret 2012. Cukup miris juga melihat keadaan karena siang itu hanya saya yang menjadi pengunjung padahal saat itu akhir pekan. Mungkin saya datang di saat "kurang beruntung".


Setelah membayar tiket masuk, kita akan mulai menjelajah perjalanan bangsa ini mulai dari status sebagai Hindia Belanda hingga era Pergerakan Nasional. Yang cukup menarik adalah penyajian display serta tata ruang di museum ini dikondisikan berdasarkan urutan kronologi perjuangan bangsa ini dengan mengikuti arahan dari tanda panah yang disediakan.


Ruangan awal yang kita masuki adalah ruangan sebelah kiri setelah pintu masuk. Di ruangan ini ditampilkan lukisan-lukisan dengan pembahasan fakta sejarah kala itu, beberapa koleksi museum, serta lagi-lagi yang cukup menarik adalah terdapat LCD display yang menayangkan dokumenter perjuangan. Namun sayang, saya tidak menyimak tema apa yang direkam dalam dokumenter tersebut.



Dok. Pribadi

Lalu berlanjut ke ruangan berikutnya yang berseberangan dengan ruangan pertama. Sepanjang "perjalanan" banyak sekali koleksi museum yang sangat sayang untuk diabaikan. Diantaranya:





Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa ketika era penjajahan Jepang. Propaganda dengan beragam media adalah salah satu senjata ampuh untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Namun ketika penjajahan Belanda berakhir dan kekuasaan diserahkan kepada Jepang melalui Perjanjian Linggarjati, diopinikan bahwa Jepang akan menjadi "penolong". Ini bisa dilihat dengan poster-poster propaganda yang sangat elok secara bahasa. Namun kenyataan setelahnya, ungkapan yang tepat mungkin "setelah lolos kandang macan malah masuk kandang buaya".

Satu hal yang unik adalah senjata yang digunakan oleh Tentara Pelajar Indonesia (TRIP) adalah rantai sepeda dan lambang yang digunakan adalah:






Benar-benar menggambarkan semangat pelajar yang berjiwa muda dan memberontak. Mungkin semangat ini masih dibawa oleh segelintir pelajar kita dengan adanya tawuran, namun yang membedakan, TRIP berjuang untuk kepentingan bangsa namun oknum pelajar sekarang untuk kepentingan semu yang tidak pernah jelas alasannya.

Sebenarnya masih banyak lagi koleksi-koleksi menarik untuk disimak, dihayati, dan dimaknai secara mendalam di museum ini. Namun agar tidak menurunkan nilai promosinya, maka saya tidak jabarkan semua.


Banyak sekali hikmah yang saya dapat dari museum ini mulai dari sisi yang ironis, membuka wawasan, dll. Terakhir pesan yang sangat "dalam" dalam memaknai sejarah dan museum terwakilkan oleh relief di bawah ini:






*Penulis adalah Mahasiswa UIN Jakarta / @deewahjoedi

Jenguk si Putri Ikan, Pulau Samosir

Oleh Maliya*

Berencana untuk berlibur cukup panjang dan sedikit berbeda, dimana anda ingin menikmati waktu luang anda dengan leluasa. Baik itu sendiri, bersama pasangan ataupun keluarga. Kenapa tidak untuk berkunjung ke Propinsi Sumatera Utara. Berlibur sekaligus menyusuri jejak sejarah dan menengok legenda dongeng si Putri Ikan ke Pulau Samosir.

Terletak di tengah Danau Toba, Provinsi Sumatera Barat. Secara ilmiah Danau Toba adalah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100Km dan lebar 30Km, dan tercatat sebagai salah satu danau terbesar di Asia Tenggara.

Menurut sejarah, ledakan supervolcano danau toba yang terjadi 73.000-75.000 tahun lalu menyebabkan kematian massal dan kepunahan beberapa spesies kehidupan. Bukti DNA menunjukan bahwa letusan vulkanik ini menuyusutkan jumlah manusia hingga 60% dari jumlah populasi manusia di bumi ketika itu.

Sedang menurut legenda asal usul yang sering kita dengar, awal mula Danau Toba berawal dari kemarahan si putri ikan kepada suaminya yang telah memarahi anaknya dan melanggar sumpah untuk tidak mencercanya. Hemn... jauh berbeda dan menakjubkan bukan?

Untuk sampai di Pulau Samosir, Anda bisa menempuhnya dengan perjalanan darat dan udara. Dari Jakarta misalnya Anda bisa menggunakan jasa penerbangan dengan biaya yang cukup terjangkau. Dengan catatan Anda merencanakan perjalanan anda jauh-jauh hari. Dalam waktu-waktu tertentu, maskapai penerbangan seperti Citylink, Air Asia dan Lion Air sering kali membuka penerbangan promosi dengan kisaran harga Rp. 200.000,- sd Rp. 500.000,-/

Nah, sekarang saya akan mengajak Anda untuk menuju ke Pulau Samosir.

Sesampainnya di bandara Polonia-Medan lebih baik Anda istirahat sejenak dahulu. Menurut saya, bandara Polonia tidak terlalu mengasyikan. Kesan pertama yang saya rasakan ketika sampai di Medan adalah cuacanya yang panas dan hujan besar yang turun tiba-tiba. Tapi jangan panik, santai saja. Sebab hal pertama yang harus anda lakukan adalah mencari armada yang bisa mengantarkan anda menuju Samosir.

Tips dari saya, abaikan dengan sopan tawaran para supir taksi yang datang menghampiri anda. Mereka cenderung menawarkan harga yang mahal dan kadang sebagian dari armada taksi ini tidak mau memakai argo.

Rekomendasi dari saya, Anda bisa menggunakan jasa Paradep Taksi. Di Medan Paradep taksi ini cukup dikenal sebagai 'Taksi Gelap'. Kalau menurut saya, mungkin lebih tepat manajemen Paradep ini menamai dirinya sebagai Travel. Karena, meski sebutannya taksi Paradep ini bukanlah armada seperti taksi kebanyakan yang berpenumpang 1-3orang. Bukan. Melainkan mobil Inova yang berkapasitas sekitar 8 orang.

Anda bisa meminta untuk di jemput di Bandara dan mengantarkan anda langsung ke Prapat Siantar. Tarif yang dikenakan oleh Paradep ini kisaran Rp. 60.000 - Rp 100.000,- (Tahun 2011 saya mendapatkan harga Rp. 60.000). Perjalanan dari bandara menuju Parapat kurang lebih akan memakan waktu sekitar 8jam.

Sepanjang perjalanan menuju Siantar-Parapat, Anda bisa menikmati pemandangan kota Medan dan selanjutnya anda akan menemui hutan-hutan lebat, dan perkampungan Padang. Jalur perjalanan yang berkelok-kelok bisa membuat kondisi perut tidak kompromi, jadi disarankan untuk mengkonsumsi obat seperti; antimo atau waisan, dll agar perjalanan anda menyenangkan.

Mendekati pulau Siantar, Anda bisa menikmati pemandangan perkebunan kelapa sawit yang luas-luas dan panjang. Dan melihat betapa kayanya alam Indonesia.

Sampai di Parapat anda tinggal menyebrang dengan kapal fery menuju Samosir. Harga tiket kapal fery cukup murah Rp. 7000/org. Sementara untuk tempat menginap, rekomendasi saya adalah hotel Marina. Anda bisa minta diantar langsung menuju hotel dengan fery. Kisaran harga di hotel Marina antara Rp. 60.000 sd Rp. 120.000/2Org disini Anda bisa menikmati langsung indahnya Danau Toba. Untuk yang hobi berenang pastinya Anda tidak akan melewati kesempatan untuk menenggelamkan tubuh Anda. Dan jangan heran, kalau airnya sangat dingin.

Sementara untuk menikmati wisata Anda di Samosir Anda bisa menyewa Sepeda motor untuk berkeliling. Tarif sewa sekitar Rp 40.000

Kemana saja Anda selama di Samosir?


1. Makam Raja-Raja Sidabutar

Dari Marina Anda bisa menempuh perjalanan selama 30Menit. Sementara untuk menuju Makam, Anda diharuskan untuk berjalan kaki melewati jalan setapak kecil.

Sesuai kepercayaan setempat di zaman itu, jenazah tidak dimakamkan di tanah, melainkan harus di dalam batu.

2. Taman Buaya

Tempat ini dikenal sebagai kawasan penangkaran buaya terbesar di Medan. Disini Anda bisa melihat lebih dari 2.000 ekor buaya yang panjangnya bisa mencapai 6 meter!.

3. Air Terjun Sipisopiso

Untuk menyusurinya Anda bisa melewati ratusan anak tangga kecil, berbaru dan licin. Jadi Anda harus hati-hati untuk mendekati air terjun itu.

Penulis adalah penjelajah alam, lebih sering menjelajah alam pikirannya

Gores Kekejaman Belanda di Museum Fatahillah

Oleh Amelia Fitriani

Gedung Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan wisata Kota Tua dikenal sebagai pusat pemerintahan Batavia (kini Jakarta) semasa pendudukan Belanda. Namun selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan, gedung yang lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah itu dahulunya juga digunakan sebagai penjara. Dan sisa-sisa penjara pemerintah Belanda tersebut masih dapat dijumpai di dalam gedung museum.

Sebagai pusat pemerintahan, Gedung ditempati sebagai kantor Dewan Kota Praja dan Dewan Keadilan. Masing-masing, memiliki penjaranya sendiri. Penjara di bawah wewenang Dewan Keadilan salah satunya adalah di bagian Timur gedung Balai Kota (sekarang menjadi kantor pengurus kota tua) dan dipakai untuk tahanan VOC. Halaman belakang dan beberapa gedung di sampingnya juga dipakai untuk penjara dan rumah penjaga.

Selain ruang penjara tersebut, ada juga ruang penjara di bawah wewenang Dewa Kota Praja yang disebut dengan doncker gat atau lubang gelap. Penjara lainnya, berupa sebuah sel di bawah gedung bagian belakang yang lebih dikenal dengan ‘penjara bawah tanah’. Penjara bawah tanah tersebut berbentuk setengah lingkaran dan tingginya tidak sampai 1,5 meter. Sehingga orang dewasa harus menuduk jika memasuki ruang penjara.

Di dalam penjara terdapat beberapa batu bola besar yang terikat dengan rantai. Fungsinya adalah untuk mengikat kaki tahanan agar tidak dapat melarikan diri. Ukuran penjara tidak terlalu besar, dan udara di dalam pun lembab. Terdapat lima penjara bawah tanah. Dua penjara berada di bawah wewenang Dewan Keadilan, sementara tiga lainnya di bawah wewenang Dewan Kota Praja.

Orang-orang yang ditahan dalam penjara tersebut bukanlah orang yang sudah diadili, melainkan yang sedang menunggu proses pengadilan (menunggu putusan hukum). Jumlah tahanan yang meringkuk di dalam penjara sering melebihi 300 orang. Hal itu menyebabkan kondisi kesehatan penjara ini sangat buruk. Banyak tahanan yang sudah meninggal sebelum perkara mereka diajukan ke meja pengadilan. Sebagian besar korban menderita tifus, kolera, dan disentri.

Pada abad ke 17 dan 18 ada beberapa bentuk hukuman yang diterapkan bagi para tahanan, yaitu hukuman mati, hukuman siksa, dirantai, kerja paksa, hukuman denda dan hukuman pengasingan. Tetapi sampai abad ke 19 tidak ada hukuman penjara. Penjara ini ditutup pada tahun 1846.

Orang-orang yang ditahan antara lain datang dari kalangan pejuang, pemberontak, budak belian, maupun orang yang berhutang. Salah satu tawanan yang pernah ditawan di penjara tersebut adalah Untung Suropati, seorang budak belian pedagang Pieter Cnoll. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang berhasil meloloskan diri dari penjara ini pada sekitar tahun 1670. Kemudian ia memberontak dan melawan orang belanda. Juga terlibat dalam pembunuhan Captain Tack pada tahun 1686 di Kraton Kartosuro. Kemudian ia mempertahankan diri di kerajaan kecil di daerah pasuruan hingga akhir hayatnya tahun 1706.

Selain itu pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro, pahlawan Perang Jawa 1825-1830 ditahan hampir satu bulan di penjara tingkat dua dalam sayap gedung sebelah timur sebelum akhirnya dia diasingkan ke Manado. Pangeran diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda di Magelang secara khianat.

Saat ini, pengunjung masih dapat melihat sisa kekejaman pemerintah Belanda jaman dahulu. Penjara bawah tanah juga masih dapat dilihat secara langsung dan tidak jarang menjadi objek untuk berfoto para pengunjung yang datang karena bentuknya yang menarik. Secara keseluruhan keadaannya masih terawat dengan baik. Namun di beberapa sudut penjara terdapat coretan-coretan dari tangan-tangan usil yang tidak bertanggung jawab.***

Belajar dari Situ Gintung

Sore itu, pukul 15.30 WIB, orang-orang mulai berdatangan. Antara mereka ada yang sekadar meluapkan hobi memancing, bermain biola, habiskan waktu dengan bencanda bersama teman-teman, memandu kasih. Para pengunjung juga tak usah repot untuk urusan air dan makanan, sebab sudah ada para penjual makanan.

Kurang lebih begitu suasana Situ Gintung (16/2). Gintung sekarang tentu berbeda dengan beberapa tahun silam, saat Situ Gintung jebol, sebuah tragedi yang meluluhlantahkan bangunan hingga melenyapkan nyawa. Tepatnya peristiwa itu terjadi, 27 Maret 2009 Jum’at dini hari.

Gintung waktu itu, menimbulkan rasa mencekam, horor, menakutkan. Namun seperti dalam dunia sulap, pesulap dengan kemampuannya menyulap merubah Gintung menjadi ramai kembali layaknya sebelum tragedi terjadi, bahkan mungkin lebih ramai.

Situ Gintung yang terletak di perbatasan antara Tangerang Selatan (Tangsel) dengan Daerah Khusus Ibukota (DKI). Yang tepatnya berada di kawasan Desa Cireundeu, Kecamatan Ciputat Timur. Hanya dengan mengucurkan anggaran yang dipajang di papan info tercatat sebuah anggaran mencapai Rp 91.773.756.000 yang bekerjasama dengan PT. Nindya Karya (Persero), PT. Bumi Karsa KSO, anggaran yang diambil dari pajak.

Sebuah harga yang mungkin cukup realistis untuk menjadikan Situ Gintung saat ini, sebuah bendungan yang nampak lebih kokoh dengan batu-batuan dan mesin pembuka air, tembok-tembok-tembok yang membentang sebagai pembatas antara air dan dara dengan warna putih dengan desertai coretan-coretan tangan jahil, sisa-sisa puing bangunan diterpa aliran air berubah menjadi lapangan, dan di tengahnya terdapat lempengan-lempengan berwarna perak layaknya tugu.

Namun dari suasana tersebut, sepertinya tak menunjukkan sebuah tanda, bahwa pernah terjadi tragedi peristiwa yang menewaskan hingga mencapai 100 orang. Entah karena dengan alasan bahwa hidup terus berlalu, maka lupakan sejarah. Sebab kita hidup ke depan, atau sebenarnya sudah terdapat tanda, cuma tak terlihat saja.

Tapi, setidaknya Soekarno pernah mengungkapkan, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya."

Begitu pula seorang budayawan pernah berujar, "Setiap kejadian baik kecil maupun besar perlu dibangun sesuatu yang menunjukkan peristiwa tersebut. Hal itu, tak lain bertujuan bukan hanya sebagai pengingat, tapi membuat kita menyadari bagaimana kita harus bersikap terhadap alam?" Sebuah ungkapan yang begitu saja terlintas dalam benak saat menyaksikan tembok-tembok penuh dengan coretan-coretan.

Dan kala meninggalkan tempat itu, terasa kesukaran untuk membuang gelas plastik sisa kopi hitam yang kami nikmati.

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta